Sep 16, 2026
Nasional

Rupiah Terperosok ke Rp17.669 per Dolar AS pada Perdagangan Sore

Di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus bergejolak, nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan hebat pada penutupan perdagangan sore hari

Rupiah Terperosok ke Rp17.669 per Dolar AS pada Perdagangan Sore

Di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus bergejolak, nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan hebat pada penutupan perdagangan sore hari ini. Mata uang Garuda harus merela merosot hingga menyentuh level Rp17.669 per dolar AS pada perdagangan Senin (14/9) sore. Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,33 persen dibandingkan posisi penutupan pada hari sebelumnya. Penurunan ini menandai berlanjutnya tren koreksi mata uang domestik di tengah menguatnya keperkasaan mata uang Paman Sam di panggung internasional.

Kondisi pasar valuta asing domestik sepanjang hari tampak diwarnai aksi lepas aset berisiko oleh para pelaku pasar. Sejak pembukaan perdagangan di pagi hari, rupiah sudah menunjukkan sinyal pelemahan sebelum akhirnya tertekan semakin dalam menjelang penutupan pasar sore ini.

Faktor Penggerak Pasar dan Sentimen Global

Langkah pelemahan rupiah tidak terjadi di ruang hampa. Tekanan terhadap mata uang nasional ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan sentimen makroekonomi global yang dominan. Penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar internasional memberikan dorongan kuat bagi investor untuk mengalihkan dana mereka ke aset-aset berisiko rendah (safe haven), yang pada akhirnya menekan arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor ekspektasi suku bunga acuan di Amerika Serikat yang masih dipertahankan pada level tinggi, kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik global serta proyeksi perlambatan ekonomi dunia turut memperkeruh suasana pasar uang. "Ketidakpastian makroekonomi global saat ini bertindak sebagai penekan utama yang membuat mata uang berkembang kehilangan pijakan kokohnya," ujar salah satu analis pasar uang senior.

Berikut adalah gambaran perbandingan kinerja beberapa mata uang utama kawasan Asia terhadap dolar AS pada penutupan sesi perdagangan hari ini:

Mata Uang Posisi Terakhir (per USD) Perubahan (%)
Rupiah Indonesia (IDR) 17.669 -0,33%
Baht Thailand (THB) 36,45 -0,21%
Ringgit Malaysia (MYR) 4,72 -0,15%
Yen Jepang (JPY) 155,80 -0,40%

Dampak Terhadap Sektor Riil dan Pelaku Usaha

Pelemahan rupiah hingga menembus posisi Rp17.669 per dolar AS mulai memicu alarm kewaspadaan di kalangan dunia usaha, khususnya para pelaku industri manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Peningkatan beban biaya produksi diperkirakan tidak terhindarkan apabila nilai tukar tetap tertahan di level ini dalam jangka waktu yang cukup panjang.

"Jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut tanpa ada penyeimbang dari sisi permintaan domestik, para pelaku usaha terpaksa melakukan penyesuaian harga jual di tingkat konsumen untuk menjaga margin kelangsungan bisnis mereka," tegas Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berkah.

Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh para importir komponen elektronik dan bahan kimia dasar, melainkan juga berpotensi mengerek inflasi barang impor (imported inflation) yang pada akhirnya dapat mengikis daya beli masyarakat luas di dalam negeri.

Proyeksi dan Langkah Intervensi Bank Sentral

Melihat kondisi pasar yang kian dinamis, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus mengoptimalkan instrumen stabilisasi nilai tukar melalui strategi triple intervention. Langkah ini mencakup intervensi aktif di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi meminimalkan volatilitas yang terlalu tajam.

Para pengamat memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam rentang terbatas pada perdagangan esok hari. Investor disarankan untuk cermat mengamati rilis data ekonomi domestik terbaru, termasuk neraca perdagangan dan perkembangan cadangan devisa, guna membaca arah pergerakan mata uang selanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User