Ribuan Penari Meriahkan Festival Remo Yosakoi di Surabaya

Lapangan Parkir Timur Balai Kota Surabaya berubah menjadi lautan warna dan energi pada Minggu (12/7/2026). Sejak pukul enam pagi, ribuan peserta dari berba

Jul 13, 2026 - 04:06
0 1
Ribuan Penari Meriahkan Festival Remo Yosakoi di Surabaya

Lapangan Parkir Timur Balai Kota Surabaya berubah menjadi lautan warna dan energi pada Minggu (12/7/2026). Sejak pukul enam pagi, ribuan peserta dari berbagai komunitas tari, sanggar seni, sekolah, hingga perwakilan daerah dan Jepang telah memadati lokasi. Mereka bukan sekadar hadir, melainkan siap bergerak dalam formasi akbar yang memadukan dua warisan budaya: tari Remo khas Jawa Timur dan tari Yosakoi asal Jepang. Festival Remo-Yosakoi kembali digelar dengan skala yang lebih megah dibanding edisi sebelumnya, menandai momentum penting diplomasi budaya di Kota Pahlawan.

Harmoni dalam Gerak dan Irama

Tepat pukul delapan, musik gamelan dan taiko bergema bersamaan. Di depan, ratusan penari remaja hingga dewasa mulai menghentakkan kaki mengikuti ketukan dinamis. “Ini bukan sekadar menari, ini adalah bahasa universal persahabatan,” bisik Ayu (19), peserta dari Sanggar Tari Citra Muda Sidoarjo, dengan mata berbinar. Tarian dibuka dengan iringan Jula-Juli yang khas, lalu bertransisi ke dentuman naruko, alat musik tradisional Yosakoi yang menghasilkan suara gemerincing. Gerakan enerjik Yosakoi yang lincah dan penuh lompatan bertemu dengan kelenturan sikap ngorek Remo yang tegas. Hasilnya adalah sebuah koreografi kolosal yang memantik tepuk tangan tanpa henti dari ribuan pasang mata yang menyaksikan.

Perpaduan Dua Dunia

Untuk memahami kemeriahan ini, penting menilik akar kedua tarian. Remo, yang berasal dari Jombang dan Malang, merupakan tarian penyambutan yang biasa dibawakan penari pria dengan kostum merah-hitam dan selendang. Gerakannya mencerminkan kegagahan dan semangat juang rakyat Jawa Timur. Sementara Yosakoi lahir di Kochi, Jepang, pada 1954 sebagai adaptasi modern dari tarian rakyat. Ciri khasnya adalah gerakan lincah, kostum warna-warni, dan properti naruko yang dipegang setiap penari. Dalam festival ini, kedua elemen itu disatukan dalam satu panggung terbuka, menciptakan dialog kultural yang hangat dan cair.

AspekRemoYosakoi
AsalJawa Timur, IndonesiaKochi, Jepang
Karakter GerakTegas, gagah, dengan hentakan kaki dinamisLincah, enerjik, banyak lompatan
Musik PengiringGamelan, bonang, gendangMusik modern campur tradisional, naruko
KostumMerah-hitam, selendangWarna-warni, pita, naruko

Data panitia mencatat peserta tahun ini melonjak 35% dari tahun sebelumnya, mencapai 3.200 penari dari 85 komunitas di Jawa Timur dan 12 delegasi dari Jepang. Wali Kota Surabaya, dalam sambutannya, menyebut festival ini sebagai “jembatan emas” yang memperkuat people-to-people connection dua bangsa.

“Kami ingin Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota pahlawan, tapi juga kota yang merayakan kebinekaan lintas negara. Remo dan Yosakoi mengajarkan kita bahwa perbedaan bisa menjadi kekuatan,” ujarnya.

Semangat Kolaborasi di Atas Panggung

Tak hanya tarian kolosal, festival juga menampilkan kompetisi antarkelompok. Tiap tim memadukan Remo dan Yosakoi dalam durasi tujuh menit. Juri menilai sinkronisasi, kreativitas kostum, serta energi totalitas. Salah satu peserta, tim gabungan mahasiswa Unair dan sukarelawan Japan Foundation, mengaku butuh dua bulan berlatih keras. “Tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan ritme gamelan yang cenderung lambat di awal dengan tempo cepat Yosakoi. Tapi justru di situlah seninya,” ujar Raka, koreografer tim tersebut. Penonton tampak histeris saat tim asal Jember menggabungkan properti kipas Remo dengan naruko berpita panjang, menciptakan visual atraktif yang layak dikenang.

Di luar panggung, puluhan stan kuliner dan kerajinan menjajakan takoyaki, semanggi, hingga suvenir tenun. Pengunjung bisa mencoba memegang naruko atau berfoto dengan kostum tari kedua negara. Festival yang berlangsung hingga sore ini benar-benar menjadi ruang publik yang mempersatukan.

Mengabadikan Momen, Menyemai Masa Depan

Seusai acara, peserta saling berpelukan dan berfoto bersama, menandakan ikatan yang terbangun melampaui batas panggung. PMI Jepang, Takeshi Nakamura, mengungkapkan harapan agar kolaborasi ini terus berlanjut. “Yosakoi di Jepang sering menjadi alat revitalisasi komunitas. Melihat bagaimana Surabaya merayakan ini, saya yakin semangat serupa bisa tumbuh di sini,” katanya. Dengan suhu udara mencapai 32 derajat, semangat para penari tetap membara. Mereka menunggu giliran tampil dengan antusias, bahkan sebagian melakukan pemanasan mandiri di area yang telah disediakan. Momen itu mengingatkan pada esensi festival: bukan hanya soal tarian, melainkan soal kebersamaan yang menciptakan irama kehidupan yang lebih kaya. [SOCIAL_TWEET]: Ribuan penari menyulap Surabaya jadi panggung harmoni budaya! Festival Remo-Yosakoi 2026 hadirkan kolaborasi keren tari Jawa Timur dan Jepang. Jembatan emas persahabatan dua bangsa. #FestivalRemoYosakoi #Surabaya #Budaya[SOCIAL_TG]: 🌸🥁 Ribuan penari tampil memukau di Festival Remo-Yosakoi Surabaya! Perpaduan apik tarian Jawa Timur dan Jepang sukses bikin merinding. Cek liputan lengkapnya di sini!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User