AS Monaco — CEO Akui Transfer Paul Pogba Tak Sesuai Harapan
Bendera merah putih berkibar di Stade Louis II, tetapi aroma kekecewaan justru lebih kentang daripada semangat menyambut musim baru Ligue 1. Di sela latiha
Bendera merah putih berkibar di Stade Louis II, tetapi aroma kekecewaan justru lebih kentang daripada semangat menyambut musim baru Ligue 1. Di sela latihan intens yang dipimpin pelatih Adi Hütter, CEO AS Monaco Thiago Scuro menyampaikan isyarat yang mengejutkan publik sepak bola Prancis: proyek Paul Pogba di Principality tampak akan berakhir prematur. Dalam jumpa pers singkat usai sesi evaluasi pramusim, Scuro tidak lagi menyembunyikan fakta bahwa transfer gelandang bintang Prancis tersebut tidak berjalan sesuai rencana. "Kami membawa Paul dengan harapan besar, tetapi realitas di lapangan berkata lain," ujarnya dengan nada datar yang justru mempertegas bobot kekecewaan itu.
Pogba tiba di Monaco pada Januari 2025 sebagai agen bebas, setelah kontraknya bersama Juventus diakhiri lebih awal dan sanksi doping empat tahun yang sempat menghantuinya direduksi menjadi 18 bulan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Transfer ini dielu-elukan sebagai homecoming emosional sekaligus taruhan strategis untuk mengangkat performa tim yang saat itu terseok di papan tengah. Kini, beban taruhan itu berubah menjadi beban psikologis yang harus diurai manajemen.
Ekspektasi Tinggi yang Tak Terpenuhi
Ketika pengumuman kedatangan Pogba meluncur dari kanal resmi klub, tagar #PogbackToMonaco sempat menggema di media sosial. Manajemen mengharapkan sosok gelandang box-to-box yang bisa menjadi jangkar di lini tengah, menghubungkan transisi bertahan ke menyerang, sekaligus memberikan dimensi pengalaman di ruang ganti yang dihuni banyak pemain muda. Kontrak berdurasi 18 bulan dengan opsi perpanjangan satu tahun menjadi bukti optimisme kedua belah pihak. Namun, optimisme itu menguap dalam hitungan bulan.
Masalah kebugaran langsung menghantam. Pogba melewatkan tiga pekan pertama karena program pemulihan pasca-sanksi, lalu mengalami cedera hamstring ringan saat debut sebagai pemain pengganti melawan Stade Rennais pada Februari. Total ia hanya mencatatkan 12 penampilan di semua kompetisi, dengan rataan waktu bermain 37 menit per laga, tanpa satu pun gol dan hanya menyumbang satu assist. Statistik itu jauh di bawah standar minimum yang diharapkan untuk pemain dengan gaji yang dilaporkan menyentuh angka €6 juta per musim di luar bonus.
Kontribusi Minim di Lapangan
Data dari statistik lanjutan memperlihatkan gambaran yang lebih muram. Expected assists Pogba hanya 0,8 per 90 menit, turun drastis dari rata-rata 2,1 yang pernah ia torehkan saat masih berseragam Manchester United musim 2020/21. Progressive carries dan passes into final third miliknya juga berada di kuartil bawah di antara gelandang Ligue 1. Di sesi latihan, sumber internal klub yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa staf pelatih beberapa kali harus menyesuaikan porsi latihan karena Pogba mengeluhkan ketidaknyamanan di area paha dan betis. Siklus cedera yang berulang itu perlahan menggerus kepercayaan tim pelatih dan rekan-rekan setim.
Ketidakteraturan ritme bertanding juga berimbas pada chemistry taktikal. Hütter yang mengusung formasi 3-4-2-1 membutuhkan gelandang tengah yang bisa menutup ruang dengan agresif, sementara Pogba tampak kesulitan menyamai intensitas pressing yang diinstruksikan. Beberapa kali, kamera lapangan menangkap gestur frustrasi dari pemain bertahan Monaco ketika Pogba terlambat turun membantu pertahanan. Situasi ini menciptakan ketegangan tidak kasat mata yang terus menumpuk hingga akhir musim.
Sinyal Perpisahan dari Sang CEO
Dalam wawancara yang digelar di pusat pelatihan La Turbie, Scuro akhirnya membuka kartu. Ia tidak lagi menutupi kemungkinan perpisahan menjelang bursa transfer musim panas yang segera dibuka. Berikut penggalan pernyataannya:
"Kami merekrut Paul dengan visi jangka pendek yang ambisius, tetapi hasilnya tidak seperti yang kami rencanakan. Semua pihak sudah berkomunikasi. Ada kemungkinan kami akan mengambil jalan yang berbeda. Tujuan kami adalah membangun skuat yang siap bertempur sejak pekan pertama, dan kami harus jujur jika ada bagian yang tidak klop."
Pernyataan itu sontak menjadi headline utama media olahraga Prancis. L'Équipe menurunkan tajuk "Pogba-Monaco: le divorce programmé" di halaman depannya. Sementara itu, RMC Sport menyebut bahwa agen Pogba, Rafaela Pimenta, sudah mulai menjajaki peluang ke MLS dan Arab Saudi, meski belum ada tawaran resmi yang masuk.
Respon Minimalis dari Sang Pemain
Berbeda dengan masa lalu di mana Pogba kerap tampil ekspresif di media, kali ini responsnya sangat terukur. Melalui unggahan Instagram story, ia hanya menuliskan kalimat singkat: "Masih fokus. Masih percaya. #Alhamdulillah." Tidak ada klarifikasi, tidak ada serangan balik. Rekan dekatnya di tim nasional Prancis, yang enggan dikutip langsung, mengungkapkan bahwa Pogba sebenarnya ingin bertahan dan membuktikan diri, tetapi isyarat dari manajemen membuat posisinya sulit. Ada nada pasrah yang terbaca di antara baris-baris emoji sederhana itu.
Kepergian Pogba akan menjadi tamparan telak bagi narasi kebangkitan yang sempat dirajut Monaco. Klub asal Monegasque itu mengakhiri musim 2025/26 di peringkat enam, gagal masuk zona Eropa, dan Scuro sudah menegaskan akan ada perombakan skuat. Aset-aset mahal yang tidak berkontribusi optimal akan menjadi prioritas pemangkasan.
Kini, hanya tanda tanya yang tersisa. Apakah Pogba akan menjadi bagian dari revolusi MLS, mengikuti jejak Lionel Messi, atau memilih petualangan finansial di Timur Tengah? Atau akankah ada klub Eropa yang masih sudi menampung talenta yang tak lagi muda dan renta cedera? Musim panas ini akan menjadi saksi babak akhir dari proyek yang dimulai dengan gegap gempita dan berakhir dengan bisik-bisik kekecewaan. Bagi AS Monaco, keputusan sudah hampir bulat; bagi Pogba, ini mungkin kesempatan terakhir untuk menulis ulang warisannya.
Comments (0)