Oct 16, 2026
Politik

IHSG Menguat 1,04 Persen, Analis Proyeksi Rebound Terbatas Pekan Depan

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,759 pada perdagangan Jumat (9/10), setelah sebelumnya tertekan koreksi tajam 1,88 persen ke level 6.031,28 pad...

IHSG Menguat 1,04 Persen, Analis Proyeksi Rebound Terbatas Pekan Depan

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,759 pada perdagangan Jumat (9/10), setelah sebelumnya tertekan koreksi tajam 1,88 persen ke level 6.031,28 pada Kamis (8/10). Penguatan tersebut menjadi sinyal awal pemulihan pasar modal domestik, meski sejumlah analis menilai kenaikan itu masih berpotensi bersifat sementara.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyatakan penguatan indeks tersebut mengindikasikan terjadinya technical rebound atau pemulihan sementara pascakoreksi signifikan pada hari sebelumnya. Menurutnya, tekanan jual yang cukup besar pada perdagangan Kamis membuka ruang bagi investor untuk melakukan strategi buy on weakness, yakni membeli saham ketika harganya melemah, terutama pada emiten dengan prospek fundamental baik dan valuasi menarik.

“Koreksi tersebut membuka peluang bagi investor untuk melakukan buy on weakness, yakni membeli saham ketika harganya melemah, terutama pada emiten yang dinilai memiliki prospek fundamental baik dan valuasi menarik,” kata Nafan kepada wartawan, Sabtu (10/10).

Meski demikian, Nafan menegaskan penguatan tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren menuju penguatan yang berkelanjutan. Ia menyatakan pergerakan IHSG masih perlu didukung oleh arus beli yang konsisten, peningkatan volume transaksi, serta kemampuan indeks bertahan di atas level support terdekat.

Tekanan Eksternal Masih Bayangi Pergerakan Indeks

Nafan mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi mempengaruhi arah indeks, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik.

Dari dalam negeri, perkembangan daya beli masyarakat dan data penjualan ritel turut menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi serta kinerja emiten. Nafan menilai kedua indikator tersebut perlu dicermati secara berkala untuk mengukur kekuatan fondasi konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat pada awal pekan depan, Senin (12/10), meskipun kenaikannya cenderung terbatas. Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang dapat menopang pergerakan pasar saham adalah defisit anggaran pemerintah pada September 2026 yang masih sesuai dengan ekspektasi, meskipun mengalami kenaikan.

“Defisit anggaran yang masih sesuai ekspektasi memberikan ruang bagi pasar untuk bergerak positif, meski kenaikannya tetap perlu dicermati,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Fondasi Ekonomi Dinilai Masih Kokoh

Di sisi lain, meski indeks keyakinan konsumen mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, Ibrahim menilai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik. Ia menyatakan pelemahan indeks keyakinan konsumen tidak serta-merta mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat secara struktural.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi mendorong harga berbagai kebutuhan di dalam negeri dan meningkatkan tekanan inflasi. Ibrahim menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi pemerintah agar tidak menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Penguatan IHSG pada perdagangan Jumat (9/10) tercatat menjadi salah satu kenaikan harian tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Meski begitu, sebagian analis menilai perlu waktu untuk memastikan apakah penguatan tersebut merupakan awal pemulihan tren atau sekadar koreksi teknikal jangka pendek.

Pasar Menanti Data dan Kebijakan Lanjutan

Pelaku pasar disebut masih menanti sejumlah agenda data ekonomi, baik domestik maupun global, yang akan dirilis pekan depan. Perkembangan kebijakan moneter The Fed, data tenaga kerja Amerika Serikat, serta rilis data inflasi domestik menjadi beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi arah pergerakan indeks.

Nafan menyatakan kemampuan IHSG bertahan di atas level support terdekat akan menjadi indikator awal apakah penguatan berlanjut atau kembali tertekan. Ia juga mengingatkan investor untuk tetap selektif dalam memilih emiten, dengan mempertimbangkan aspek fundamental dan valuasi.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang terbatas dengan kecenderungan menguat pada awal pekan. Ia menilai sentimen positif dari defisit anggaran yang sesuai ekspektasi dapat menjadi katalis, meski tetap dibayangi risiko eksternal.

Berdasarkan data perdagangan, penguatan IHSG pada Jumat (9/10) ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar. Meski demikian, volume transaksi dinilai belum sepenuhnya mencerminkan arus beli yang kuat dan berkelanjutan.

Kepala Riset salah satu sekuritas nasional menyatakan pasar masih membutuhkan konfirmasi berupa peningkatan volume transaksi dan arus masuk dana asing. Menurutnya, tanpa dukungan tersebut, penguatan indeks berpotensi bersifat sementara dan rentan kembali tertekan.

Sejumlah pelaku pasar juga mencermati perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah berpotensi menekan kinerja emiten dengan beban utang valuta asing yang besar, sekaligus mempengaruhi aliran dana asing di pasar saham dan obligasi.

Dengan berbagai faktor tersebut, arah pergerakan IHSG pada pekan depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Investor diimbau untuk mencermati setiap perkembangan data ekonomi serta kebijakan yang berpotensi mempengaruhi pasar modal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User