Industri Tekstil Nasional Tertekan Impor dan Biaya Produksi
JAKARTA — Industri tekstil dan fashion nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya produk impor serta kenaikan biaya produksi. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan utilisa
JAKARTA — Industri tekstil dan fashion nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya produk impor serta kenaikan biaya produksi. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan utilisasi pabrik tekstil turun hingga 60% pada kuartal pertama 2025, atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 75%. Kondisi ini memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya tersebut.
Penurunan Kinerja dan Dampak PHK
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional pada 2024 tercatat US$ 11,8 miliar, menurun 8% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, impor tekstil justru naik 12% dalam setahun terakhir. Ketua API, Jemmy Kartiwa, mengungkapkan bahwa lebih dari 20.000 pekerja sektor tekstil telah dirumahkan sejak awal tahun 2025. “Biaya gas dan listrik yang tinggi membuat produk lokal kalah bersaing dengan produk impor dari Tiongkok dan Vietnam,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3/2025).
Faktor Penyebab dan Upaya Pemerintah
Penyebab utama penurunan ini meliputi:
- Banjir produk impor ilegal yang diperkirakan mencapai 30% dari total konsumsi nasional.
- Biaya logistik dan energi yang tidak kompetitif.
- Stagnasi inovasi produk lokal di pasar global.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berupaya menekan impor dengan memperketat penerapan SNI dan menaikkan bea masuk untuk produk tertentu. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa pihaknya juga mendorong hilirisasi serat alam dan sintetis dalam negeri. “Kami targetkan utilisasi pabrik bisa kembali ke 80% pada akhir 2026 dengan program restrukturisasi mesin dan insentif fiskal,” kata Agus dalam keterangan resmi.
Peluang di Sektor Fashion Berkelanjutan
Di tengah tekanan, segmen fashion berkelanjutan (sustainable fashion) menjadi secercah harapan. Data Indonesia Fashion Chamber (IFC) mencatat pertumbuhan ekspor produk fashion ramah lingkungan sebesar 25% pada 2024, dengan nilai mencapai US$ 320 juta. Desainer lokal mulai mengadopsi bahan daur ulang dan pewarna alami untuk menembus pasar Eropa yang ketat regulasinya. “Ini momentum bagi industri TPT Indonesia untuk bertransformasi menjadi pemain di rantai pasok global yang lebih bernilai tambah,” ujar Ketua IFC, Ali Charisma.
Penutup
Para pelaku industri berharap pemerintah segera merealisasikan kebijakan perlindungan pasar domestik dan insentif energi. Tanpa langkah konkret, daya saing tekstil nasional dikhawatirkan semakin tergerus. Sementara itu, diversifikasi ke pasar fashion ramah lingkungan dinilai sebagai strategi jangka panjang yang perlu didukung semua pemangku kepentingan.
Berdasarkan data dan informasi terkini, perkembangan di sektor ini menunjukkan tren yang positif dan patut dicermati oleh para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
Comments (0)