Hidroponik Atap Gudang Dikembangkan untuk Ketahanan Pangan Perkotaan

JAKARTA - Inovasi pertanian perkotaan kembali mendapat sorotan setelah sejumlah pengelola gudang di kawasan industri Jakarta mulai mengembangkan sistem hidroponik di area atap bangunan. Langkah ini di...

Hidroponik Atap Gudang Dikembangkan untuk Ketahanan Pangan Perkotaan

JAKARTA - Inovasi pertanian perkotaan kembali mendapat sorotan setelah sejumlah pengelola gudang di kawasan industri Jakarta mulai mengembangkan sistem hidroponik di area atap bangunan. Langkah ini dinilai sebagai solusi strategis dalam menghadapi keterbatasan lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah meningkatnya kebutuhan sayuran segar bagi masyarakat ibu kota.

Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menyatakan bahwa pemanfaatan atap gudang untuk pertanian hidroponik merupakan bagian dari program pemerintah daerah dalam mendorong urban farming. "Kami menegaskan bahwa setiap ruang vertikal yang tidak terpakai, termasuk atap bangunan komersial, dapat dioptimalkan untuk produksi pangan. Ini sejalan dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pertanian Perkotaan," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Program Ketahanan Pangan, Selasa (12/11/2024).

Proyek percontohan tersebut berlokasi di sebuah gudang logistik seluas 2.500 meter persegi di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Menurut data yang dihimpun, instalasi hidroponik di atap gudang tersebut menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT) yang mampu menghasilkan hingga 1,2 ton selada, kangkung, dan pakcoy setiap bulannya. Angka ini setara dengan kebutuhan sayur bagi sekitar 800 kepala keluarga di wilayah sekitar.

Optimalisasi Lahan Terbatas Melalui Teknologi Vertikal

Pengembangan pertanian di atap gudang merupakan respons atas semakin sempitnya lahan produktif di wilayah perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan pertanian di DKI Jakarta terus menyusut rata-rata 2,3 persen per tahun dalam dekade terakhir. Menindaklanjuti kondisi tersebut, pemerintah mendorong adopsi teknologi pertanian vertikal yang tidak membutuhkan tanah luas dan memiliki efisiensi air hingga 90 persen dibandingkan metode konvensional.

Direktur Utama perusahaan pengelola gudang tersebut, Bambang Setiawan, menjelaskan bahwa inisiatif ini dimulai sejak Agustus 2024 sebagai uji coba. "Kami melihat potensi besar dari atap gudang yang selama ini hanya digunakan untuk instalasi pendingin dan panel surya. Dengan dukungan teknis dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), kami merancang struktur penyangga yang mampu menahan beban instalasi hidroponik tanpa mengganggu fungsi utama gudang," jelasnya dalam wawancara khusus di lokasi proyek.

Bambang menambahkan bahwa seluruh hasil panen dipasarkan melalui kerja sama dengan koperasi karyawan dan platform digital. "Keputusan untuk memasarkan secara langsung kepada konsumen ritel dan restoran lokal kami ambil untuk memangkas rantai distribusi. Harga jual rata-rata Rp15.000 per kilogram untuk selada, lebih kompetitif dibandingkan produk impor," ungkapnya.

Dukungan Regulasi dan Insentif Pemerintah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan sejumlah insentif bagi pelaku usaha yang mengembangkan pertanian perkotaan. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 41 Tahun 2023, bangunan yang memanfaatkan atapnya untuk kegiatan produktif pertanian mendapatkan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 20 persen. Selain itu, pengelola juga memperoleh kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) untuk kategori usaha mikro dan kecil.

Kepala BPTP Jakarta, Dr. Ir. Siti Nurjanah, M.Si., dalam paparannya pada Rapat Koordinasi menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan modul pelatihan bagi pengelola gudang di lima wilayah kota. "Kami menindaklanjuti arahan Kementerian Pertanian untuk mempercepat adopsi teknologi hidroponik di kawasan industri. Target kami hingga akhir tahun 2025 adalah menjadikan 50 atap gudang di Jakarta sebagai lokasi produksi sayuran," tegasnya.

Dr. Siti juga menyoroti aspek keberlanjutan lingkungan dari proyek ini. Sistem hidroponik di atap gudang menggunakan air daur ulang dari sistem pendingin bangunan. Air yang telah mengandung nutrisi dialirkan kembali ke instalasi, sehingga tidak ada limbah cair yang terbuang. "Ini membuktikan bahwa pertanian modern dapat berjalan seiring dengan efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan yang baik," tambahnya.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Masyarakat Sekitar

Kehadiran pertanian hidroponik di atap gudang tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Saat ini, proyek tersebut mempekerjakan 15 orang tenaga kerja lokal yang telah mengikuti pelatihan selama dua minggu. Mereka bertugas melakukan pemantauan kualitas air, pengendalian hama terpadu, dan pemanenan sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP).

Ketua RW 07 Kelurahan Penggilingan, Ahmad Fauzi, menyambut baik inisiatif ini. "Kami menyatakan dukungan penuh karena program ini memberikan manfaat nyata. Warga sekitar kini dapat membeli sayuran segar dengan harga terjangkau, bahkan sebagian hasil panen disumbangkan untuk posyandu dan lansia," katanya.

Ke depan, pemerintah berencana memperluas skema kemitraan dengan perusahaan swasta lain melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Fraksi-fraksi di DPRD DKI Jakarta juga telah menyetujui alokasi anggaran tambahan sebesar Rp25 miliar untuk pengembangan infrastruktur pertanian perkotaan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025. Dengan dukungan lintas sektor tersebut, diharapkan pertanian hidroponik di atap gudang dapat menjadi model nasional bagi kota-kota besar lain di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User