Kabut asap pekat kembali menyelimuti sebagian besar wilayah Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Di tengah krisis ekologi yang berulang ini, nasib satwa endemik seperti orangutan berada dalam ancaman serius. Kehilangan ruang hidup, krisis pakan alami, hingga paparan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kini mengintai mamalia langka tersebut di habitat aslinya.
Menanggapi situasi darurat ini, Chief Executive Officer (CEO) Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, menyerukan pentingnya penguatan mitigasi dan aksi nyata pelindungan orangutan secara menyeluruh. Menurutnya, respons terhadap karhutla tidak boleh hanya fokus pada pemadaman api di pemukiman manusia, tetapi juga harus memprioritaskan kawasan konservasi serta koridor pergerakan satwa liar.
Dampak Buruk Asap Terhadap Kesehatan Satwa
Paparan kabut asap beracun dari karhutla memberikan dampak langsung yang sangat merusak bagi fisik dan perilaku orangutan. Asap tebal merusak organ pernapasan, memperburuk penglihatan, dan membatasi ruang gerak mereka untuk mencari makan. Dalam kondisi ekstrem, banyak orangutan terpaksa keluar dari kawasan hutan yang terbakar menuju pemukiman warga atau perkebunan, yang berisiko memicu konflik baru dengan manusia.
Untuk menekan angka kematian satwa, tim medis dan relawan di lapangan harus bekerja ekstra keras memberikan tindakan penyelamatan dan asupan nutrisi tambahan.
"Asap tebal akibat kebakaran hutan tidak hanya memusnahkan vegetasi yang menjadi sumber pakan alami orangutan, tetapi juga memicu gangguan pernapasan berat pada mereka. Jika penanganan terpadu tidak segera diperkuat, kita berisiko kehilangan lebih banyak populasi orangutan yang saat ini statusnya sudah amat terancam," ujar Jamartin Sihite.
Berikut adalah gambaran perbandingan kondisi habitat dan kesehatan orangutan sebelum dan saat terjadi bencana karhutla:
| Indikator Evaluasi | Kondisi Normal | Periode Karhutla & Kabut Asap |
|---|---|---|
| Ketersediaan Pakan Alami | Melimpah di tajuk pohon | Terbakar dan rusak drastis |
| Kesehatan Pernapasan Satwa | Stabil dan sehat | Rentan ISPA dan dehidrasi berat |
| Tingkat Potensi Konflik | Rendah | Sangat Tinggi (Satwa masuk ke lahan warga) |
Langkah Darurat dan Penanganan Medis Lapangan
Dalam situasi krisis, BOSF bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus mengintensifkan patroli penyelematan (rescue) dan menyalurkan asupan tambahan. Pemberian buah-buahan segar, suplemen vitamin, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi prosedur standar untuk menjamin daya tahan tubuh orangutan yang terdampak asap.
Beberapa fokus utama aksi perlindungan darurat saat ini meliputi:
- Mobilisasi Tim Tim Penyelamat: Menyisir kantong-kantong hutan yang terbakar untuk mengevakuasi orangutan yang terjebak.
- Penyediaan Asupan Nutrisi Tambahan: Menyuplai makanan kaya air dan vitamin untuk mencegah dehidrasi berat pada satwa.
- Pembuatan Sekat Bakar dan Patroli Bersama: Mencegah kobaran api meluas ke dalam kawasan pusat rehabilitasi dan hutan lindung.
Sinergi Lintassektoral Jadi Kunci Keselamatan
Jamartin meyakini bahwa upaya menyelamatkan orangutan dari ancaman kebakaran hutan tidak bisa dibebankan kepada lembaga non-pemerintah semata. Perlu ada komitmen kuat dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan sektor swasta untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang memicu bencana tahunan ini.
Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran hutan serta restorasi lahan gambut yang berkelanjutan menjadi benteng utama agar habitat orangutan tetap terjaga. Tanpa langkah konkrit dan terintegrasi, keberlanjutan populasi orangutan di Kalimantan akan berada di ambang kehancuran permanen.
Kabut asap tebal memicu gangguan pernapasan dan mengancam keberlangsungan hidup orangutan di Kalimantan. Baca analisis berita lengkapnya di Apaberita.com.
Comments (0)