Sep 17, 2026
Hukum

SWEDIA — Janda Lansia Inggris Terancam Dideportasi Akibat Dampak Birokrasi Brexit

Tangannya yang gemetar perlahan memasukkan pakaian dan kenangan puluhan tahun ke dalam koper kusam di sudut rumahnya. Di usianya yang telah menginjak 78 ta

SWEDIA — Janda Lansia Inggris Terancam Dideportasi Akibat Dampak Birokrasi Brexit

Tangannya yang gemetar perlahan memasukkan pakaian dan kenangan puluhan tahun ke dalam koper kusam di sudut rumahnya. Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Joyce Thomas, seorang janda asal Inggris yang telah lama menetap di Swedia, harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: perintah deportasi paksa dari negara yang telah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.

Bagi Joyce, keputusan otoritas imigrasi Swedia ini bukan sekadar perintah kepindahan biasa, melainkan sebuah eksekusi tak langsung atas sisa hidupnya. Hanya beberapa jam sebelum batas waktu pengusiran tiba, ia mengungkapkan rasa putus asanya yang mendalam atas ketidakpastian hukum yang menjepitnya akibat dampak lanjutan pengunduran diri Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

"Saya hanya ingin mimpi buruk ini berakhir sebelum saya meninggal. Masalah ini menyeret saya ke titik terendah. Saya benar-benar bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan membuat saya merasa sangat menderita," ujar Joyce Thomas dengan nada suara yang bergetar.

Dampak Kelam Birokrasi Pasca-Brexit bagi Warga Senior

Kasus yang menimpa Joyce Thomas menjadi cermin buram dari komplikasi hukum yang dihadapi ribuan warga negara Inggris yang tinggal di negara-negara anggota Uni Eropa pasca-Brexit. Berdasarkan Perjanjian Penarikan Diri (Withdrawal Agreement), warga Inggris yang menetap di Uni Eropa diwajibkan mengajukan status tinggal baru untuk mempertahankan hak-hak dasar mereka, termasuk akses kesehatan dan tempat tinggal.

Namun, mekanisme administratif yang rumit dan minimnya fleksibilitas dari Badan Imigrasi Swedia (Migrationsverket) justru menjerat kelompok rentan, terutama kalangan lanjut usia (lansia). Banyak warga senior yang mengalami kendala teknis, keterbatasan informasi digital, hingga masalah kesehatan mental saat berhadapan dengan sistem aplikasi daring yang sangat ketat.

Indikator Status Sebelum Brexit Sesudah Brexit (Aturan Swedia)
Hak Tinggal Otomatis sebagai warga Uni Eropa Wajib mengajukan izin status tinggal khusus
Akses Layanan Publik Penuh dan langsung Terbatas pada syarat administrasi ketat
Risiko Deportasi Hampir tidak ada Tinggi jika tenggat administrasi terlewatkan

Kehidupan dalam Ketidakpastian yang Membunuh Perlahan

Bagi lansia seperti Joyce, terputusnya akses terhadap lingkungan sosial dan layanan kesehatan lokal di Swedia setara dengan hukuman fisik. Tekanan psikologis selama proses hukum yang berlarut-larut telah memperburuk kondisi kesehatannya secara signifikan. Kehidupan dalam ruang hampa udara hukum—tanpa kepastian apakah besok ia masih bisa tidur di ranjangnya sendiri atau dipaksa naik ke pesawat menuju Inggris—menjadi beban emosional yang sangat berat.

Para pengamat dan aktivis hak asasi manusia menyoroti bagaimana aturan imigrasi sering kali diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan pendekatan kemanusiaan. "Pendekatan birokrasi yang dingin dan tanpa kompromi terhadap warga senior yang telah memberikan kontribusi pada masyarakat lokal adalah sebuah kegagalan moral," tegas salah satu aktivis pendamping warga terdampak Brexit.

Hingga saat-saat terakhir menjelang batas waktu deportasi, Joyce hanya bisa berharap ada keajaiban hukum atau penangguhan atas dasar kemanusiaan. Kisahnya menjadi pengingat membekukan bahwa keputusan politik skala besar seperti Brexit terus memakan korban jiwa secara perlahan, terutama mereka yang paling tak berdaya di garis depan birokrasi internasional.

Joyce Thomas (78) menggambarkan ancaman pengusirannya dari Swedia seperti hukuman mati. Aturan ketat pasca-Brexit membuat warga senior terjebak dalam labirin birokrasi imigrasi. Baca artikel lengkapnya di Apaberita.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User