Profil dan Review Kinerja Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin
<h2>Profil dan Review Kinerja Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, secara resmi menjabat sebagai Bupati Trenggalek periode 2021–2024 setelah memenangkan Pilkada Serentak 2020. Ia dilantik pada
Profil dan Review Kinerja Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin
Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, secara resmi menjabat sebagai Bupati Trenggalek periode 2021–2024 setelah memenangkan Pilkada Serentak 2020. Ia dilantik pada 26 Februari 2021, mengusung visi Trenggalek yang lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya saing melalui transformasi digital serta pengembangan ekonomi kerakyatan. Sebelum menjadi orang nomor satu di Trenggalek, pria kelahiran 24 Juli 1980 ini telah lama berkecimpung di dunia politik sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek. Kepemimpinannya langsung diuji oleh situasi pandemi COVID-19 yang menuntut gebrakan cepat di sektor kesehatan sekaligus pemulihan ekonomi. Arifin dikenal sebagai kepala daerah muda yang adaptif terhadap teknologi, menjadikan pendekatan berbasis data sebagai fondasi dalam setiap kebijakan publik yang ia luncurkan. Latar belakang pendidikannya di bidang ekonomi turut membentuk cara pandangnya dalam mengelola anggaran daerah dan membidik peluang investasi di wilayah selatan Jawa Timur tersebut.
Profil dan Latar Belakang
Mochamad Nur Arifin menamatkan pendidikan tinggi di bidang ekonomi pembangunan di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Malang sebelum terjun ke dunia politik praktis. Karier politiknya dimulai dari bawah sebagai pengurus ranting dan anak cabang PDIP hingga akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Trenggalek selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Di lembaga legislatif, ia dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Ketua Fraksi PDIP dan kemudian menjadi Wakil Ketua DPRD. Pengalaman panjang di parlemen memberinya pemahaman mendalam tentang perencanaan anggaran, dinamika birokrasi, dan kebutuhan masyarakat di 14 kecamatan. Pada Pilkada 2020, Arifin berpasangan dengan Syah Muhammad Natanegara dan diusung oleh koalisi gemuk partai politik. Kemenangannya dinilai sebagai bentuk kepercayaan publik terhadap wajah baru kepemimpinan yang lebih terbuka dan progresif. Hingga kini, ia tetap aktif memperkuat konsolidasi partai dan menjadi salah satu figur PDIP Jawa Timur yang diperhitungkan di tingkat kabupaten.
Program Unggulan dan Kinerja
Salah satu program yang menjadi identitas kepemimpinan Mochamad Nur Arifin adalah Trenggalek Digital, sebuah inisiatif percepatan transformasi layanan publik berbasis teknologi informasi. Di bawah komandonya, lebih dari 90 persen desa di Trenggalek kini telah terhubung dengan akses internet melalui program Fiber to the Village, mendekatkan pelayanan administrasi kependudukan, perizinan, hingga layanan kesehatan ke pelosok desa. Pemerintah Kabupaten Trenggalek mencatat bahwa Indeks SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) daerah ini meningkat signifikan, menjadikannya salah satu percontohan smart city di wilayah Tapal Kuda. Selain itu, Arifin gencar mendorong terbentuknya Desa Digital yang mengintegrasikan BUMDes dengan platform e-commerce, membantu UMKM lokal memasarkan produk seperti batik, kopi, dan kerajinan tangan hingga ke pasar nasional. Langkah digitalisasi ini diakui oleh Kementerian Dalam Negeri dan kerap dijadikan rujukan oleh daerah lain yang ingin mereformasi birokrasi pelayanan publik.
Di sektor ekonomi kerakyatan, Arifin meluncurkan program Sejuta Kopi Trenggalek yang bertujuan menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan. Hingga akhir tahun 2025, tercatat lebih dari 1,2 juta batang bibit kopi robusta dan arabika telah disalurkan kepada petani di lereng Gunung Wilis dan pesisir selatan. Produksi kopi Trenggalek kemudian dikelola melalui koperasi petani dan dipasarkan dengan merek dagang yang terkurasi. Di sisi pariwisata, ia berhasil meningkatkan jumlah kunjungan ke destinasi unggulan seperti Pantai Pelang, Goa Lowo, dan Candi Brongkah dengan membangun infrastruktur jalan yang lebih memadai serta menggelar festival budaya secara berkala. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek menunjukkan kenaikan kunjungan wisatawan hingga 40 persen dalam tiga tahun terakhir, yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat sekitar destinasi wisata.
Kontroversi dan Tantangan
Meskipun banyak menorehkan capaian, pemerintahan Mochamad Nur Arifin tak lepas dari sorotan dan kritik. Sejumlah elemen masyarakat sipil menilai bahwa pembangunan infrastruktur digital yang masif belum dibarengi dengan penguatan potensi pertanian tradisional yang masih menjadi mata pencaharian utama mayoritas warga. Di beberapa kecamatan, petani mengeluhkan akses pupuk bersubsidi yang masih rumit dan harga jual hasil bumi yang fluktuatif. Tantangan lain datang dari kondisi fiskal daerah yang sempat tertekan akibat alokasi anggaran penanganan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor yang menerjang Trenggalek pada musim penghujan 2024. Defisit anggaran sempat memaksa Pemkab melakukan refocusing belanja, yang berdampak pada tertundanya beberapa proyek fisik. Di ranah politik, Arifin juga menghadapi ujian konsolidasi internal pasca-Pilkada, meskipun ia berhasil meredam friksi dengan mengedepankan komunikasi lintas partai. Kritik paling tajam disampaikan oleh LSM lokal yang mendesak transparansi lebih tinggi dalam pengelolaan dana desa serta evaluasi ketat terhadap program Desa Digital yang dinilai belum merata manfaatnya di desa-desa pelosok.
Penilaian dan Prospek
Secara objektif, Mochamad Nur Arifin tampil sebagai kepala daerah yang berani mengambil risiko dengan mengubah wajah Trenggalek dari kabupaten agraris konvensional menjadi laboratorium inovasi digital di pesisir selatan Jawa. Program Trenggalek Digital dan pengembangan ekonomi kopi rakyat telah membangun fondasi yang cukup kuat untuk diversifikasi ekonomi lokal, meskipun masih membutuhkan pendampingan yang lebih intensif agar tidak menciptakan ketimpangan antara desa yang maju teknologinya dan desa yang stagnan. Dengan berakhirnya masa jabatan pada 2024, Arifin telah mendeklarasikan dirinya kembali maju dalam Pilkada 2024 untuk periode kedua, sebuah langkah yang direspons positif oleh sebagian besar partai pengusung. Prospeknya ke depan sangat bergantung pada kemampuannya mendengar aspirasi petani kecil dan menyempurnakan ekosistem digital yang telah ia bangun agar benar-benar inklusif. Jika ia mampu menjawab kritik terkait ketimpangan pembangunan dan ketahanan pangan, bukan tidak mungkin biografi kepemimpinannya akan dicatat sebagai titik balik kebangkitan Trenggalek. Namun, jika ia gagal menyatukan pertumbuhan teknologi dengan kehidupan dasar rakyatnya, terobosan digitalnya hanya akan menjadi kenangan proyek mercusuar tanpa akar.
Comments (0)