Ade Yasin: Profil dan Kinerja Bupati Bogor
Ade Yasin: Profil dan Kinerja Bupati Bogor Hj. Ade Yasin, S.E., M.M., adalah Bupati Bogor perempuan pertama yang dilantik pada 30 Desember 2018. Mengusung bendera Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia memenangi Pilkada Bogor 2018 bersama wakilnya Iw
Ade Yasin: Profil dan Kinerja Bupati Bogor
Hj. Ade Yasin, S.E., M.M., adalah Bupati Bogor perempuan pertama yang dilantik pada 30 Desember 2018. Mengusung bendera Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia memenangi Pilkada Bogor 2018 bersama wakilnya Iwan Setiawan dengan perolehan suara 41,12 persen. Namun, masa kepemimpinannya yang seharusnya berakhir pada 2023 terputus lebih cepat akibat kasus korupsi yang menjeratnya pada April 2022. Ade Yasin dikenal sebagai politisi senior yang merintis karier dari tingkat lokal hingga berhasil menduduki kursi eksekutif kabupaten berpenduduk lebih dari 5,5 juta jiwa ini.
Profil dan Latar Belakang
Ade Yasin lahir di Bogor, 19 Februari 1968. Ia menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Pakuan Bogor dan melanjutkan Program Magister Manajemen di universitas yang sama, memperkuat kapasitas manajerialnya. Sebelum menjadi bupati, Ade Yasin adalah pengusaha kecil dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karier politiknya dimulai ketika terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PPP selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2018. Selama di parlemen, ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi PPP dan turut membidani sejumlah peraturan daerah strategis. Pada Pilkada 2018, popularitasnya sebagai figur perempuan tangguh mengantarkannya mematahkan dominasi petahana dan menjadi bupati pertama dari kalangan nahdliyin di Kabupaten Bogor.
Program Unggulan dan Kinerja
Selama memimpin, Ade Yasin menginisiasi beberapa program prioritas yang difokuskan pada peningkatan layanan dasar. Pertama, program “Bogor Cerdas” yang memperluas akses pendidikan melalui bantuan Kartu Bogor Pintar. Hingga akhir 2021, program ini telah menjangkau lebih dari 12.000 siswa dari keluarga kurang mampu, mencakup biaya sekolah, seragam, dan perlengkapan belajar. Selain itu, sebanyak 48 sekolah dasar dan madrasah direnovasi total, serta 120 ruang kelas baru dibangun untuk mengurangi angka putus sekolah yang sempat menyentuh 3,8 persen pada 2019.
Kedua, program “Bogor Sehat” diperkuat dengan penerbitan Kartu Bogor Sehat yang terintegrasi dengan BPJS Kesehatan. Cakupan kepesertaan jaminan kesehatan meningkat dari 72 persen pada 2018 menjadi 94 persen pada 2021, atau setara dengan sekitar 4,1 juta warga. Ia juga mendorong revitalisasi 40 puskesmas dan penempatan bidan desa di 416 desa, sehingga rasio kematian ibu melahirkan turun 15 persen dalam dua tahun. Di sektor infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Bogor mengklaim telah membangun dan memperbaiki lebih dari 350 kilometer jalan desa, memasang 8.500 titik lampu penerangan jalan umum, serta memperluas jaringan air bersih ke 72 desa rawan kekeringan. Pembangunan Masjid Raya Al Munawwaroh di kompleks perkantoran pemda menjadi salah satu simbol keberpihakan pada fasilitas keagamaan.
Tantangan dan Kontroversi
Prestasi dan program yang dijalankan Ade Yasin harus dihadapkan pada ujian terberat ketika dirinya ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 27 April 2022. KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan suap kepada auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Barat. Suap senilai total Rp1,9 miliar itu diduga diberikan agar BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor Tahun Anggaran 2021. Kasus ini mencoreng wajah birokrasi daerah yang sebelumnya mendapat WTP selama dua tahun berturut-turut. Ade Yasin divonis 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung pada 2023, ditambah denda dan pencabutan hak politik. Wakilnya, Iwan Setiawan, kemudian naik menjadi pelaksana tugas dan definitif sebagai Bupati Bogor.
Kasus ini mengungkap tantangan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan praktik lobi anggaran yang kental di tubuh pemkab. Sejumlah kalangan menilai kepemimpinan Ade Yasin berhasil mendorong pembangunan fisik, tetapi lemah dalam membangun sistem integritas. Warisannya sebagai bupati perempuan pertama Bogor kini dibayangi oleh status narapidana korupsi yang sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintahan daerah di Indonesia.
Comments (0)