Krisis akses air bersih berkepanjangan terus mencekik ribuan penduduk pedesaan di Provinsi Eastern Cape, Afrika Selatan. Warga di kawasan Buthongweni dan sekitarnya dilaporkan telah menanti realisasi penyediaan air bersih selama lebih dari dua dekade, meskipun proyek infrastruktur air berskala besar telah berulang kali didanai oleh pemerintah setempat.
Kekecewaan warga memuncak lantaran proyek bertajuk Buthongweni Water Supply Scheme telah berganti kontraktor hingga empat kali dalam 20 tahun terakhir. Namun, hingga saat ini, pipa-pipa dan keran air publik yang terpasang di pemukiman warga masih tetap kering tanpa setetes air pun yang mengalir.
Kronologi Dua Dekade Kegagalan Proyek Infrastruktur Air
Proyek penyediaan air bersih ini awalnya dirancang untuk mengakhiri krisis sanitasi di wilayah pedesaan Eastern Cape. Namun, buruknya tata kelola dan lemahnya pengawasan proyek membuat realisasinya mandek selama bertahun-tahun. Berikut rekam jejak perjalanan proyek tersebut:
- Awal Tahun 2000-an: Pemerintah daerah meluncurkan Buthongweni Water Supply Scheme dengan target awal memasok air bersih layak konsumsi ke ratusan rumah tangga desa. Kontraktor pertama ditunjuk untuk memasang pipa utama dan tangki penampungan.
- Periode 2010–2018: Pergantian kontraktor kedua dan ketiga terjadi akibat pemutusan kontrak kerja sama sepihak. Pengerjaan terhenti berulang kali di tengah jalan akibat sengketa anggaran, keterlambatan pembayaran, serta dugaan salah urus logistik konstruksi.
- Periode 2019–Sekarang: Kontraktor keempat ditugaskan untuk merampungkan instalasi pipa distribusi dan stasiun pompa. Kendati infrastruktur fisik tampak berdiri di sejumlah titik, fasilitas tersebut ditinggalkan mangkrak dan tidak pernah beroperasi secara fungsional.
"Kami sudah dijanjikan air bersih sejak anak-anak kami masih kecil hingga kini mereka telah dewasa. Empat perusahaan konstruksi datang dan pergi membawa alat berat, tetapi keran air kami tetap kering kerontang," ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Dampak Krisis: Mengonsumsi Air Bersama Hewan Ternak
Akibat mangkraknya proyek selama lebih dari 20 tahun, warga terpaksa mencari alternatif sumber air yang sangat berisiko bagi kesehatan. Setiap hari, para perempuan dan anak-anak harus berjalan kaki berkilo-kilometer melintasi medan perbukitan terjal demi mengambil air dari sungai dan kubangan terbuka.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam terkait penyebaran penyakit menular yang ditularkan melalui air (waterborne diseases) seperti kolera dan diare kronis, mengingat sumber air alami tersebut juga digunakan bersama oleh hewan ternak warga.
- Beban Ekonomi: Sebagian warga yang memiliki pendapatan terpaksa menyisihkan uang dalam jumlah besar untuk membeli air tangki swasta dengan harga tinggi.
- Krisis Sanitasi: Fasilitas umum seperti sekolah pedesaan dan klinik kesehatan mengalami kesulitan operasional akibat ketiadaan sanitasi memadai.
- Infrastruktur Rusak: Pipa-pipa yang tertanam bertahun-tahun tanpa dialiri air mulai mengalami kerusakan dan korosi sebelum sempat dimanfaatkan.
Tuntutan Transparansi dan Pertanggungjawaban Anggaran
Komunitas lokal bersama aktivis hak asasi manusia kini mendesak otoritas distrik dan kementerian terkait untuk melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana publik dalam proyek Buthongweni Water Supply Scheme. Warga menuntut adanya tindakan hukum tegas terhadap kontraktor nakal serta penyelesaian segera instalasi jaringan air agar hak dasar masyarakat pedesaan dapat terpenuhi secara bermartabat.
Comments (0)