Sep 16, 2026
Hukum

RRI Menorehkan Sejarah Panjang Sebagai Corong Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Jauh sebelum era digital dan jaringan internet merambah pelosok negeri, radio memegang peranan krusial sebagai media komunikasi tercepat di Indonesia. Kebe

RRI Menorehkan Sejarah Panjang Sebagai Corong Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Jauh sebelum era digital dan jaringan internet merambah pelosok negeri, radio memegang peranan krusial sebagai media komunikasi tercepat di Indonesia. Keberadaannya bukan sekadar sarana hiburan, melainkan instrumen revolusi yang menghubungkan para pemimpin bangsa dengan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan negara.

Perjalanan sejarah penyiaran radio di Tanah Air telah berlangsung puluhan tahun sebelum proklamasi dikumandangkan. Dari masa kolonial Belanda, pendudukan militer Jepang, hingga berkumandangnya kemerdekaan, radio bertransformasi menjadi senjata diplomasi dan penyebar kabar perjuangan.

Jejak Awal: Lahirnya Radio di Era Hindia Belanda

Sejarah penyiaran radio di Nusantara berakar sejak era kolonial melalui pendirian stasiun-stasiun radio perintis. Radio pada mulanya hadir untuk melayani kepentingan komunitas Belanda dan kaum elit perkotaan sebelum akhirnya dimanfaatkan untuk menyebarkan kebudayaan lokal.

  • 16 Juni 1925: Berdirinya Bataviaasche Radio Vereeniging (BRV) di Batavia (Jakarta), yang tercatat sebagai tonggak awal stasiun siaran radio resmi pertama di Hindia Belanda.
  • 1 April 1933: Lahirnya Solosche Radio Vereeniging (SRV) di Surakarta yang diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegara VII bersama kaum bumiputra, difungsikan khusus menyiarkan kesenian dan kebudayaan Nusantara.
  • Era 1930-an Akhir: Bermunculan berbagai perkumpulan radio ketimuran di berbagai kota seperti Bandung, Surabaya, dan Medan yang menyuarakan identitas kebangsaan.

Masa Pendudukan Jepang: Sentralisasi dan Propaganda

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, seluruh stasiun radio swasta dan milik Belanda dibekukan secara sepihak. Pemerintah militer Jepang membentuk jawatan pengawas penyiaran bernama Hoso Kanri Kyoku yang berpusat di Jakarta untuk mengontrol arus informasi militer.

"Selama masa pendudukan Jepang, seluruh pemancar radio diarahkan untuk menyebarkan propaganda perang Asia Timur Raya, namun di balik itu para pemuda Indonesia diam-diam memonitor siaran luar negeri demi memantau situasi perang Sekutu."

Kronologi Kelahiran RRI Pascaproklamasi 1945

Kekalahan Jepang pada pertengahan Agustus 1945 membuka ruang genting bagi para tokoh penyiaran lokal. Kekosongan kekuasaan memicu langkah cepat para pejuang untuk merebut fasilitas penyiaran guna mengabarkan kemerdekaan Republik Indonesia ke pelosok negeri dan penjuru dunia.

  1. 19 Agustus 1945: Siaran radio Hoso Kyoku resmi dihentikan oleh otoritas Jepang pasca-kapitulasi kepada Sekutu, memicu urgensi pembentukan saluran siaran independen milik Indonesia.
  2. 11 September 1945: Perwakilan dari delapan bekas stasiun Hoso Kyoku di Jawa mengadakan rapat darurat di kediaman Adang Kadarusman di Jakarta. Pertemuan delegasi ini dipimpin oleh Abdulrachman Saleh.
  3. 11 September 1945 (Malam Hari): Para delegasi menyepakati pendirian Radio Republik Indonesia (RRI) dan menetapkan naskah ikrar bersejarah Tri Prasetya RRI.

Melalui semboyan "Sekali di Udara, Tetap di Udara", RRI sukses mengudara secara konsisten di tengah ancaman agresi militer. Hingga kini, tanggal 11 September senantiasa diperingati sebagai Hari Radio Nasional sekaligus penanda dedikasi RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang independen, netral, dan mengedukasi masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User