Oct 12, 2026
Politik

Asmara Abigail dan Cornelio Sunny Riset Kehidupan Pemandu Lagu untuk Film Sumpah Darah

JAKARTA — Aktris Asmara Abigail bersama sutradara Cornelio Sunny menggarap film horor terbaru berjudul Sumpah Darah, sebuah produksi yang mengangkat latar kehidupan pemandu lagu atau Lady Companion ...

Asmara Abigail dan Cornelio Sunny Riset Kehidupan Pemandu Lagu untuk Film Sumpah Darah

JAKARTA — Aktris Asmara Abigail bersama sutradara Cornelio Sunny menggarap film horor terbaru berjudul Sumpah Darah, sebuah produksi yang mengangkat latar kehidupan pemandu lagu atau Lady Companion (LC) sebagai fondasi cerita tokoh utamanya. Dalam proses penggarapan, tim produksi menempuh langkah riset lapangan dengan mendatangi sejumlah tempat hiburan malam secara langsung guna mengamati realitas profesi tersebut.

Cornelio Sunny menyatakan bahwa observasi tersebut tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melibatkan jajaran pemain serta asisten sutradara yang turut serta dalam kunjungan lapangan. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen produksi menjadi penting agar gerak-gerik para pemain saat memerankan karakter LC memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara artistik.

"Kami melakukan riset ke LC sungguhan, bahkan bersama Asmara waktu itu. Asisten sutradara ikut, pemain ikut, saya ikut. Jadi gerak-gerik pemain di sini sebagai LC kurang lebih berdasarkan riset nyata," kata Sunny di Jakarta Utara, Sabtu (10/10).

Sunny menegaskan bahwa kunjungan tersebut murni bertujuan untuk studi dan pendalaman karakter, bukan untuk kepentingan lain. Ia menyebut seluruh tim berusaha memahami dinamika interaksi yang berlangsung di lingkungan tersebut sebelum menerjemahkannya ke dalam bahasa sinematografi.

Interaksi Langsung sebagai Kunci Pemeranan

Bagi Asmara Abigail, interaksi langsung dengan subjek riset menjadi kunci dalam membangun karakter yang meyakinkan di layar lebar. Ia mengungkapkan bahwa pendekatan tersebut memungkinkannya menangkap detail perilaku, tutur kata, hingga kebiasaan sehari-hari yang tidak dapat diperoleh hanya melalui kajian literatur.

Aktris yang telah membintangi sejumlah judul film nasional itu menyebut keterlibatannya dalam proses riset berlangsung bersama empat hingga lima orang narasumber. Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar memerankan sosok LC, melainkan menghadirkan sosok tersebut secara believable atau dapat dipercaya oleh penonton.

"Kami ajak ngobrol, makan kacang. Empat atau lima orang waktu riset. Menurut aku sebagai aktor, ini tantangan tentunya menjadi LC, dan menjadi LC yang believable itu juga tantangan tersendiri," ungkap Asmara.

Pendekatan riset semacam ini, menurut Asmara, menjadi bagian tak terpisahkan dari proses keaktoran yang menuntut kedisiplinan dan ketelitian. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap latar belakang tokoh akan menentukan kualitas penghayatan ketika pengambilan gambar berlangsung.

Menyoroti Kompleksitas Pilihan Hidup Perempuan

Eksplorasi terhadap dunia pemandu lagu berangkat dari keinginan Cornelio Sunny untuk menyoroti kompleksitas pilihan hidup perempuan secara jujur. Ia menilai dinamika di balik profesi tersebut sangat beragam dan tidak dapat direduksi menjadi satu narasi tunggal.

Sunny menjelaskan bahwa keputusannya mengangkat sosok LC dilatarbelakangi oleh keberagaman latar belakang yang ia temukan di lapangan. Menurutnya, terdapat perempuan yang memilih profesi tersebut secara sadar, namun ada pula yang berada dalam situasi keterpaksaan.

"Saya memutuskan LC karena banyak sekali LC yang sebenarnya juga tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tetapi hidupnya juga apakah dia memilih untuk jadi LC, apakah dia terpaksa jadi LC. Yang saya gali itu sebenarnya di sini," ujar Sunny.

Sutradara tersebut menambahkan bahwa pilihan perempuan untuk menjadi pemandu lagu merupakan hak yang sah, termasuk apabila mereka merasa bahagia dengan profesi itu. Namun, ia juga ingin menghadirkan sisi lain, yakni mereka yang menjalaninya tanpa kebahagiaan.

"Pilihan perempuan juga sah-sah saja kalau mau jadi LC dan dia happy, itu tidak masalah. Yang saya berusaha filmkan itu ada yang memilih, ada yang happy, ada yang tidak," lanjutnya.

Menolak Eksploitasi Sensualitas

Sunny menegaskan bahwa pendekatan visual dalam film Sumpah Darah menolak mengeksploitasi sensualitas tubuh perempuan. Ia memilih berfokus pada ruang personal yang jarang tersentuh kamera, yakni kehidupan para pemandu lagu setelah jam kerja berakhir.

Menurutnya, penampilan seksi yang melekat pada profesi tersebut hanyalah bagian dari tuntutan pertunjukan, bukan keseluruhan identitas mereka. Ia ingin menampilkan sisi manusiawi ketika para perempuan itu pulang ke rumah, melepas atribut profesional, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini disebut Sunny sebagai upaya menghadirkan representasi yang lebih berimbang. Alih-alih menempatkan sensualitas sebagai daya tarik utama, ia mengarahkan kamera pada pergulatan batin dan pilihan hidup yang dihadapi para tokoh.

Film Sumpah Darah sendiri diproduksi oleh Bushi Bros Film dan menempatkan Asmara Abigail sebagai tokoh sentral. Kombinasi antara riset lapangan yang mendalam dan pendekatan naratif yang tidak eksploitatif diharapkan memberikan perspektif baru bagi penonton dalam memandang profesi yang kerap dipenuhi stigma tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, tim produksi belum merinci jadwal penayangan resmi film tersebut. Namun, proses riset yang telah dilakukan menegaskan komitmen para pembuat film untuk menghadirkan karya yang bertumpu pada realitas, bukan sekadar konstruksi imajinasi semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User