Apel Siaga Digelar Pascabentrokan Antarpendukung Partai di Menteng
Jakarta — Kepolisian Daerah Metro Jaya bersama pengurus partai politik menggelar apel siaga di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (20/6/2025) dini hari, beberapa jam setelah bentrokan antar kelom...
Jakarta — Kepolisian Daerah Metro Jaya bersama pengurus partai politik menggelar apel siaga di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (20/6/2025) dini hari, beberapa jam setelah bentrokan antar kelompok massa yang menewaskan satu orang dan melukai 14 lainnya. Apel tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Andi Sudirman dan dihadiri perwakilan dua partai yang pendukungnya terlibat kericuhan.
Bentrokan pecah sekitar pukul 21.30 WIB di Jalan Cikini Raya, tepat di depan sebuah rumah makan yang kerap dijadikan titik kumpul politik. Dua kelompok yang masing-masing mengusung atribut partai berbeda terlibat saling lempar batu, kembang api, dan bambu runcing. Polisi yang tiba 15 menit kemudian terpaksa melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Satu korban tewas di lokasi akibat luka tusuk benda tajam, sementara 14 orang lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Kronologi dan Pemicu Bentrokan
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Dian Prasetyo, bentrokan dipicu oleh provokasi di media sosial yang memperuncing persaingan kedua kubu menjelang pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. “Kami menemukan puluhan unggahan bernada hasutan dan ancaman sejak tiga hari terakhir. Malam ini puncaknya, dua kubu janjian bertemu melalui pesan berantai,” ujarnya di lokasi.
Polisi mengamankan 27 orang yang diduga sebagai provokator dan pelaku pengeroyokan. Barang bukti yang disita meliputi tiga bilah parang, lima ikat kembang api ukuran besar, puluhan batu, serta atribut partai yang robek dan berlumuran darah. Identitas kedua kelompok belum diungkap secara resmi, namun sumber di kepolisian menyebutkan mereka adalah simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang selama ini bersaing ketat di bursa calon gubernur.
Apel Siaga dan Langkah Penertiban
Apel siaga digelar di Lapangan Banteng, sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian, dihadiri 500 personel gabungan dari Satuan Brimob, Sabhara, dan Reserse Mobile. Dalam arahannya, Kapolda Andi Sudirman menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap aksi kekerasan berbau politik. “Kami sudah berkoordinasi dengan pimpinan pusat kedua partai. Apel siaga ini untuk memastikan seluruh jajaran siaga 24 jam dan tidak ada lagi korban jiwa sia-sia seperti malam tadi,” kata Andi, seraya menambahkan bahwa patroli skala besar akan diterapkan di seluruh wilayah rawan selama masa pendaftaran calon kepala daerah.
Ketua DPP PKS Bidang Keamanan dan Ketertiban, Ahmad Fauzi, yang hadir dalam apel tersebut, mengecam keras tindakan anarkistis dan meminta kader menahan diri. “Ini bukan cerminan akhlak kader PKS. Kami mendukung penuh langkah tegas kepolisian dan siap membantu proses hukum,” katanya. Sementara itu, perwakilan Gerindra, Sekretaris Jenderal DPP Gerindra Aryo Djojohadikusumo, menyatakan partainya akan memberhentikan kader yang terbukti terlibat langsung. “Partai tidak akan melindungi biang keributan. Apel ini momentum untuk kembali ke aturan main demokrasi yang beradab,” ucapnya.
Dampak Politik dan Respons Publik
Bentrokan Menteng langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai elemen masyarakat. Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) meminta KPU DKI dan Bawaslu segera memanggil pimpinan partai peserta pemilihan untuk menandatangani pakta integritas anti-kekerasan. “Ini alarm keras. Kalau sejak masa pendaftaran sudah begini, kita khawatir masa kampanye nanti lebih brutal,” kata Koordinator KIPP, Rahmat Hidayat.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Lely Arrianie, menilai peristiwa ini sebagai puncak akumulasi ketegangan yang tidak dikelola dengan baik oleh elite partai. “Mereka sibuk saling jegal lewat narasi negatif, lupa bahwa massa di akar rumput sangat mudah terpantik. Apel siaga boleh-boleh saja, tapi yang lebih penting adalah pembenahan komunikasi politik para elite,” ujarnya.
Sementara itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendesak Polda Metro Jaya segera merampungkan berkas perkara dan mengumumkan tersangka dalam waktu 1x24 jam. “Kami akan awasi betul agar tidak ada tebang pilih. Bentrokan ini melibatkan massa partai besar, jadi transparansi mutlak diperlukan,” tegas anggota Kompolnas, Poengky Indarti.
Hingga Jumat pagi, situasi di Menteng berangsur kondusif. Ratusan personel tetap disiagakan di titik-titik strategis, termasuk bundaran Hotel Indonesia dan Stasiun Cikini. Aktivitas warga mulai normal kembali meskipun sejumlah pedagang kaki lima memilih tutup karena trauma. Polisi berjanji akan menggelar apel siaga secara rutin hingga tahapan pemilihan kepala daerah selesai.
Comments (0)