Jakarta — GoTo Cetak Laba, Ojol Dapat Tarif Dasar, TikTok Masuk Dapur Anda
Langit Jakarta pagi itu sedikit lebih cerah dari biasanya, setidaknya bagi para pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Di lantai perdagangan, angka-an
Langit Jakarta pagi itu sedikit lebih cerah dari biasanya, setidaknya bagi para pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Di lantai perdagangan, angka-angka hijau berkedip seolah merayakan sesuatu yang sudah lama dinanti: laba bersih pertama perusahaan hasil merger dua unicorn legendaris Indonesia ini. Momen itu bukan sekadar statistik keuangan; ia adalah penanda berakhirnya satu era dan dimulainya babak baru bagi ekonomi digital nasional. Di tempat lain, para pengemudi ojek online akhirnya bisa sedikit bernapas lega setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan aturan tarif dasar yang lebih jelas. Sementara itu, di balik layar ponsel jutaan orang, TikTok diam-diam menyelinap ke ranah yang selama ini dikuasai GoFood dan GrabFood: pemesanan makanan siap saji. Tiga peristiwa ini, meski tampak terpisah, sesungguhnya merajut satu narasi besar — ekonomi digital Indonesia akhirnya beranjak dewasa.
GoTo: Dari Bakar Uang ke Mesin Uang
Selama bertahun-tahun, narasi yang menyelimuti raksasa teknologi domestik adalah "pertumbuhan dengan segala cara" — growth at all costs. GoTo, yang lahir dari merger Gojek dan Tokopedia pada 2021, adalah potret paling sempurna dari strategi agresif itu. Mereka membakar miliaran dolar untuk subsidi, diskon, dan promosi demi mengunci pangsa pasar. Tapi semua berubah pada kuartal pertama tahun ini ketika perseroan mengumumkan laba bersih perdana, menyentak pasar dan memicu reli saham yang jarang terlihat.
"Ini bukan lagi tentang siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling sehat secara finansial. GoTo telah menunjukkan bahwa model bisnis platform bisa mencapai profitabilitas jika disiplin dalam eksekusi," kata Andrias Ekoyuono, analis teknologi dari BRI Danareksa Sekuritas, saat dihubungi Apaberita.com.
Laba itu datang dari kombinasi efisiensi logistik, pengurangan biaya pemasaran, dan fokus baru pada layanan bernilai tambah tinggi seperti GoPay dan GoTo Financial. Pendapatan bersih mereka tumbuh 24% secara tahunan, sementara beban pokok pendapatan berhasil ditekan. Ini bukan hanya kemenangan bagi GoTo, tetapi sinyal bagi seluruh industri bahwa investasi besar-besaran di sektor digital akhirnya mulai membuahkan hasil. Para pendiri dan investor yang telah menanamkan uang sejak 2015 mungkin bisa tidur lebih nyaman malam ini.
Ojol Dapat Lantai: Akhir dari Perlombaan ke Bawah
Berpuluh kilometer dari kantor pusat GoTo, percakapan tentang profitabilitas mungkin terasa asing bagi Haris, 38 tahun, yang sudah lima tahun mengaspal sebagai pengemudi ojek online. Baginya, yang terpenting adalah kepastian pendapatan. Selama ini ia akrab dengan ketidakpastian: tarif yang tiba-tiba berubah, potongan aplikator yang tak menentu, dan kompetisi harga antarplatform yang membuat ongkos perjalanan terasa kian murah — kadang di bawah ongkos bus kota. Tapi sekarang, pemerintah turun tangan.
Kementerian Perhubungan melalui Keputusan Menteri Nomor KP 68 Tahun 2026 resmi menetapkan tarif batas bawah (lantai) dan batas atas untuk layanan angkutan sewa khusus roda dua, termasuk ojek online. Kebijakan ini menetapkan biaya jasa minimal sebesar Rp2.200 per kilometer, naik dari sebelumnya Rp2.000, untuk zona I yang meliputi Jabodetabek. Bagi Haris, ini adalah secercah keadilan.
"Dulu kita seperti disetir aplikasi. Sekarang setidaknya ada jaminan tidak boleh di bawah harga mati. Ini semacam pengakuan bahwa kami juga manusia, bukan sekadar algoritma," ujarnya saat ditemui di kawasan Sudirman, Kamis pagi.
