Industri Alas Kaki Tumbuh 11,30 Persen dan Serap 966 Ribu Tenaga Kerja
JAKARTA — Kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki membukukan pertumbuhan sebesar 11,30 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal II 2026. Sekretaris Jenderal Asosi...
JAKARTA — Kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki membukukan pertumbuhan sebesar 11,30 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal II 2026. Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda menyatakan capaian tersebut jauh melampaui kinerja kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 5,28 persen.
Billie menegaskan, laju pertumbuhan dua digit itu menjadi bukti ketangguhan sektor alas kaki nasional di tengah gejolak perdagangan dunia. Pernyataan tersebut disampaikannya melalui keterangan tertulis pada Kamis (6/8).
"Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global," ujar Billie dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8).
Ia menilai capaian tersebut merupakan modal penting bagi para pelaku usaha untuk membangun optimisme, menjaga keberlanjutan investasi, serta memperluas penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.
Pertumbuhan Kumulatif Semester I 2026
Berdasarkan data yang dihimpun Aprisindo, secara kumulatif kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 8,25 persen sepanjang semester I 2026. Adapun secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq), sektor ini masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,72 persen.
Tren positif tersebut, menurut Billie, mencerminkan konsistensi kinerja industri pengolahan nasional meski menghadapi tekanan dari sisi permintaan global maupun kebijakan perdagangan sejumlah negara mitra.
Penyerapan Tenaga Kerja Tembus 966.147 Orang
Dari sisi ketenagakerjaan, kelompok industri kulit dan alas kaki tercatat menyerap sekitar 966.147 tenaga kerja hingga Februari 2026. Jumlah itu bertambah 45.061 orang atau sekitar 4,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, sebanyak 845.511 pekerja atau sekitar 87,5 persen berstatus sebagai tenaga kerja formal, sedangkan sisanya sebanyak 120.636 orang bekerja di sektor informal. Kontribusi kelompok industri ini tercatat sebesar 4,82 persen terhadap keseluruhan tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas.
Billie menyatakan, karakteristik industri alas kaki sebagai sektor padat karya membuat setiap peningkatan produksi berdampak langsung bagi masyarakat di sekitar wilayah industri.
"Industri alas kaki merupakan industri padat karya yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri," ujar Billie.
Ekspor Alas Kaki Menembus USD 7,98 Miliar
Dari sisi perdagangan luar negeri, nilai ekspor alas kaki Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD 7,98 miliar atau meningkat 9,54 persen dibandingkan tahun 2024. Volume ekspor pada periode tersebut tercatat sekitar 601 juta pasang.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas alas kaki menjadi salah satu penyumbang utama surplus perdagangan nonmigas Indonesia dengan Amerika Serikat pada periode Januari hingga Maret 2026, dengan nilai sekitar USD 1,49 miliar.
Capaian tersebut menegaskan posisi alas kaki sebagai salah satu komoditas andalan dalam struktur ekspor nonmigas nasional, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap neraca perdagangan Indonesia.
Realisasi Investasi Melonjak Hampir 70 Persen
Kinerja positif juga terlihat dari sisi penanaman modal. Realisasi investasi kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sepanjang 2025 menembus Rp 25,83 triliun, melonjak hampir 70 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp 15,20 triliun.
Memasuki 2026, tren penanaman modal berlanjut. Pada kuartal I 2026, realisasi investasi di kelompok industri ini telah mencapai sekitar Rp 5,83 triliun.
Billie menyatakan rangkaian data tersebut memperlihatkan peluang pengembangan industri alas kaki nasional yang masih sangat besar ke depan.
"Data menunjukkan bahwa industri alas kaki memiliki peluang yang sangat besar," kata Billie.
Ia menambahkan, keberlanjutan kinerja positif ini memerlukan dukungan kebijakan yang kondusif agar daya saing industri alas kaki nasional tetap terjaga di pasar global, termasuk kepastian regulasi, ketersediaan bahan baku, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Comments (0)