Prof. Suparji Ahmad Dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Universitas Al Azhar Indonesia

Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Prof. Dr. Bustanul Arifin, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Kompleks Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Se

Jul 10, 2026 - 21:43
0 1
Prof. Suparji Ahmad Dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Universitas Al Azhar Indonesia

Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Prof. Dr. Bustanul Arifin, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Kompleks Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Selasa pagi (14/1/2025). Tepat pukul 09.00 WIB, prosesi pengukuhan guru besar dimulai. Senat akademik, para guru besar, kolega, serta keluarga besar hadir menyaksikan momen bersejarah bagi salah satu akademisi hukum terkemuka: Prof. Dr. Suparji Ahmad, SH., MH. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum UAI. Pengukuhan ini menandai pencapaian akademik tertinggi setelah lebih dari dua dekade dedikasi beliau di ranah pendidikan hukum dan penelitian.

Dengan mengangkat tema orasi ilmiah "Meneguhkan Kepastian Hukum di Tengah Transformasi Digital," Prof. Suparji menyampaikan pidato pengukuhan yang memancing diskusi mendalam di kalangan hadirin. Tema ini dipilih bukan tanpa alasan; di era disrupsi teknologi yang serba cepat, kepastian hukum menjadi salah satu fondasi yang paling dirasakan getarannya oleh masyarakat, pelaku bisnis, dan pemerintah. Dalam pidato selama 45 menit itu, Prof. Suparji memaparkan data dan argumentasi tajam yang menggabungkan teori hukum klasik dengan realitas zaman digital.

Para hadirin tampak serius menyimak, sesekali mengangguk atau mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Bagi dunia akademik UAI, momen ini menambah deretan guru besar yang memperkuat reputasi universitas sebagai kampus Islam modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Jejak Panjang di Dunia Hukum

Prof. Dr. Suparji Ahmad lahir di Jakarta, 17 Agustus 1968. Kecintaannya pada dunia hukum bermula sejak duduk di bangku SMA, ketika ia rajin mengikuti perdebatan konstitusional di televisi. Ia menempuh pendidikan Sarjana Hukum (SH.) di Universitas Jayabaya dan lulus pada 1992, melanjutkan Magister Hukum (MH.) di Universitas Indonesia hingga 1998, dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran pada 2006. Jabatan fungsional akademik sebagai Guru Besar diperolehnya setelah melalui proses panjang penelitian, pengabdian, dan publikasi di jurnal nasional maupun internasional.

Total 32 tahun pengalaman di bidang hukum telah ia lewati, termasuk sebagai pengajar, peneliti, dan praktisi konsultan hukum. Karier akademiknya di UAI dimulai tahun 2003 sebagai dosen tetap Fakultas Hukum. Selama lebih dari 20 tahun, ia mengampu mata kuliah Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, dan Filsafat Hukum. Dedikasinya tercermin dari 18 buku yang telah diterbitkan dan lebih dari 50 artikel jurnal nasional terakreditasi SINTA. Publikasi terbarunya, "Cyber Law dan Tantangan Kepastian Hukum di Indonesia" (2024), menjadi rujukan bagi mahasiswa pascasarjana di berbagai universitas.

Pidato Pengukuhan yang Menggugah

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Suparji menyoroti tiga dimensi kepastian hukum: regulasi, penegakan, dan aksesibilitas. Ia menekankan bahwa di era digital, regulasi sering tertatih-tatih di belakang inovasi teknologi. Data yang dikutip menunjukkan bahwa 73% dari total 1.200 regulasi sektoral di Indonesia belum sepenuhnya selaras dengan ekosistem digital. “Kita tidak bisa lagi menggunakan cara berpikir abad ke-19 untuk merespons masalah abad ke-21,” ujarnya lantang.

“Kepastian hukum bukan hanya soal aturan yang jelas, tetapi juga kepastian bahwa setiap warga negara memiliki akses yang setara terhadap keadilan. Di era digital, akses itu bisa diwujudkan melalui sistem peradilan elektronik yang transparan dan akuntabel. Namun, itu hanya mungkin jika regulasi kita berani melakukan terobosan.”

