Sep 16, 2026
Hukum

AFGHANISTAN — Al Qaeda Masih Bebas Beroperasi di Bawah Taliban

KABUL — Hampir seperempat abad berlalu sejak tragedi mematikan 11 September 2001 di Amerika Serikat, kelompok ekstremis Al Qaeda dilaporkan masih menemukan

AFGHANISTAN — Al Qaeda Masih Bebas Beroperasi di Bawah Taliban

KABUL — Hampir seperempat abad berlalu sejak tragedi mematikan 11 September 2001 di Amerika Serikat, kelompok ekstremis Al Qaeda dilaporkan masih menemukan rumah aman di Afghanistan. Meskipun pemerintah Taliban secara berulang kali mengklaim bahwa wilayah mereka tidak lagi menjadi sarang bagi organisasi teroris internasional, berbagai laporan intelijen global dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan kenyataan yang bertolak belakang. Keberadaan jaringan ini kembali membangkitkan kekhawatiran lama masyarakat internasional mengenai potensi kebangkitan aksi terorisme global dari kawasan Asia Selatan.

Perjanjian Doha 2020 yang ditandatangani antara Amerika Serikat dan Taliban secara tegas mewajibkan kelompok tersebut untuk memutuskan seluruh hubungan dengan Al Qaeda. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa komitmen tersebut belum sepenuhnya dipenuhi. Sebaliknya, hubungan sejarah dan ideologi yang mengakar kuat selama puluhan tahun tampaknya sangat sulit diputuskan begitu saja oleh kepemimpinan Taliban saat ini.

Kilas Balik Kehadiran Al Qaeda di Afghanistan

Dinamika hubungan antara Taliban dan jaringan terorisme di Afghanistan telah melewati sejarah panjang yang penuh ketegangan geopolitik. Berikut adalah urutan kronologis perkembangan kehadiran Al Qaeda di tanah Afghanistan hingga saat ini:

  1. Tahun 1996: Pendiri Al Qaeda, Osama bin Laden, memindahkan basis operasinya dari Sudan ke Afghanistan atas undangan kepemimpinan Taliban.
  2. Tahun 2001: Serangan 11 September memicu invasi militer Amerika Serikat yang berhasil menggulingkan rezim pertama Taliban karena menolak menyerahkan pimpinan Al Qaeda.
  3. Tahun 2020: Penandatanganan Perjanjian Doha, di mana Taliban berjanji tidak akan mengizinkan tanah Afghanistan digunakan untuk mengancam keamanan negara lain.
  4. Tahun 2021: Pasukan AS ditarik sepenuhnya dan Taliban kembali menguasai Kabul, memicu kekhawatiran kembalinya kelompok-kelompok radikal.
  5. Tahun 2022: Pemimpin Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri, tewas dalam serangan drone AS di pusat kota Kabul, membuktikan kehadiran tingkat tinggi Al Qaeda di wilayah kekuasaan Taliban.

Analisis Data: Janji Taliban vs Realita Lapangan

Laporan dari Dewan Keamanan PBB menyebutkan bahwa Al Qaeda tidak hanya bertahan, tetapi juga mendirikan beberapa kamp pelatihan baru di setidaknya 12 provinsi di Afghanistan. Selain itu, diperkirakan ada sekitar 400 hingga 1.000 anggota Al Qaeda yang saat ini aktif beroperasi di negara tersebut, lengkap dengan fasilitas safe house dan akses pendanaan lokal.

Berikut adalah tabel perbandingan antara klaim resmi pemerintah Taliban dan fakta temuan dari laporan intelijen internasional:

Aspek Evaluasi Klaim Resmi Taliban Temuan Laporan PBB & Intelijen
Status Kehadiran Tidak ada anggota Al Qaeda di Afghanistan Memiliki kamp pelatihan aktif di 12 provinsi
Fasilitas Operasional Seluruh kamp teroris telah dihancurkan Pusat komando dan rumah aman aktif di Kabul & Jalalabad
Hubungan Pejabat Hubungan resmi telah diputus total Sejumlah komandan Al Qaeda memangku posisi di struktur lokal

Risiko Kebangkitan Terorisme Global

Banyak analis keamanan menilai bahwa sikap lunak Taliban terhadap Al Qaeda didorong oleh ikatan ikrar setia (bay'ah) yang belum pernah dicabut secara formal. Hal ini memberikan ruang gerak yang cukup luas bagi Al Qaeda untuk melakukan rekrutmen dan konsolidasi internal tanpa gangguan berarti dari otoritas lokal.

"Al Qaeda tidak lagi membutuhkan jumlah pasukan yang sangat besar untuk menjadi ancaman berbahaya. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang aman untuk merencanakan dan mengoordinasikan operasi jangka panjang," ujar Dr. Michael Clarke, seorang pengamat senior geopolitik dan keamanan internasional.

Kondisi ini semakin diperparah dengan tidak adanya pengakuan internasional secara penuh terhadap pemerintahan Taliban, yang membatasi kerja sama intelijen langsung antara negara-negara Barat dan otoritas Kabul. Ketidakpastian politik serta krisis ekonomi di Afghanistan juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memperkuat cengkeraman ideologi mereka di kalangan masyarakat lokal yang rentan.

Menghadapi 25 tahun peringatan tragedi 9/11, dunia internasional dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ancaman yang memicu perang terlama dalam sejarah Amerika Serikat tersebut belum sepenuhnya padam. Penanganan isu ini memerlukan pendekatan diplomasi dan tekanan ekonomi yang lebih terukur dari komunitas global guna memastikan Afghanistan tidak kembali menjadi episentrum terorisme dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User