350 Calon Taruna-Taruni Lolos Seleksi Akpol 2026

Jakarta, 27 Juli 2026 – Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri mengumumkan hasil akhir seleksi penerimaan calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 pada Sabtu (27/7). Sebanyak 350 p...

350 Calon Taruna-Taruni Lolos Seleksi Akpol 2026

Jakarta, 27 Juli 2026 – Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri mengumumkan hasil akhir seleksi penerimaan calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 pada Sabtu (27/7). Sebanyak 350 peserta dinyatakan lolos dari ribuan pendaftar yang mengikuti rangkaian tes ketat dan berhak melanjutkan ke tahap pendidikan pembentukan perwira di Kampus Akpol, Semarang, Jawa Tengah.

Dari jumlah tersebut, 320 orang merupakan calon taruna laki-laki dan 30 calon taruni perempuan. Komposisi ini mengacu pada kuota yang ditetapkan dalam Keputusan Kapolri Nomor Kep/256/VI/2026 tentang Penerimaan Terpadu Anggota Polri Tahun Anggaran 2026. Penetapan kuota mempertimbangkan kebutuhan organisasi serta proyeksi regenerasi perwira di berbagai satuan kerja pada tahun 2030 mendatang.

Sistem Computer Assisted Test Berstandar Olimpiade

Proses seleksi tahun ini menandai babak baru dalam rekrutmen Akpol dengan penerapan penuh sistem Computer Assisted Test (CAT) yang mengadopsi standar olimpiade sains nasional. Kebijakan ini ditempuh untuk meningkatkan transparansi dan akurasi penilaian, sekaligus meminimalkan potensi kecurangan. Materi ujian mencakup Tes Potensi Akademik dengan bobot soal setara olimpiade matematika, sains, dan logika, Tes Kemampuan Bahasa Inggris bertaraf internasional, serta Tes Psikologi terkomputerisasi yang mengukur integritas dan stabilitas emosi.

Setiap sesi ujian diawasi langsung oleh tim pengawas internal dan perwakilan pengamanan dari Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri. Hasil ujian dapat dipantau secara real-time oleh panitia pusat melalui sistem terintegrasi. Dengan mekanisme ini, penilaian berlangsung objektif tanpa intervensi manual.

Pejabat SSDM Sebut Transparansi sebagai Kunci

Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia, Inspektur Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa standar tinggi diberlakukan guna menjaring kandidat terbaik yang kelak akan memimpin institusi.

“Kami tidak sekadar mencari peserta dengan nilai tertinggi, tetapi juga karakter unggul yang mampu berpikir kritis di bawah tekanan. Sistem CAT dengan standar soal setara olimpiade kami pilih agar parameter kecerdasan kognitif lebih terukur dan bebas dari subjektivitas. Seluruh data langsung tercatat di pusat, sehingga celah intervensi dari pihak mana pun tertutup,”

ujarnya di sela pengumuman hasil seleksi.

Irjen Pol. Dedi menambahkan, total pendaftar tahun ini mencapai lebih dari 6.800 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat sekitar 5.200 pendaftar. Setelah penyaringan administrasi, kesehatan, psikologi, dan akademik, hanya 350 orang yang memenuhi syarat. Rasio keketatan mencapai 1:19, menjadikan seleksi Akpol 2026 sebagai salah satu yang paling kompetitif dalam satu dasawarsa terakhir.

Tahapan Pendidikan Dimulai pada Agustus

Seluruh peserta yang lulus diwajibkan melapor ke Akademi Kepolisian di Semarang pada 4 Agustus 2026 untuk mengikuti pendidikan dasar kepolisian selama empat tahun. Program pembentukan mencakup pendidikan akademik setara strata satu (S1) Ilmu Kepolisian, pelatihan fisik dan bela diri, serta pembinaan mental dan etika profesi. Pendidikan akan dibuka secara resmi oleh Kapolri Jenderal Polisi dalam upacara tradisi penerimaan taruna baru.

Lebih lanjut, Irjen Pol. Dedi mengungkapkan bahwa para calon perwira ini diharapkan mampu menjawab tantangan keamanan di era digital. Kurikulum Akpol juga akan diperkuat dengan modul kejahatan siber, intelijen teknologi, dan kepemimpinan adaptif.

“Mereka adalah generasi emas yang akan memimpin Polri pada tahun 2040-an. Oleh karena itu, sejak dini kami bekali dengan kemampuan teknis dan wawasan strategis. Standar olimpiade yang diterapkan saat seleksi merupakan fondasi awal untuk mencetak pemimpin Polri yang cerdas, responsif, dan humanis,”

imbuhnya.

Setelah lulus pada tahun 2030, para taruna dan taruni ini akan menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) dan ditempatkan di berbagai satuan wilayah sesuai kebutuhan organisasi. SSDM Polri menegaskan, seluruh proses seleksi dan pendidikan sepenuhnya dibiayai negara tanpa pungutan biaya apa pun, sejalan dengan prinsip bersih, transparan, akuntabel, dan humanis (BETAH) yang menjadi komitmen institusi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User