Dalam sudut ruangan pemeriksaan lembaga adopsi, Estefanía Romero duduk tenang di atas kursi rodanya. Terlahir dengan kondisi medis spina bifida—sebuah kelainan tabung saraf tulang belakang—perempuan ini telah terbiasa menaklukkan berbagai hambatan fisik sejak hari pertama ia bernapas. Namun, tantangan terbesar dalam hidupnya justru muncul ketika ia memutuskan untuk melangkah ke jenjang kehidupan baru: menjadi seorang ibu melalui jalur adopsi.
Empat tahun lalu, sebuah tekad bulat membimbing Estefanía untuk memulai prosedur hukum resmi demi mengadopsi seorang anak laki-laki. Sayangnya, impian murni tersebut langsung dibenturkan pada tembok tebal diskriminasi sistemik. Bukan hanya infrastruktur gedung pemerintahan yang tidak ramah disabilitas yang harus ia hadapi, melainkan juga pandangan miring dari lembaga sosial yang masih menganggap penyandang disabilitas sebagai sosok yang selalu membutuhkan perawatan, bukannya pihak yang mampu memberikan pengasuhan dan kasih sayang.
Hambatan Ganda: Benteng Fisik dan Prasangka Budaya
Selama proses pengajuan yang memakan waktu hingga 4 tahun, Estefanía berulang kali dihadapkan pada evaluasi yang cenderung diskriminatif. Tim penilai sering kali berfokus penuh pada keterbatasan fisiknya ketimbang kapasitas emosional, stabilitas finansial, dan kesiapannya menjadi orang tua. Gedung-gedung pengadilan dan kantor layanan sosial kerap tidak menyediakan aksesibilitas dasar seperti ram atau fasilitas yang memadai, mempertegas betapa terpinggirkannya hak-hak penyandang disabilitas dalam ranah hukum kekeluargaan.
"Sistem hukum dan penilaian adopsi kita sering kali masih terkunci dalam pandangan usang. Mereka melihat kursi roda saya sebagai sebuah kegagalan fungsi, bukan sebagai alat bantu mobilitas. Saya diukur dari apa yang tidak bisa dilakukan oleh kaki saya, bukan dari seberapa besar kasih sayang dan ruang yang bisa diberikan oleh hati saya untuk seorang anak," ujar Estefanía dengan penuh emosi.
Analisis Perbandingan: Pendekatan Adopsi Sistemik vs Inklusif
Berdasarkan pengalaman panjang dan getir tersebut, Estefanía memetakan perbedaan mencolok antara evaluasi adopsi konvensional yang kaku dengan pendekatan berperspektif disabilitas yang kini gencar ia suarakan:
| Kategori Evaluasi | Pendekatan Konvensional (Lama) | Pendekatan Inklusif (Diperjuangkan) |
|---|---|---|
| Fokus Penilaian | Kesempurnaan fisik calon orang tua angkat. | Kapasitas pengasuhan, stabilitas emosi, dan finansial. |
| Pandangan Disabilitas | Dianggap sebagai beban atau ketidakmampuan total. | Dilihat sebagai keragaman kondisi yang dapat diakomodasi. |
| Aksesibilitas Layanan | Minim fasilitas ramah disabilitas di kantor hukum. | Fasilitas hukum accessible dan ramah semua kondisi fisik. |
Menggagas Gerakan Adopsi Berperspektif Disabilitas
Pengalaman pahit tersebut tidak membuat semangat Estefanía padam. Sebaliknya, hal itu memicu lahirnya sebuah gerakan advokasi baru yang berfokus pada pembaharuan kriteria adopsi nasional. Melalui kampanye publik dan dialog bersama para pemangku kebijakan hukum, ia kini aktif memperjuangkan pentingnya perspektif disabilitas dalam regulasi adopsi anak.
Gerakan ini mendorong restrukturisasi cara pandang para pekerja sosial dan hakim pengadilan sipil. Estefanía menekankan bahwa disabilitas fisik tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai diskualifikasi medis dalam pengasuhan anak. Dengan bantuan teknologi modern dan sistem pendukung sosial yang tepat, seorang penyandang disabilitas memiliki kapasitas yang sama sepenuhnya untuk membesarkan anak dengan aman, sehat, dan penuh kasih.
"Tujuan saya bukan sekadar mendapatkan hak saya sebagai seorang ibu, tetapi memastikan bahwa tidak ada lagi calon orang tua disabilitas di luar sana yang merasa dipatahkan impiannya hanya karena stigma dan prasangka yang tidak berdasar," tegasnya.
Menuju Masa Depan Hukum Keluarga yang Inklusif
Perjuangan Estefanía Romero kini mulai menunjukkan titik terang. Inisiatif yang diusungnya mendapatkan simpati publik serta dukungan dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan lembaga perlindungan anak. Banyak pihak mulai menyadari bahwa prinsip terbaik bagi anak (the best interest of the child) juga mencakup penerimaan terhadap keberagaman kondisi orang tua angkat.
Melalui dedikasi tanpa henti, Estefanía membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi naluri keibuan seseorang. Perjuangannya kini membuka jalan bagi hadirnya sistem hukum kekeluargaan yang lebih adil, manusiawi, dan benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Comments (0)