Indonesia Tempati Peringkat 3 Dunia Kasus Kusta, Stigma Masih Bebani Penyintas

Jakarta — Indonesia masih bergelut dengan tingginya angka kasus kusta, menempati peringkat ketiga dunia setelah India dan Brasil. Data terbaru Organisasi K

Jul 12, 2026 - 01:32
0 1
Jakarta — Indonesia masih bergelut dengan tingginya angka kasus kusta, menempati peringkat ketiga dunia setelah India dan Brasil. Data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sepanjang tahun lalu tercatat lebih dari 16.000 penemuan kasus baru di Tanah Air. Di tengah kemajuan pengobatan yang telah tersedia gratis, para penyintas justru harus menghadapi tantangan yang lebih berat: stigma sosial dan diskriminasi yang mengakar. Laporan khusus Apaberita.com kali ini menyajikan kronologi, data, dan kisah para penyintas yang terus berjuang melawan penyakit sekaligus prasangka.

Laporan WHO dan Beban Ganda Indonesia

Berdasarkan Global Leprosy Update yang dirilis WHO pada awal 2025, Indonesia menyumbang sekitar 8 persen dari total 200.000 kasus kusta baru dunia setiap tahunnya. Angka ini menempatkan Indonesia di bawah India yang menduduki posisi pertama dan Brasil di posisi kedua. Meski secara global prevalensi kusta telah menurun drastis berkat terapi multiobat (MDT), Indonesia masih menghadapi kantong-kantong endemis di sejumlah provinsi, seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Data penting: Kementerian Kesehatan mencatat 16.200 penemuan kasus baru sepanjang 2024, dengan proporsi anak-anak mencapai 10,8 persen. Artinya, penularan masih aktif terjadi di level komunitas, melampaui ambang eliminasi yang ditetapkan WHO di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk.

Kronologi Penemuan Kasus dan Respons Pemerintah

Kronologi penelusuran Apaberita.com menunjukkan bahwa tingginya kasus kusta di Indonesia bukanlah fenomena baru, namun perhatian publik kembali tersulut setelah WHO merilis laporan tahunan pada Januari 2025. Berikut alur penting yang terjadi:

  1. 7 Januari 2025: WHO mempublikasikan Global Leprosy Update 2024. Data menyebutkan Indonesia mencatat 16.200 kasus baru, menjadikannya negara ketiga dengan beban tertinggi di dunia. Indikator kecacatan tingkat dua (visible deformity) mencapai 6,3 persen dari kasus baru, menandakan keterlambatan diagnosis.
  2. 15 Januari 2025: Kementerian Kesehatan mengeluarkan respons resmi, mengakui tantangan eliminasi kusta di 108 kabupaten/kota endemis. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular menyatakan program deteksi dini berbasis puskesmas akan diperluas. “Kami mengejar target Indonesia bebas kusta 2030,” tegasnya dalam konferensi pers.
  3. 20 Januari - 7 Februari 2025: Tim peneliti dari Universitas Indonesia merilis studi tentang faktor risiko yang menunjukkan bahwa stigma menjadi hambatan utama. Sebanyak 68 persen responden yang dicurigai kusta enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan.
  4. 12 Februari 2025: Yayasan NLR Indonesia, mitra pemerintah dalam eliminasi kusta, menggelar kampanye “Kusta Bukan Kutukan”. Mereka mendokumentasikan kisah penyintas yang kehilangan pekerjaan, putus sekolah, bahkan diusir dari tempat tinggal.
  5. 23 Februari 2025: Kasus viral di Lamongan: Seorang pria berusia 35 tahun yang telah sembuh total dengan MDT dipaksa meninggalkan desanya. Rekaman video penolakan warga beredar di media sosial, memicu kecaman publik dan intervensi Kementerian Sosial.

Stigma: Luka Kedua yang Tak Kunjung Pulih

Stigma terhadap kusta lahir dari pemahaman keliru yang sudah berabad-abad melekat. Masyarakat kerap mengasosiasikan penyakit ini dengan kutukan, karma, atau penyakit keturunan. Padahal, Mycobacterium leprae adalah bakteri yang menular melalui droplet pernapasan dalam kontak erat dan jangka panjang, bukan melalui sentuhan sesaat atau benda mati. Setelah menjalani terapi MDT selama 6-12 bulan, pasien tidak lagi menular dan dapat hidup normal, termasuk fungsi reproduksi.

Para penyintas yang kami temui menggambarkan stigma sebagai “luka kedua”. Seno (bukan nama sebenarnya), seorang mantan pekerja bangunan di Gresik, harus kehilangan pekerjaan setelah jari-jarinya yang kaku menjadi bahan ejekan mandor. “Saya sudah dinyatakan sembuh tiga tahun lalu, tapi tetap dianggap pembawa penyakit. Istri saya juga dijauhi tetangga,” tuturnya. Pengalaman serupa dialami Sari, remaja 16 tahun di Sumba yang putus sekolah karena teman-teman sekelasnya menolak duduk bersebelahan.

Data penting: Menurut riset NLR Indonesia, 42 persen penyintas kusta di Indonesia pernah mengalami pengucilan sosial dan 17 persen kehilangan mata pencaharian. Tingkat bunuh diri di antara penyintas kusta tiga kali lebih tinggi dibanding populasi umum, menunjukkan beban psikologis yang luar biasa.

