WHO Mulai Uji Klinis Dua Obat untuk Terapi Ebola di Kongo

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi memulai uji klinis terhadap dua kandidat obat untuk terapi penyakit virus Ebola di Republik Demokratik Kongo. Langkah ini diambil seiring masih tingginya angka

Jul 08, 2026 - 08:54
0 0
WHO Mulai Uji Klinis Dua Obat untuk Terapi Ebola di Kongo

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi memulai uji klinis terhadap dua kandidat obat untuk terapi penyakit virus Ebola di Republik Demokratik Kongo. Langkah ini diambil seiring masih tingginya angka penularan dan kematian akibat wabah yang kembali merebak di kawasan Afrika Tengah tersebut.

Dua obat yang akan diuji efektivitasnya adalah antibodi monoklonal MBP134 dan obat antivirus remdesivir. MBP134 merupakan campuran dari dua antibodi monoklonal yang dirancang untuk menargetkan virus Ebola secara spesifik, sementara remdesivir adalah antivirus spektrum luas yang sebelumnya telah diuji coba dalam penanganan penyakit akibat virus lain, termasuk uji klinis pada masa pandemi COVID-19, dan sejak awal dikembangkan sebagai kandidat terapi untuk Ebola dan virus Marburg.

Uji klinis ini diselenggarakan di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah yang terdampak wabah. WHO berharap hasil dari uji klinis tersebut dapat memberikan bukti ilmiah yang kuat mengenai keamanan dan efektivitas kedua obat, sehingga dapat segera digunakan secara luas untuk menyelamatkan pasien Ebola dan menekan angka kematian.

Hingga 2 Juli 2026, tercatat sebanyak 1.406 kasus Ebola dan 438 kematian akibat penyakit mematikan tersebut.

Selama dua pekan terakhir, rata-rata 38 kasus baru terkonfirmasi setiap harinya. Angka ini menunjukkan laju penularan yang masih tinggi dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi perluasan wabah ke daerah-daerah sekitar atau bahkan lintas negara jika tidak segera dikendalikan.

MBP134 dan remdesivir sebelumnya telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji laboratorium dan uji pada hewan. Kini, uji klinis fase lanjutan pada manusia di tengah kondisi wabah yang sesungguhnya menjadi langkah krusial untuk memvalidasi efektivitasnya. Pendekatan ini dikenal sebagai uji klinis terintegrasi dalam respons wabah, yang memungkinkan pengumpulan data secara lebih cepat dan etis dalam situasi darurat kesehatan masyarakat.

Ebola merupakan penyakit yang sangat menular dengan tingkat fatalitas yang tinggi, terutama pada wabah-wabah di Afrika. Gejalanya meliputi demam akut, muntah, diare, dan perdarahan internal maupun eksternal. Tanpa penanganan yang tepat, peluang kematian dapat mencapai lebih dari 50 persen, bahkan dalam beberapa wabah bisa lebih tinggi. Vaksin untuk pencegahan telah tersedia, namun kebutuhan akan terapi yang efektif bagi mereka yang sudah terinfeksi tetap menjadi prioritas utama.

Tim peneliti WHO bersama otoritas kesehatan setempat akan memantau kemajuan uji klinis ini secara ketat. Dengan semakin banyaknya korban, tekanan untuk segera mendapatkan terapi yang terbukti ampuh semakin besar. Apaberita.com akan terus memantau perkembangan uji klinis ini dan dampaknya terhadap pengendalian wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User