Sep 02, 2026
Politik

Gubernur Riau Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla

Pemerintah Provinsi Riau resmi menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya titik api di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Keputusan terseb...

Gubernur Riau Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla

Pemerintah Provinsi Riau resmi menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya titik api di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Gubernur Riau pada Senin, 27 Januari 2025, di Gedung Daerah Pekanbaru, sebagai bentuk penanganan darurat terhadap situasi yang terus memburuk.

Peningkatan Titik Api Signifikan

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, tercatat lebih dari 150 titik panas (hotspot) terdeteksi melalui sistem pemantau satelit selama sepekan terakhir. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebagian besar titik api tersebar di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kota Pekanbaru yang merupakan kawasan dengan tutupan lahan gambut luas.

Kepala BPBD Riau, Budi Yulianto, menyatakan bahwa kondisi cuaca yang kering sepanjang Januari menjadi faktor utama melonjaknya kebakaran. "Curah hujan yang sangat minim menyebabkan tingkat kelembaban lahan gambut menurun drastis, sehingga mudah terbakar bahkan dengan percikan api kecil," tegas Budi dalam keterangannya kepada awak media, Senin, 27 Januari 2025.

Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Kebakaran yang terjadi telah menimbulkan kabut asap yang menyelimuti beberapa kabupaten dan kota di Riau. Badan Kesehatan Daerah (Bakesda) Provinsi Riau mencatat setidaknya 2.300 warga mengalami gangguan pernapasan akut akibat paparan asap dalam sepekan terakhir. Warga di wilayah pesisir dan pedalaman menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak kesehatan tersebut.

Selain dampak kesehatan, kebakaran juga mengancam ekosistem gambut yang merupakan penyimpan karbon terbesar di Sumatera. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperingatkan bahwa kerusakan lahan gambut akibat karhutla dapat melepaskan karbon yang tersimpan selama puluhan tahun ke atmosfer. "Ini menjadi ancaman serius terhadap target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional," tulis lembaga tersebut dalam rilis resmi.

Upaya Penanganan dan Koordinasi

Sebagai tindak lanjut penetapan status tanggap darurat, Pemerintah Provinsi Riau telah mengaktifkan seluruh sumber daya pemadam yang tersedia. sebanyak 12 unit mobil pemadam kebakaran dan 8 unit helikopter water bombing dikerahkan untuk memadamkan api di titik-titik yang sulit dijangkau. Personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta sukarelawan juga diterjunkan ke lokasi kejadian.

Gubernur Riau juga telah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. "Kami membutuhkan dukungan alat berat dan sumber daya manusia tambahan untuk mengatasi kebakaran yang tersebar di area yang sangat luas," ucap Gubernur Riau dalam Rapat Koordinasi yang juga dihadiri oleh perwakilan BNPB pusat.

Status tanggap darurat karhutla di Riau akan berlaku selama 14 hari ke depan dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan penanganan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan ketat serta menerapkan tindakan pencegahan guna meminimalkan risiko kebakaran berulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User