Upaya Menuju Indonesia Bebas Kusta 2030

Pemerintah Indonesia telah menandatangani komitmen global menuju eliminasi kusta pada 2030, sejalan dengan peta jalan WHO. Eliminasi diukur dari tidak adanya lagi penularan baru di tingkat kabupaten/kota. Strategi nasional meliputi:

  • Deteksi aktif: Tenaga kesehatan turun langsung ke komunitas endemis untuk menemukan kasus secara dini sebelum terjadi kecacatan permanen.
  • Kemitraan lintas sektor: Kementerian Sosial memberikan bantuan sosial dan rehabilitasi bagi penyintas cacat; Kementerian Ketenagakerjaan mendorong pelatihan keterampilan.
  • Dukungan psikososial: Pemberdayaan kelompok penyintas (self-care group) untuk saling menguatkan dan mengedukasi masyarakat sekitar.

Namun, jalan masih terjal. Anggaran program kusta yang fluktuatif dan prioritas yang kerap tersedot oleh penyakit lain seperti tuberkulosis membuat upaya eliminasi berjalan lambat. Dokter Agung, Kepala Puskesmas di daerah endemis di Sampang, Madura, mengaku kesulitan memobilisasi pasien. “Mereka lebih takut kepada stigma daripada penyakitnya. Kami butuh pendekatan budaya yang melibatkan tokoh agama dan adat.”

Di tingkat global, Indonesia tengah mengajukan proposal pendanaan ke Global Fund untuk mempercepat eliminasi kusta di 2026-2028. Sementara itu, figur publik dan mantan Wakil Menteri Kesehatan telah menyerukan deklarasi bersama untuk menjadikan kusta sebagai isu nasional yang mendesak, sejajar dengan stunting dan TBC.

Kusta sesungguhnya adalah penyakit yang paling mudah disembuhkan di antara penyakit menular kronis. Ironisnya, ketakutan manusialah yang membuatnya terasa lebih mengerikan. Penyintas kusta tidak membutuhkan belas kasihan; mereka membutuhkan kesempatan untuk diterima kembali dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja—sebuah perjuangan melawan bakteri dan prasangka.

[SOCIAL_TWEET]: 🇮🇩 Indonesia masih jadi negara ke-3 dunia dengan kasus kusta tertinggi. Di balik data, para penyintas berjuang melawan stigma: dikucilkan, putus sekolah, dan kehilangan pekerjaan. Padahal, kusta bisa sembuh total dengan obat gratis. Saatnya hapus stigma sebelum eliminasi 2030 🧡 #KustaBukanKutukan #StopStigmaData WHO menunjukkan Indonesia mencatat 16.200 kasus baru pada 2024, dengan 10,8% di antaranya anak-anak. Ironisnya, 42% penyintas di Indonesia pernah mengalami pengucilan sosial. Kusta disebabkan oleh bakteri dan bisa sembuh total dengan pengobatan MDT gratis. Lalu mengapa stigma masih begitu kuat? Baca laporan lengkap Apaberita.com dan mari bersama hapus stigma kusta. 💪 #IndonesiaSehat #StopStigmaKusta[SOCIAL_THREADS]: 🧵 Thread: Indonesia dicap peringkat 3 dunia untuk kasus kusta. Di balik angka, ada luka yang tak terlihat: stigma. Saya mewawancarai penyintas yang sudah sembuh total tapi tetap diusir dari kampung halaman. Padahal, setelah 6 bulan minum obat, kusta TIDAK menular. Ini ceritanya… 🧡 (1/7) WHO rilis data awal 2025: Indonesia sumbang 8% dari 200.000 kasus global. Anak-anak jadi 10,8% dari total kasus baru. Artinya, penularan masih sangat aktif di komunitas. (2/7) Penyebabnya bukan cuma bakteri. Ketakutan dan mitos bikin orang enggan periksa. 68% warga dengan gejala memilih diam karena takut dikucilkan. Akibatnya, mereka baru datang saat jari sudah bengkok atau kelopak mata tak bisa menutup. (3/7) Saya temui Seno di Gresik. Tiga tahun dinyatakan sembuh, tapi tetangga masih menjauh. Istri dia juga ikut dijauhi arisan. “Saya lebih sakit hati daripada sakit kulit,” katanya. Lalu ada Sari, 16 tahun, yang putus sekolah karena teman-teman sekelas menolak duduk sebelahan. (4/7) Fakta medis: Kusta TIDAK menular lewat jabat tangan atau sentuhan biasa. Bakteri M. leprae butuh kontak lama dan erat. Setelah minum MDT 6-12 bulan, pasien tidak lagi menular. Bahkan fungsi reproduksi normal. Tidak ada alasan ilmiah untuk mengucilkan penyintas. (5/7) Mengapa pemerintah belum berhasil? Kantong endemis masih ada di 108 kabupaten/kota. Anggaran fluktuatif. Tapi yang paling berat: mengubah cara pandang masyarakat. Dokter Puskesmas di Madura bilang, “Pasien lebih takut stigma daripada penyakitnya.” (6/7) Target eliminasi kusta 2030 tinggal 5 tahun lagi. Deteksi dini gratis di puskesmas, pengobatan lengkap tanpa biaya. Yang mahal justru memulihkan harga diri orang yang sudah sembuh. Kusta bukan kutukan. Sudah saatnya Indonesia hapus stigma. (7/7) Mari mulai dari hal kecil: hentikan candaan tentang kusta, jangan jauhi tetangga yang punya bercak, dan dukung kampanye #KustaBukanKutukan. Bagikan thread ini agar makin banyak yang paham. 🧡

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User