Bendahara Umum ISNU Sebut Keamanan Siber Jadi Prioritas NU
Mubasyier Fatah, seorang praktisi keamanan siber yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), menyoroti urge
Mubasyier Fatah, seorang praktisi keamanan siber yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), menyoroti urgensi penguatan pertahanan digital bagi organisasi kemasyarakatan di Indonesia. Pernyataan ini muncul dalam konteks meningkatnya ancaman siber yang menyasar institusi-institusi besar dengan basis anggota jutaan orang.
Sebagai figur yang berada di persimpangan dua dunia — keamanan siber dan organisasi keagamaan — Mubasyier memegang posisi strategis untuk menjembatani kesenjangan literasi digital di kalangan kader Nahdlatul Ulama. ISNU sendiri merupakan sayap intelektual NU yang menaungi para sarjana dan akademisi, menjadikannya wadah potensial untuk menyebarkan kesadaran keamanan siber.
Ancaman Siber Meningkat di Tengah Digitalisasi Organisasi
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa serangan siber di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa organisasi-organisasi kemasyarakatan tidak luput dari target, terutama dengan semakin banyaknya operasi digital yang dilakukan untuk koordinasi keanggotaan dan advokasi.
| Jenis Ancaman | Tren | Sector Rentan |
|---|---|---|
| Phishing | Naik 34% | Organisasi massa |
| Disinformasi | Naik 52% | Media sosial |
| Ransomware | Naik 28% | Server internal |
"Organisasi sebesar NU dengan jutaan anggota harus punya kesadaran kolektif bahwa keamanan digital sama pentingnya dengan keamanan fisik," ungkap Mubasyier Fatah. Ia menekankan bahwa kader-kader muda NU perlu dibekali pengetahuan dasar keamanan siber agar tidak mudah menjadi korban maupun pelaku penyebaran hoaks.
nPeran Strategis ISNU dalam Transformasi Digital
PP ISNU memiliki posisi unik dalam ekosistem NU karena beranggotakan para akademisi dan profesional. Mubasyier melihat ini sebagai peluang untuk membentuk tim ahli keamanan siber internal yang bisa melayani bukan hanya ISNU, tetapi seluh pengurus NU di tingkat wilayah hingga cabang.
Langkah konkret yang disebutkan meliputi pelatihan literasi digital bagi pengurus, pembentukan protokol keamanan data organisasi, serta kemitraan dengan lembaga riset keamanan siber nasional. Pendekatan bertahap ini dianggap lebih realistis mengingat besarnya organisasi dan heterogenitas tingkat kemampuan digital anggotanya.
Tantangan dan Peluang di Depan
Tantangan utama yang dihadapi adalah kesenjangan infrastruktur digital antara daerah perkotaan dan pedesaan. Banyak pengurus tingkat cabang yang belum memiliki pemahaman dasar tentang password management, enkripsi, atau bahkan cara mengenali pesan phishing. Di sisi lain, keberadaan kader-kader muda yang melek teknologi menjadi modal besar untuk akselerasi.
Mubasyier juga menyoroti bahwa isu keamanan siber tidak bisa dipisahkan dari isu-isu strategis lain seperti penanggulangan radikalisasi online dan perlindungan anak di dunia digital. Perspektif holistik ini, menurutnya, menjadi keunggulan ISNU dalam merumuskan kebijakan digital yang komprehensif.
Posisi ganda Mubasyier Fatah sebagai praktisi keamanan siber dan pengurus ISNU mencerminkan tren global di mana expertise teknis semakin dibutuhkan dalam tata kelola organisasi. Apakah model ini akan diadopsi oleh organisasi kemasyarakatan lainnya di Indonesia? Waktu yang akan menjawab.
[SOCIAL_TWEET]: Bendahara Umum ISNU Mubasyier Fatah tekan urgensi keamanan siber bagi organisasi kemasyarakatan. Literasi digital jadi prioritas kader NU. #KeamananSiber #ISNU #NU[SOCIAL_TG]: 🔒 Bendahara ISNU Mubasyier Fatah: Keamanan siber harus jadi prioritas organisasi sebesar NU. Literasi digital kader muda kunci pertahanan.
Comments (0)