Sisa Kampung Tenggelam Kembali Muncul di Bendungan Karian

Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten — Permukaan air Waduk Karian yang terus menyusut akibat musim kering berkepanjangan mengungkap pemandangan masa lalu. Reruntuhan fondasi rumah, jalan setapa...

Sisa Kampung Tenggelam Kembali Muncul di Bendungan Karian

Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten — Permukaan air Waduk Karian yang terus menyusut akibat musim kering berkepanjangan mengungkap pemandangan masa lalu. Reruntuhan fondasi rumah, jalan setapak, dan sumur tua dari sebuah perkampungan yang telah lama terendam kembali terlihat di bagian utara genangan pada Kamis (24/7/2026). Eks warga kampung yang dulu direlokasi berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menyaksikan jejak tempat tinggal mereka sebelum bendungan raksasa itu beroperasi.

Kampung Pasir Angin dan Sejarah Penggenangan

Perkampungan yang dulu dikenal sebagai Kampung Pasir Angin merupakan bagian dari wilayah aliran Sungai Ciberang yang tenggelam seiring rampungnya Proyek Strategis Nasional Bendungan Karian pada tahun 2023. Pembangunan bendungan dengan luas genangan mencapai 1.750 hektare itu memaksa sedikitnya 1.200 kepala keluarga dari tiga desa untuk pindah ke lokasi relokasi yang telah disiapkan pemerintah antara tahun 2017 hingga 2021. “Ini kampung halaman saya. Meski cuma puing, saya masih hafal setiap sudutnya,” ujar Sukirman (58), mantan warga Pasir Angin yang kini bermukim di Desa Kertaraharja, dengan mata berkaca-kaca.

Penurunan Debit Air Mencapai 14 Meter

Berdasarkan data hidrologi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), tinggi muka air Waduk Karian per 24 Juli 2026 tercatat di elevasi 117 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angka itu merosot sekitar 14 meter dari elevasi normal 131 mdpl dan merupakan penurunan terdalam dalam tiga tahun terakhir. Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan BBWS C3, Hendra Pratama, menegaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan di wilayah hulu. “Debit masuk dari Sungai Ciberang anjlok drastis. Kami memastikan operasional waduk masih dalam batas aman, tetapi situasi ini harus diwaspadai,” kata Hendra saat dikonfirmasi.

Dari tepian waduk yang menyusut, tampak struktur fondasi rumah semi permanen berwarna putih keabu-abuan, sumur tua yang sudah kering, serta jalan kampung yang membentang sekitar 200 meter sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam air dangkal. Sejumlah batang pohon kelapa mati masih berdiri tegak, menciptakan pemandangan yang sarat kenangan sekaligus muram.

Warga Bernostalgia di Antara Reruntuhan

Fenomena ini menjadi magnet bagi warga sekitar maupun para mantan penghuni yang kini tinggal di tempat relokasi. Mereka datang bersama anak dan cucu untuk menunjukkan letak rumah leluhur. “Rasanya campur aduk. Senang bisa lihat lagi, tapi sedih karena tanah ini sudah bukan milik kami lagi,” ungkap Rohman (62), yang ikut turun ke area yang biasanya terendam air bersama keluarganya. Ia bahkan sempat mengambil segenggam tanah dari titik yang diyakininya sebagai bekas halaman rumahnya.

Beberapa warga juga mengabadikan momen dengan berfoto di antara puing-puing, sementara yang lain hanya berdiri memandangi bekas kampung yang puluhan tahun menjadi bagian dari keseharian mereka. Musim kering telah mengubah waduk yang biasanya tenang menjadi panggung kenangan kolektif.

Pemerintah Imbau Masyarakat Waspada

Menanggapi fenomena ini, Pelaksana Tugas Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, melalui siaran tertulis pada Jumat (25/7/2026), menyatakan bahwa area yang terbuka tersebut tidak stabil dan berpotensi longsor. “Kami menghargai kerinduan warga, namun keselamatan tetap prioritas. Masyarakat diimbau tidak berlama-lama di area genangan yang menyusut dan tidak melakukan aktivitas apa pun yang berisiko,” tegasnya. Pemerintah kabupaten telah berkoordinasi dengan pengelola waduk untuk meningkatkan patroli pengamanan di sekitar lokasi.

Di sisi lain, pengamat sosial dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Yuli Setyowati, menilai peristiwa ini sebagai gambaran nyata dampak transformasi ruang hidup masyarakat akibat proyek infrastruktur besar. “Kemunculan kembali kampung yang tenggelam membangkitkan nostalgia sekaligus menjadi arsip sosial yang menunjukkan bagaimana pembangunan menghapus lanskap agraria tradisional beserta jejak komunitasnya,” ujarnya.

Antisipasi dan Harapan

Dengan prakiraan kemarau yang masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang, BBWS C3 memperkirakan permukaan air waduk berpotensi turun hingga lima meter lagi. Namun, fungsi utama waduk sebagai penyedia air baku bagi Kabupaten Lebak dan sekitarnya tetap terjaga. Pompa air baku masih dapat beroperasi normal hingga batas kritis. Hendra menambahkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan hidrologi sambil berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut. “Kami berharap musim hujan segera datang, tidak hanya untuk mengisi kembali waduk, tetapi juga untuk memastikan jejak kampung ini kembali menjadi cerita di bawah air, damai dan aman,” tutupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User