Generasi Muda China Tinggalkan Barang Mewah demi Kristal Keberuntungan

BEIJING — Di tengah gemerlap pusat perbelanjaan dan godaan merek-merek global, sebuah pergeseran nilai diam-diam terjadi di kalangan anak muda China. Zirui

Jul 12, 2026 - 01:44
0 1

BEIJING — Di tengah gemerlap pusat perbelanjaan dan godaan merek-merek global, sebuah pergeseran nilai diam-diam terjadi di kalangan anak muda China. Zirui Yang, seorang mahasiswi berusia 21 tahun dari Shanghai, memilih menjual tas desainer kesayangannya dan mengalihkan anggaran belanjanya ke sesuatu yang lebih bersifat spiritual: kristal keberuntungan. Ia bukan satu-satunya. Fenomena ini kini mewabah di platform seperti Xiaohongshu dan Douyin, menandai babak baru perilaku konsumen Generasi Z yang lebih mengutamakan emotional value ketimbang sekadar status sosial.

Dari Logo Mewah ke Energi Kosmik

Zirui mengaku mulai mengoleksi batu seperti rose quartz, amethyst, dan citrine setelah merasa cemas menghadapi masa depan karier. “Dulu aku pikir tas branded bisa membuatku percaya diri. Ternyata, memegang kristal dan meyakini energinya jauh lebih menenangkan,” tuturnya dalam sebuah wawancara daring. Kisah Zirui mencerminkan jutaan anak muda urban yang mulai mempertanyakan definisi kemewahan di era ketidakpastian ekonomi pasca-pandemi. Data dari platform e-commerce Tiongkok menunjukkan lonjakan penjualan kristal hingga 67% sepanjang paruh pertama 2026, sementara penjualan tas mewah turun 12% pada periode yang sama.

Angka-Angka di Balik Tren

Laporan konsumen yang dirilis oleh China Consumer Insights Institute mengungkap temuan menarik:

  • 73% responden berusia 18–28 tahun mengaku lebih sering membeli barang yang memberikan pengalaman emosional, seperti kristal, lilin aromaterapi, dan buku self-help.
  • 58% di antaranya menyebut tekanan ekonomi dan ketidakpastian karier sebagai pemicu utama perubahan pola belanja.
  • Nilai transaksi rata-rata untuk pembelian kristal berkisar antara ¥80 hingga ¥600 (sekitar Rp170.000–Rp1,3 juta), jauh di bawah harga tas desainer yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.
  • Tagar #CrystalHealing telah ditonton lebih dari 4,2 miliar kali di Douyin, memperkuat posisi kristal sebagai simbol harapan dan kontrol diri di tengah dunia yang serba tidak pasti.

Dari Sekadar Hobi Menjadi ‘Investasi Emosional’

Dr. Li Wei, psikolog konsumen dari Universitas Fudan, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar tren mode. “Ketika seseorang merasa kehilangan kendali atas hidupnya—krisis ekonomi, iklim kerja yang kompetitif, bahkan isu lingkungan—benda fisik seperti kristal memberikan ilusi kendali. Mereka dianggap mampu ‘memancarkan energi’ yang membantu pemiliknya fokus pada niat dan tujuan. Ini adalah bentuk self-soothing yang sangat kuat,” jelasnya. Dr. Li menambahkan bahwa pergeseran ini sejalan dengan gerakan global menuju mindful consumption, di mana konsumen lebih selektif dan memaknai setiap pembelian sebagai investasi untuk kesejahteraan mental, bukan sekadar pamer kemapanan.

“Dulu aku pikir tas branded bisa membuatku percaya diri. Ternyata, memegang kristal dan meyakini energinya jauh lebih menenangkan,” – Zirui Yang, mahasiswi Shanghai.

Respon Industri Mewah

Fenomena ini tidak luput dari perhatian raksasa barang mewah. Sejumlah merek high-end mulai menyelipkan elemen spiritual dalam koleksi terbarunya. Misalnya, beberapa rumah mode Prancis merilis lini perhiasan dengan batu semi-mulia yang dipasarkan bersama klaim “energi positif”. Namun, para analis menilai langkah ini belum cukup meredam pergeseran fundamental di kalangan konsumen muda, yang kini lebih menghargai nilai intrinsik dan personal meaning ketimbang label harga.

Pandangan Masa Depan

Jika pola konsumsi ini terus menguat, bukan tidak mungkin lanskap industri ritel global akan berubah drastis. Para pelaku usaha dipaksa untuk tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan pengalaman dan manfaat psikologis. Sementara itu, bagi generasi muda seperti Zirui, setiap kristal yang mereka genggam adalah pengingat bahwa di tengah tekanan hidup, sedikit keyakinan dan keindahan alam mungkin bisa menjadi penyeimbang. “Ini bukan soal percaya takhayul, tapi soal memberi diriku sendiri semangat setiap hari,” pungkas Zirui sambil menunjukkan gelang labradorite kesayangannya yang berkilau. [SOCIAL_TWEET]: 🧿✨ Anak muda China kini ramai-ramai tinggalkan tas mewah demi kristal 'hoki'. Penjualan melonjak 67%! Simak fenomena emotional spending ini. #TrenKonsumen #KristalKeberuntungan #GenerasiMuda[SOCIAL_TG]: 💎 Tren baru di China: anak muda beralih dari kemewahan material ke kristal pembawa energi positif. Bijak atau sekadar pelarian? 🤔✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User