Pengamat transportasi Darmaningtyas menyambut baik langkah itu meskipun mengingatkan bahwa implementasi di lapangan tetap jadi kunci. "Regulasi ini memberi lantai agar tidak terjadi eksploitasi. Tapi pengawasan harus ketat, terutama di kota-kota kecil di mana aplikator kadang bermain harga di luar ketentuan," jelasnya. Aturan ini sekaligus mengakhiri babak panjang tarik-ulur antara platform, pengemudi, dan regulator, dan menandai perubahan paradigma bahwa ekonomi digital tidak bisa terus meraih untung di atas kerugian mitra.
TikTok Datang Makan Siang: Siapa yang Was-was?
Jika GoTo akhirnya bisa menikmati hidangan penutup berupa laba, maka ada pihak lain yang justru datang untuk makan siang. TikTok, raksasa media sosial yang sudah mengukuhkan dominasinya di ranah belanja lewat TikTok Shop, kini merambah ke layanan pesan-antar makanan. Fitur "TikTok Kitchen" atau layanan serupa dikabarkan mulai diuji coba di Jakarta, memungkinkan pengguna memesan makanan langsung dari video pendek yang sedang viral.
Bagi para pemilik warung makan dan cloud kitchen, kehadiran TikTok adalah angin segar sekaligus ancaman. Rosa, pemilik akun kuliner viral dengan 1,2 juta pengikut, langsung merasakan lonjakan pesanan setelah videonya tentang sambal matah ayam geprek ditonton 4 juta kali. "Dulu orang lihat video terus cari di aplikasi ojek online. Sekarang, tombol pesan langsung muncul di bawah video. Konversinya luar biasa," katanya.
Tapi bagi GoFood dan GrabFood, ini adalah perang baru yang melelahkan. Mereka harus bertarung melawan algoritma raksasa dengan basis pengguna setengah miliar orang. TikTok tidak perlu membangun ekosistem pengemudi dari nol — mereka bisa bekerja sama dengan penyedia logistik pihak ketiga, sambil terus menyedot perhatian pengguna lewat konten yang adiktif. Analis memperkirakan TikTok bisa merebut 10-15% pangsa pasar pesan-antar makanan dalam dua tahun pertama jika strateginya berjalan mulus.
"TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan. Mereka adalah super app yang sedang dibangun ulang. Setiap fitur baru adalah pisau yang mengiris pangsa pasar pemain lama," kata Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Ekonomi Digital Dewasa: Apa Artinya bagi Kita Semua?
Tiga potret ini — laba, regulasi, dan kompetisi baru — bukanlah kisah yang terisolasi. Mereka adalah cerminan dari sebuah sektor yang dulu liar, penuh euforia, dan sering abai terhadap fundamental bisnis serta kesejahteraan mitra. Kini, perlahan tapi pasti, semuanya bergerak menuju keseimbangan baru. Platform dituntut mencetak laba, mitra mendapat perlindungan, dan pendatang baru membawa inovasi yang memaksa pemain lama untuk terus berbenah.
Bagi konsumen, mungkin ini berarti akhir dari era promo gila-gilaan yang membius. Tapi sebagai gantinya, kita akan mendapatkan ekosistem yang lebih berkelanjutan, di mana kualitas layanan dan kepastian menjadi mata uang baru. Indonesia tidak lagi sekadar pasar potensial; ia kini adalah laboratorium ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang menunjukkan bagaimana pertumbuhan masif bisa diterjemahkan menjadi bisnis yang sehat dan manusiawi.
Di tengah semua riuh rendah ini, satu hal pasti: ketika tiga raksasa — super-app, regulator, dan raksasa media sosial — menari bersama, langkah siapa yang paling pasti baru akan terlihat di tikungan berikutnya.
[SOCIAL_TWEET]: Era bakar uang usai. GoTo cetak laba pertama, ojol dapat jaminan tarif, dan TikTok siap mengguncang pasar kuliner Indonesia. Ekonomi digital kita mulai dewasa.[SOCIAL_TG]: Setelah bertahun-tahun, GoTo cetak laba. Ojol kini punya tarif lantai. Lalu TikTok mulai masuk ke bisnis kuliner. Apakah ini pertanda ekonomi digital kita sudah dewasa? Baca selengkapnya di sini.
Comments (0)