Sep 17, 2026
Hukum

TAY NINH — Guru Perempuan Dedikasikan 10 Tahun Mengajar Bahasa Khmer

Di pelosok perbatasan Provinsi Tay Ninh, Vietnam, tempat hamparan pedesaan berbatasan langsung dengan Kamboja, suara riuh anak-anak mengeja abjad Khmer ter

TAY NINH — Guru Perempuan Dedikasikan 10 Tahun Mengajar Bahasa Khmer

Di pelosok perbatasan Provinsi Tay Ninh, Vietnam, tempat hamparan pedesaan berbatasan langsung dengan Kamboja, suara riuh anak-anak mengeja abjad Khmer terdengar saban pagi. Di balik papan tulis sederhana itu, berdiri Thach Thi Phat Ca Di, seorang guru berusia 32 tahun yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga napas kebudayaan leluhur. Selama hampir satu dekade, ia menjelajahi medan sulit demi memastikan anak-anak etnis minoritas Khmer di kawasan terpencil tidak kehilangan identitas bahasa ibu mereka.

Mengajar di wilayah perbatasan bukanlah tugas yang mudah. Akses infrastruktur yang terbatas dan minimnya tenaga pendidik menjadi realitas pahit yang harus dihadapi setiap hari. Namun, bagi Phat Ca Di, mengajar bukan sekadar pekerjaan formal, melainkan sebuah misi suci. Saat ini, ia mencatatkan diri sebagai satu dari hanya tiga guru yang aktif mengajar Bahasa Khmer di seluruh kawasan perbatasan Tay Ninh. Keberadaannya bagaikan oase di tengah ancaman kepunahan bahasa daerah di kalangan generasi muda.

Dedikasi Nyata di Perbatasan Vietnam-Kamboja

Perjalanan pengabdian Phat Ca Di dimulai hampir 10 tahun lalu. Kala itu, ia memutuskan untuk mengajar di wilayah terluar setelah menyelesaikan pendidikannya. Keinginannya sederhana: memberikan ruang bagi anak-anak etnis Khmer untuk belajar membaca dan menulis dalam bahasa asli mereka. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, banyak anak etnis minoritas lebih terbiasa menggunakan Bahasa Vietnam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mengikis kemampuan berbahasa daerah.

"Melihat anak-anak mampu membaca dan menulis abjad Khmer dengan fasih adalah kebahagiaan tertinggi saya. Jika bukan kita yang menjaga bahasa ini, siapa lagi yang akan meneruskannya kepada generasi mendatang?" tutur Phat Ca Di dengan rasa haru.

Perjuangan Phat Ca Di kerap berhadapan dengan tantangan logistik. Jarak sekolah yang jauh dari permukiman warga sering kali membuat anak-anak enggan hadir. Namun, dengan pendekatan personal yang hangat, ia tak ragu mendatangi rumah-rumah warga untuk meyakinkan para orang tua betapa pentingnya pendidikan berbasis bahasa daerah.

Kelangkaan Pengajar dan Tantangan Pelestarian Budaya

Kondisi pendidikan bahasa daerah di wilayah terluar Vietnam menghadapi kendala serius. Minimnya minat generasi muda untuk menjadi pengajar bahasa etnis membuat jumlah tenaga pendidik terus menyusut. Saat ini, keterbatasan jumlah guru menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan kurikulum bahasa daerah di wilayah tersebut.

Berikut adalah gambaran umum tantangan dan kondisi pelestarian Bahasa Khmer di wilayah perbatasan Tay Ninh:

Indikator Kebijakan Kondisi Riil di Lapangan
Jumlah Tenaga Pendidik Hanya 3 Guru aktif di seluruh kawasan perbatasan Tay Ninh.
Masa Pengabdian Utama Hampir 10 Tahun didedikasikan oleh Thach Thi Phat Ca Di.
Tantangan Aksesibilitas Keterbatasan fasilitas, lokasi terpencil, dan dominasi bahasa nasional.
Fokus Pembelajaran Menjaga kelestarian literasi abjad lisan dan tulisan Khmer pada generasi muda.

Analis pendidikan menilai bahwa peran guru seperti Phat Ca Di tidak hanya penting bagi pendidikan dasar, tetapi juga menjadi pilar utama ketahanan budaya bangsa. Ketangguhan para pendidik di garis batas negara merupakan perisai utama dalam melestarikan warisan takbenda yang kian terancam punah.

Membangun Harapan Generasi Muda Etnis Khmer

Kehadiran Phat Ca Di di ruang kelas membawa perubahan signifikan bagi motivasi belajar murid-muridnya. Dengan metode pengajaran yang interaktif dan penuh kesabaran, anak-anak tidak lagi menganggap pelajaran Bahasa Khmer sebagai beban, melainkan sebagai kebanggaan identitas. Banyak orang tua kini mulai menyadari betapa pentingnya keseimbangan antara menguasai Bahasa Vietnam sebagai bahasa nasional dan Bahasa Khmer sebagai warisan leluhur.

Di usia 32 tahun, Phat Ca Di tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dari pengabdiannya. Dedikasinya selama hampir satu dekade telah melahirkan ratusan anak didik yang kini lancar bertutur dan bersastra Khmer. Harapannya ke depan sangat jelas: pemerintah dan komunitas lokal dapat memberikan perhatian lebih terhadap regenerasi guru bahasa daerah agar warisan luhur tersebut tidak padam ditelan zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User