Bobby Rasyidin Bicara Inovasi KA Wisata di Rute Yogyakarta-Jakarta
Suasana gerbong KA Wisata Jurusan Yogyakarta–Jakarta terasa berbeda pada Rabu sore (8/7/2026). Di antara kursi empuk bercorak klasik dan jendela besar yang
Suasana gerbong KA Wisata Jurusan Yogyakarta–Jakarta terasa berbeda pada Rabu sore (8/7/2026). Di antara kursi empuk bercorak klasik dan jendela besar yang menayangkan hamparan sawah Jawa Tengah, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, duduk melingkar bersama belasan awak media. Bukan sekadar perjalanan dinas biasa, ia sengaja memilih setting di atas rel untuk membagikan visi dan progres terbaru perseroan dalam mengembangkan lini kereta wisata. Perbincangan santai itu berlangsung hangat, diselingi bunyi khas roda kereta menyentuh sambungan rel, seolah menjadi ilustrasi irama perubahan yang tengah digulirkan BUMN transportasi tersebut.
Transformasi Kereta Wisata: Bukan Sekadar Angkut Penumpang
Di tengah obrolan, Bobby menegaskan bahwa KA Wisata kini diproyeksikan menjadi salah satu pilar pendapatan non-tiket reguler. Ia memaparkan, pada semester pertama 2026, segmen kereta wisata berhasil mengangkut 2,3 juta penumpang, melonjak 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didorong oleh diversifikasi paket perjalanan tematik, seperti heritage trip, wisata kuliner lintas kota, hingga paket akhir pekan keluarga yang terintegrasi dengan destinasi unggulan.
“Kami ingin menjadikan kereta api sebagai bagian dari pengalaman wisata yang tak terlupakan, bukan sekadar moda transportasi. Integrasi dengan hotel, restoran, dan tempat wisata lokal menjadi kunci. Kita akan luncurkan paket terusan yang memungkinkan wisatawan turun di stasiun, langsung diantar ke objek wisata, dan kembali naik kereta di hari yang sama,” ujar Bobby saat menjawab pertanyaan tentang strategi KAI ke depan.
Optimisme di Tengah Tantangan Operasional
Meski optimistis, Bobby tak menampik ada sejumlah pekerjaan rumah. Ketersediaan rangkaian kereta khusus wisata yang nyaman dan berkarakter menjadi perhatian. Saat ini KAI mengoperasikan 12 set kereta wisata dengan berbagai tema, namun permintaan pada musim liburan seringkali melebihi kapasitas. Bobby mengaku telah memproses pengadaan 4 rangkaian baru yang dirancang dengan teknologi peredam suara dan interior yang lebih fleksibel untuk berbagai segmen, mulai dari rombongan keluarga hingga korporasi.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya revitalisasi stasiun-stasiun kecil di jalur selatan yang memiliki potensi wisata sejarah. “Stasiun-stasiun seperti Lempuyangan, Purwosari, atau Cepu itu aset luar biasa. Kami akan menggandeng pemerintah daerah untuk membangun ekosistem wisata berbasis stasiun,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi pengembangan KA Wisata tak hanya berkutat di atas rel, melainkan juga menyentuh ekonomi warga sekitar.
Sinergi Pariwisata Nasional
Pada momentum yang sama, Bobby memastikan KAI terus menyelaraskan program KA Wisata dengan arahan Kementerian Pariwisata. Pada 2026, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan domestik sebanyak 1,2 miliar perjalanan. Kereta api, dengan jangkauan luasnya di Pulau Jawa dan Sumatera, diyakini mampu mendongkrak mobilitas wisatawan nusantara. Data internal menunjukkan, rute paling populer saat ini adalah Jakarta–Yogyakarta, Jakarta–Bandung, dan Surabaya–Banyuwangi. Adapun rute baru yang sedang dikaji meliputi Semarang–Tawangmangu dan Medan–Danau Toba, yang diharapkan rampung pada 2027.
Bobby menutup perbincangan dengan nada penuh refleksi. “Perkeretaapian kita menyimpan kekayaan sejarah dan pemandangan yang tidak dimiliki moda lain. Tinggal bagaimana kita meraciknya menjadi produk pariwisata berkelas world-class,” tuturnya sembari tersenyum, lalu menatap jendela kereta yang perlahan mendekati Stasiun Jatinegara. Sisa perjalanan itu pun menjadi saksi bisu bahwa rel-rel tua di negeri ini masih menyimpan janji pertumbuhan.
Comments (0)