Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Meningkat Signifikan

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Kementerian Agama merilis data terbaru Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) tahun 2024 yang menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 76,02 poin dari ska

Jul 23, 2026 - 06:24
0 0
Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Meningkat Signifikan

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Kementerian Agama merilis data terbaru Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) tahun 2024 yang menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 76,02 poin dari skala 100. Angka ini naik 2,5 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 73,52. Kenaikan ini mencerminkan semakin kuatnya toleransi dan harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Faktor Pendorong Peningkatan Toleransi

Kepala BPS, Amalia Adininggar, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/12), menjelaskan bahwa peningkatan indeks KUB didorong oleh tiga dimensi utama: toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama. Dimensi toleransi mengalami kenaikan paling tinggi, yaitu sebesar 3,1 poin, diikuti dimensi kesetaraan naik 2,8 poin, dan kerja sama naik 1,9 poin. "Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin mampu menerima perbedaan dan menjalin relasi sosial yang positif lintas iman," ujarnya.

Data BPS juga mencatat bahwa provinsi dengan indeks KUB tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (83,45), disusul Sulawesi Utara (81,23), dan Bali (80,11). Sementara itu, provinsi dengan indeks terendah masih didominasi wilayah konflik seperti Papua (62,34) dan Aceh (64,78). Meski demikian, seluruh provinsi menunjukkan tren perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Contoh Praktik Toleransi di Masyarakat

Di tingkat komunitas, berbagai inisiatif kerukunan terus digalakkan. Di Yogyakarta, misalnya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) rutin mengadakan dialog antarkeyakinan dan kegiatan sosial bersama seperti bakti sosial dan perayaan hari besar keagamaan. "Kami mengadakan pasar murah lintas iman setiap bulan Ramadhan. Semua warga terlibat, tidak memandang agama," kata Ketua FKUB DIY, KH. Ahmad Syarif.

Contoh lainnya terjadi di Jakarta, di mana pemuda dari berbagai latar belakang agama bergabung dalam komunitas “Satu Bangsa†yang fokus pada kegiatan penghijauan dan edukasi multikultural. Mereka menggelar “Festival Toleransi†setiap tahun yang menampilkan seni dan kuliner dari beragam tradisi keagamaan. Kegiatan ini tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain.

Dukungan Pemerintah dan Tantangan ke Depan

Pemerintah terus memperkuat regulasi dan program untuk menjaga kerukunan. Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menegaskan bahwa program “Kampung Moderasi Beragama†telah dijalankan di 514 kabupaten/kota. "Kami ingin moderasi beragama menjadi arus utama. Bukan sekadar toleransi pasif, tetapi aktif menghargai dan bekerja sama," jelasnya.

Meski optimistis, para pengamat mengingatkan tantangan masih ada. Politisasi agama, ujaran kebencian di media sosial, dan konflik lahan sering kali menguji kerukunan. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat 1.200 konten intoleransi dihapus sepanjang tahun 2024. "Peningkatan indeks bukan berarti zero konflik. Ini pekerjaan rumah bersama untuk terus merawat kebhinekaan," ujar sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Imam Prasodjo.

Dengan tren positif ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh kerukunan beragama di dunia. Masyarakat diimbau untuk terus memperkuat dialog, menjauhi stereotip, dan mengutamakan persatuan di atas perbedaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User