Rachmat Gobel Meninggal Dunia, Warisan Industri Elektronik Tetap Menginspirasi

Jumat dini hari, kabar duka menyelimuti ranah bisnis dan teknologi nasional. Rachmat Gobel, sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi denyut nadi Go

Jul 12, 2026 - 02:42
0 1

Jumat dini hari, kabar duka menyelimuti ranah bisnis dan teknologi nasional. Rachmat Gobel, sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi denyut nadi Gobel Group dan ikon industri elektronik Tanah Air, mengembuskan napas terakhir. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan, bukan hanya di ruang rapat direksi, tetapi juga di hati ribuan karyawan dan pelaku industri yang terinspirasi oleh visinya.

Suasana di kantor pusat Gobel Group di kawasan industri Cibitung pagi itu terasa berbeda. Bendera setengah tiang berkibar, sementara para pekerja berdatangan dengan wajah muram. Ini bukan sekadar kehilangan seorang bos, bisik beberapa dari mereka. Ini kehilangan seorang ayah, mentor, dan obor semangat.

Awal Perjalanan Sang Pewaris

Nama Rachmat Gobel tak bisa dilepaskan dari jejak ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, yang mendirikan PT Gobel Internasional pada 1954. Saat itu, Indonesia baru saja merdeka, dan industri elektronik adalah tanah asing. Thayeb Gobel justru melihat peluang: ia memproduksi radio transistor pertama di Indonesia. Dari garasi sederhana di Jakarta, ia membangun fondasi yang kelak diwariskan kepada putranya.

Rachmat muda tumbuh dengan aroma solder dan bunyi komponen listrik. Selepas menimba ilmu di bidang ekonomi, ia memutuskan untuk kembali dan memegang kendali perusahaan pada 1980-an. Di bawah arahannya, Gobel Group bertransformasi dari pabrik kecil menjadi konglomerasi teknologi yang merangkul raksasa global seperti Panasonic dan Hitachi. Kolaborasi itu menghasilkan produk yang akrab di rumah tangga Indonesia: televisi, kulkas, hingga pendingin ruangan dengan label “Made in Indonesia”.

Membangun Imperium Teknologi Nasional

Bagi Rachmat Gobel, industri elektronik bukan sekadar bisnis—ia adalah alat untuk mengangkat harkat bangsa. Di era 1990-an, ketika pemerintah membuka keran investasi asing, banyak perusahaan elektronik global masuk dan mengancam pemain lokal. Gobel Group tak hanya bertahan, tetapi justru melebarkan sayap. Rachmat memelopori produksi komponen lokal, menekan impor, dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Langkah ini terbukti visioner ketika krisis moneter 1998 menerjang; perusahaan tetap tegar karena tidak bergantung penuh pada bahan baku luar negeri.

“Pak Rachmat selalu bilang, ‘Kita harus bangga dengan buatan sendiri. Jangan mau selamanya jadi tukang jahit merek asing,’” ucap Andi Wibowo, mantan direktur produksi Gobel Group, dengan suara bergetar saat ditemui di kediaman duka.

Filosofi “kemandirian teknologi” itulah yang mendorong Gobel Group merambah energi terbarukan dan infrastruktur telekomunikasi pada dekade 2000-an. Rachmat memahami, dunia bergerak ke arah digital, dan Indonesia tak boleh ketinggalan.

Pemimpin yang Membumi dan Peduli

Di balik sosoknya yang tegas di meja negosiasi, Rachmat Gobel dikenal sebagai pemimpin yang sering blusukan ke lini produksi. Ia hafal nama-nama operator mesin, mengenal problem harian di jalur perakitan, dan kerap makan siang di kantin bersama staf. Kedekatan ini bukan basa-basi; ia meyakini bahwa kunci inovasi terletak pada orang-orang yang bekerja langsung dengan teknologi.

“Saya ingat, suatu kali beliau menemukan solder yang kurang panas di satu stasiun kerja. Bukannya marah, beliau malah ikut memperbaiki dan memberi contoh cara solder yang benar,” ujar Siti Masitoh, supervisor lantai produksi yang telah mengabdi 25 tahun di Gobel Group.

Kepedulian Rachmat melampaui dinding pabrik. Melalui yayasan keluarga, ia mendirikan politeknik teknik dan pusat pelatihan vokasi di daerah-daerah, menyiapkan generasi muda menghadapi era Industri 4.0. Baginya, warisan terbesar bukanlah gedung atau mesin, melainkan manusia yang siap bersaing.

Warisan yang Tak Tergantikan

Kepergian Rachmat Gobel pada usia 72 tahun menyisakan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet? Gobel Group telah menyiapkan jajaran direksi profesional, namun sosok tak terlihat seperti Rachmat—yang memiliki kharisma dan jejaring lintas sektor—sulit ditemukan duanya. Pasar pun bereaksi dengan hati-hati; nilai saham beberapa anak perusahaan sempat berfluktuasi.

Namun, para analis optimistis. Gobel Group dibangun dengan fondasi kokoh dan sistem manajemen modern. “Kehilangan Pak Rachmat tentu berat, tapi perusahaan telah memiliki roadmap jangka panjang. Ini waktunya generasi kedua dan ketiga membuktikan diri,” kata Dr. Kurniawan Arif, pengamat industri dari Institute for Economic Studies.

Kilas Balik dan Harapan

Gobel Group didirikan pada 1954 oleh Thayeb Mohammad Gobel dengan produk radio transistor pertama buatan Indonesia.

Rachmat Gobel mengambil alih kepemimpinan pada 1980-an dan membawa perusahaan berekspansi melalui kemitraan strategis dengan Panasonic (1987), produksi televisi pertama (1991), pengembangan komponen lokal (1995), masuk ke infrastruktur telekomunikasi (2005), pendirian politeknik vokasi (2010), peluncuran lini energi terbarukan (2018), dan peremajaan pabrik menuju industri 4.0 (2022). Jejak langkahnya adalah peta perjalanan industri elektronik nasional.

Kini, televisi “Panasonic Gobel” masih tersenyum dari sudut ruang keluarga, menjadi saksi bisu bahwa semangat Rachmat Gobel tetap menyala. Dia telah pergi, tapi nyalanya belum padam.

[SOCIAL_TWEET]: Duka mendalam atas wafatnya Rachmat Gobel, maestro industri elektronik Indonesia. Sosok di balik Gobel Group ini meninggal Jumat dini hari, meninggalkan warisan kemandirian teknologi yang tak ternilai. #RachmatGobel #GobelGroup #IndustriElektronik [SOCIAL_TG]: Rachmat Gobel, ikon industri elektronik nasional, meninggal dunia. Beliau meneruskan tongkat estafet dari ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, dan membawa Gobel Group ke kancah global melalui kolaborasi dengan Panasonic. Warisan terbesarnya: kemandirian teknologi dan pendidikan vokasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User