Momen mengharukan terjadi saat ia menyampaikan dedikasi gelar guru besar ini kepada almarhumah ibundanya, yang wafat setahun lalu akibat komplikasi diabetes. “Umi, ini semua karena doa-doa Umi yang tak pernah putus. Gelar ini sepenuhnya milik Umi,” ucapnya dengan suara bergetar, mengundang tepuk tangan panjang dari hadirin.

Wawancara Khusus: Harapan untuk Penegakan Hukum

Seusai prosesi, tim Apaberita mendapat kesempatan mewawancarai Prof. Suparji secara eksklusif. Berikut petikan wawancara singkatnya:

Apaberita: Selamat, Prof. Apa rencana pertama setelah dikukuhkan sebagai guru besar?
Prof. Suparji: Terima kasih. Yang pasti, saya ingin segera menyelesaikan roadmap penelitian tentang harmonisasi regulasi digital di Indonesia. Kita butuh terobosan supaya aturan tidak jadi hambatan bagi inovasi.
Apaberita: Banyak pihak pesimis dengan penegakan hukum di Indonesia. Apa komentar Anda?
Prof. Suparji: Pesimisme itu wajar, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti berusaha. Saya selalu sampaikan ke mahasiswa, hukum itu hidup karena kita yang menghidupinya. Perbaikan itu proses panjang, dan akademisi harus terus menyuarakan solusi berbasis riset.
Apaberita: Pesan untuk generasi muda yang ingin menjadi ahli hukum?
Prof. Suparji: Jangan hanya belajar teks undang-undang, tapi pahami juga konteks sosial dan teknologinya. Hukum yang baik adalah yang mampu menjawab kebutuhan zaman, bukan sekadar menghafal pasal.

Wawancara singkat ini menegaskan kembali komitmen Prof. Suparji untuk terus menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan praktis masyarakat. Rekan sejawat, Prof. Dr. H. Agus Suryana, Dekan FH UAI, menyebut pengukuhan ini sebagai “tonggak penting bagi fakultas untuk semakin aktif berkontribusi dalam isu-isu hukum kontemporer, khususnya di ranah digital dan tata negara.

Pengukuhan guru besar ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Hukum dan HAM, Kepolisian RI, serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang access to justice. Kehadiran mereka menandakan jejaring luas yang telah dibangun oleh Prof. Suparji selama kariernya.

Di akhir acara, prosesi pengalungan samir guru besar dilakukan oleh Ketua Senat UAI, disaksikan Rektor UAI Dr. Ir. Saiful Anwar, M.Sc. Tepuk tangan hadirin dan lantunan doa dari para mahasiswa yang memenuhi barisan belakang menutup acara dengan penuh haru. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi panjang dalam dunia pendidikan hukum berbuah pengakuan tertinggi. Bagi UAI, bertambahnya guru besar di bidang hukum menjadi modal besar untuk melanjutkan misi mencetak lulusan yang berintegritas dan melek teknologi.

[SOCIAL_TWEET]: Pengukuhan Prof. Dr. Suparji Ahmad sebagai Guru Besar Hukum UAI angkat isu #KepastianHukum di era digital. "Regulasi kita belum selaras dengan ekosistem digital," tegasnya. Simak wawancara eksklusif kami. #PendidikanHukum #TransformasiDigital #BeritaHariIni [SOCIAL_FB]: Guru Besar baru Universitas Al Azhar Indonesia, Prof. Suparji Ahmad, menyampaikan orasi ilmiah yang menggugah tentang kepastian hukum di era digital. Baca liputan lengkapnya dan petikan wawancara eksklusif hanya di sini. [SOCIAL_TG]: 📚 Prof. Dr. Suparji Ahmad resmi menyandang gelar Guru Besar Hukum UAI. Orasi ilmiahnya soroti betapa regulasi digital Indonesia masih banyak celah. 🔍 Baca selengkapnya! #HukumDigital #Akademik [SOCIAL_THREADS]: Pengukuhan guru besar yang bikin haru. Prof. Suparji dedikasikan gelarnya untuk sang ibu sambil nangis terharu. Cerita lengkapnya plus wawancara eksklusif ada di linimasa kita. 💙📖 [TAGS]: Prof. Suparji Ahmad, Universitas Al Azhar Indonesia, Guru Besar Hukum, Kepastian Hukum, Transformasi Digital

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User