Alunan nada dan ritme musik mungkin tak terdengar oleh mereka yang hidup dalam keheningan, namun keindahan gerak tari tetap mampu merasuk hingga ke dalam jiwa. Di Pulau Dewata, seni tari yang erat dengan akar tradisi kini membuka pintunya lebih lebar bagi kelompok disabilitas pendengaran. Tim peneliti dan pengabdi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menggandeng Komunitas Larajiva untuk menciptakan terobosan baru berupa video tutorial koreografi tari inklusif yang dirancang khusus bagi masyarakat tuli dan bisu.
Langkah inovatif ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ISI Bali. Melalui pelatihan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Videografi Tutorial Koreografi sebagai Media Instruksional Tari Inklusif bagi Instruktur Komunitas Larajiva”, seni tak lagi dipandang sebagai hak istimewa mereka yang berpendengaran utuh, melainkan ekspresi universal milik semua orang.
Menembus Batas Melalui Pendekatan Visual
Hasil dari program pengabdian ini resmi didiseminasikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Sushrusa, Bali, pada Jumat, 4 September 2026. Media video tutorial yang dikembangkan tersebut membawa angin segar bagi metode pengajaran seni tari inklusif. Selama ini, pembelajaran tari sangat mengandalkan instruksi audio serta ritme musik langsung. Namun, melalui media audiovisual yang disusun secara sistematis, peserta didik tuli dan bisu kini dapat mengamati setiap detil gerak tari secara terstruktur.
Keunggulan utama dari media instruksional ini terletak pada kemudahannya untuk diulang (playback) sesuai dengan kecepatan belajar peserta. Para pemelajar dapat memperhatikan dengan cermat posisi tubuh, gestur tangan, hingga ekspresi wajah instruktur. Dengan pendekatan visual ini, proses edukasi seni tidak lagi bergantung penuh pada instruksi verbal di tempat, sehingga instruktur dapat mengajar secara lebih fleksibel dan efektif.
Komitmen Merawat Keberagaman Seni
Ketua Tim PKM ISI Bali, Dr. I Wayan Agus Eka Cahyadi, S.Sn., M.A., menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari pemetaan kebutuhan di lapangan mengenai pentingnya metode pengajaran yang adaptif terhadap karakteristik peserta didik disabilitas.
“Pengembangan media tutorial ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan metode pembelajaran seni yang mampu beradaptasi dengan karakteristik peserta didik dan instruktur dalam konteks tari inklusif, khususnya untuk Komunitas Larajiva,” ujar Dr. I Wayan Agus Eka Cahyadi saat memberikan keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi audiovisual dalam seni pertunjukan merupakan wujud nyata inklusivitas di perguruan tinggi seni. “Media ini diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih fleksibel dan mudah diakses kembali kapan saja oleh peserta maupun pengajar,” imbuhnya dengan rasa optimisme.
Ringkasan Program Tari Inklusif ISI Bali 2026
| Indikator | Keterangan Pelaksanaan |
|---|---|
| Pelaksana Utama | LPPM ISI Bali & Komunitas Larajiva |
| Lokasi Diseminasi | SLB Sushrusa, Bali |
| Sasaran Utama | Instruktur Tari & Peserta Didik Tuli/Bisu |
| Fokus Inovasi | Videografi Tutorial Koreografi Visual Aksesibel |
Kolaborasi antara akademisi ISI Bali dan Komunitas Larajiva ini memperlihatkan betapa pentingnya sinergi dalam membangun ekosistem seni yang ramah disabilitas. Dengan adanya materi panduan berbasis video ini, para instruktur kini memiliki standar pengajaran visual yang dapat disebarluaskan ke berbagai komunitas penyandang disabilitas lainnya.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, inisiatif dari Bali ini menjadi bukti nyata bahwa keheningan bukanlah penghalang untuk menari. Seni tari adalah bahasa tubuh universal yang mampu melampaui keterbatasan suara, menghadirkan kesetaraan di atas panggung kehidupan.
Comments (0)