Hery Kurniawan Bagikan Suka Duka Jurnalis Penonton di Piala Dunia
Di tengah hiruk-pikuk gemuruh stadion-stadion megah di tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026, ada sekelompok jurnalis yang bekerja sekeras rekan-rekan me
Di tengah hiruk-pikuk gemuruh stadion-stadion megah di tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026, ada sekelompok jurnalis yang bekerja sekeras rekan-rekan mereka dari negara peserta. Namun, saat peluit akhir dibunyikan dan sorak-sorai kemenangan bergema, para wartawan ini harus menahan rasa perih di dada: negeri asal mereka hanya menjadi penonton. Hery Kurniawan, jurnalis KLY Sports yang meliput langsung turnamen sepak bola terbesar di dunia, menjadi salah satu dari mereka. Dalam perbincangan dengan sesama wartawan dari Indonesia dan negara-negara non-peserta lainnya, ia mengungkapkan perasaan campur aduk yang jarang terlihat di layar kaca.
Kisah di Balik Meja Redaksi
Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko adalah panggung bagi 48 tim. Indonesia, seperti biasa, hanya menjadi penonton setia. Tapi bagi Hery, tugasnya tetap sama: menyajikan berita, wawancara, dan analisis kepada publik di tanah air. "Kami bekerja 12-14 jam sehari, mengejar pemain, pelatih, hingga suporter. Tapi saat malam tiba, ada kehampaan yang sulit dijelaskan," ujarnya sambil menyesap kopi di kafe pinggir jalan New York. Ia bersama rekan-rekan dari negara seperti India, Vietnam, dan Filipina sering berkumpul di area media, saling bertukar cerita tentang rasa iri dan bangga yang berbaur.
"Kami meliput tim-tim besar seperti Brasil, Argentina, dan Jerman. Namun hati kami selalu bertanya: kapan giliran Indonesia?" kata Hery dengan nada getir.
Ironi Meliput Timnas yang Tak Ada
Bagi seorang jurnalis olahraga, meliput tim nasional sendiri adalah puncak karier. Namun, kenyataan pahit harus diterima: Indonesia masih tertatih di peringkat FIFA dan gagal lolos kualifikasi. Hery dan koleganya harus merelakan gairah yang berbeda saat mewawancarai pemain asing. "Saat saya mewawancarai bintang Timnas Argentina, rasanya seperti mimpi. Tapi saat saya ingat bahwa tak ada satu pun pemain Indonesia di sini, rasanya seperti ditampar kenyataan," ungkap seorang jurnalis dari Filipina yang juga hadir dalam obrolan itu. Mereka semua sepakat bahwa momen paling berat adalah saat lagu kebangsaan negara peserta dikumandangkan. Di situlah kesadaran akan absennya identitas sendiri semakin tajam.
Meskipun demikian, semangat profesionalisme tak pernah padam. Hery justru melihat sisi positif: "Kami bisa belajar dari sistem sepak bola negara maju. Mulai dari infrastruktur, manajemen turnamen, hingga budaya suporter. Ini adalah observasi langsung yang tak ternilai harganya," katanya. Ia menambahkan bahwa Piala Dunia 2026 juga menjadi ajang untuk mempromosikan potensi Indonesia ke mata dunia, meski hanya lewat liputan jurnalistik.
Harapan di Balik Lensa
Di sudut lain stadion, sekelompok jurnalis dari Malaysia dan Singapura juga merasakan hal serupa. Mereka sepakat bahwa kegagalan lolos kualifikasi justru menjadi cambuk untuk mendorong perubahan di negara masing-masing. "Kita tidak boleh hanya jadi penonton selamanya. Piala Dunia harus menjadi motivasi untuk membenahi pembinaan usia muda, liga domestik, dan manajemen PSSI," tegas Hery. Data FIFA menunjukkan Indonesia memiliki basis suporter terbesar keempat di dunia, namun prestasi masih jauh panggang dari api. Inilah ironi yang harus dipecahkan.
Dalam perjalanannya, Hery juga menyaksikan bagaimana negara tetangga seperti Australia dan Jepang mampu bersaing di panggung global. "Mereka punya program jangka panjang dan konsisten. Kita harus berani melakukan revolusi mental dan struktural," ujarnya penuh semangat. Ia pun berharap, suatu hari nanti, saat berdiri di zona wawancara, ia bisa mewawancarai pemain Indonesia yang baru saja mencetak gol di Piala Dunia. Mimpi yang mungkin terasa naif, tapi harus terus diperjuangkan.
Di akhir liputan, Hery mengaku membawa pulang lebih dari sekadar berita. "Saya membawa pulang rasa rendah hati dan tekad yang lebih kuat. Bahwa menjadi jurnalis bukan hanya tentang meliput kemenangan, tapi juga tentang menyuarakan kerinduan dan harapan jutaan orang di rumah," tutupnya. Pengalamannya meliput Piala Dunia 2026 sebagai 'penonton' justru semakin mengobarkan api di dada—api untuk melihat Indonesia akhirnya bisa ikut bermain.
[SOCIAL_TWEET]: Rasanya campur aduk jadi jurnalis yang liput Piala Dunia tapi negaranya cuma nonton. Hery Kurniawan cerita suka dukanya. #PialaDunia2026 #JurnalisIndonesia #SepakBola[SOCIAL_TG]: 🎙️ Hery Kurniawan dan rekan jurnalis dari negara non-peserta berbagi perasaan pahit manis liput Piala Dunia 2026. Meski jadi penonton, semangat mereka tetap menyala! 🇮🇩⚽
Comments (0)