Sep 16, 2026
Hukum

BERLIN — Kunjungan Presiden UEA Hasilkan Kesepakatan Bernilai Miliaran Euro

BERLIN — Pemerintah Jerman menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, dengan upacara militer penuh

BERLIN — Kunjungan Presiden UEA Hasilkan Kesepakatan Bernilai Miliaran Euro

BERLIN — Pemerintah Jerman menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, dengan upacara militer penuh di Berlin. Lawatan diplomatik tingkat tinggi ini difokuskan untuk memperkuat hubungan ekonomi serta menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) bernilai miliaran euro di tengah dinamika geopolitik global yang kian dinamis.

Presiden UEA diterima langsung oleh Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Bellevue sebelum dijadwalkan melangsungkan pertemuan strategis dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Pengamanan ketat diberlakukan di seluruh penjuru ibu kota Jerman, dengan penutupan sejumlah ruas jalan protokol serta pengerahan aparat kepolisian secara masif guna mengawal delegasi Abu Dhabi tersebut.

Kronologi dan Agenda Utama Kunjungan

Kunjungan kenegaraan ini mencakup serangkaian dialog ekonomi tingkat tinggi dan penandatanganan kerja sama komprehensif. Berikut adalah fokus utama agenda pertemuan kedua pemimpin negara:

  1. Upacara Penyambutan Militer: Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan tiba di Berlin dan disambut secara kenegaraan oleh Presiden Frank-Walter Steinmeier dengan penghormatan militer resmi.
  2. Pertemuan Bilateral Tingkat Tinggi: Pembahasan mendalam bersama Kanselir Friedrich Merz mengenai peta jalan kerja sama industri, ketahanan energi, dan integrasi teknologi mutakhir.
  3. Finalisasi Perjanjian Multi-Sektor: Penandatanganan portofolio investasi skala besar yang mencakup kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, serta industri manufaktur strategis.
"Sepanjang kunjungan ini, UEA dan Jerman akan merilis sejumlah pengumuman penting serta menandatangani kesepakatan bernilai miliaran euro yang mencakup sektor investasi, bisnis, teknologi, kecerdasan buatan, dan energi," ungkap diplomat senior UEA, Lana Nusseibeh.

Diversifikasi Strategis di Tengah Ketegangan Geopolitik

Lawatan penting ini berlangsung di tengah eskalasi konflik di kawasan Teluk yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dinilai mendorong kekuatan menengah seperti Jerman dan UEA untuk segera memperluas serta mendiversifikasi aliansi strategis mereka guna memitigasi risiko disrupsi keamanan maupun ekonomi global.

Kanselir Friedrich Merz, yang sebelumnya telah melawat ke kawasan Teluk pada Februari lalu, menegaskan pentingnya kemitraan multilateral yang solid. Merz menekankan bahwa kolaborasi lintas kawasan kini sangat krusial, terutama di era ketika rivalitas kekuatan-kekuatan besar dunia semakin mendominasi dinamika politik internasional.

Pilar Perdagangan, Ketahanan Energi, dan Industri Pertahanan

Uni Emirat Arab saat ini menempati posisi sebagai mitra dagang terbesar Jerman di kawasan Teluk, dengan volume perdagangan bilateral melampaui angka 15 miliar dolar AS pada tahun lalu. Sejumlah korporasi raksasa asal Jerman telah lama menancapkan ekspansinya di UEA, termasuk raksasa otomotif BMW, konglomerat industri Siemens, produsen baja ThyssenKrupp, hingga operator perkeretaapian Deutsche Bahn.

Di sisi lain, Abu Dhabi kian agresif membenamkan modal di Jerman, khususnya pada industri petrokimia dan proyek pembangkit listrik tenaga bayu lepas pantai (offshore wind power). Komitmen pasokan energi jangka panjang sebelumnya juga telah diperkuat lewat kemitraan antara raksasa energi Jerman RWE dan perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, dalam pasokan gas alam cair (LNG) untuk satu dekade ke depan.

Selain sektor energi konvensional dan transisi hijau, kedua negara melirik kerja sama teknologi pertahanan modern, terutama pengembangan startup pesawat tanpa awak (drone) guna memperkuat doktrin pencegahan strategis di kawasan Eropa. Jerman juga menyatakan dukungannya terhadap percepatan negosiasi perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan UEA. Namun, kunjungan ini tetap mendapat sorotan kritis dari organisasi pengawas hak asasi manusia seperti Human Rights Watch yang mendesak Berlin tetap mengedepankan evaluasi rekam jejak hak asasi manusia dalam setiap negosiasi kerja sama regional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User