Aug 28, 2026
Politik

Prabowo Serukan Penghormatan atas Jasa Ulama

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya mengenang kontribusi ulama dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Republik Indonesia saat menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama pada 27 Agustus 2026. Da...

Prabowo Serukan Penghormatan atas Jasa Ulama

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya mengenang kontribusi ulama dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Republik Indonesia saat menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama pada 27 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, Presiden menyampaikan gagasan “Jas Hijau” sebagai ajakan agar jasa para ulama tidak dilupakan dalam perjalanan bangsa.

Pesan Presiden dalam Muktamar Nahdlatul Ulama

Presiden Prabowo menyampaikan pesan itu di hadapan peserta Muktamar Nahdlatul Ulama yang menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi. Ia menempatkan ulama sebagai bagian penting dari sejarah nasional, khususnya dalam membangun kesadaran kebangsaan, mempertahankan kemerdekaan, serta membimbing masyarakat melalui nilai-nilai keagamaan.

Menurut Presiden, penghormatan terhadap ulama tidak cukup dilakukan melalui seremoni, melainkan harus diwujudkan dengan memahami peran mereka dalam setiap tahapan sejarah Indonesia. Para ulama dinilai turut memberikan panduan moral dan keberanian kepada masyarakat ketika bangsa menghadapi ancaman terhadap kedaulatan.

“Jas Hijau adalah pengingat agar kita tidak melupakan jasa ulama dalam perjuangan bangsa,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam forum Muktamar Nahdlatul Ulama.

Ungkapan tersebut merujuk pada ajakan untuk selalu mengingat jasa para pendahulu. Presiden menegaskan bahwa perjalanan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh pemerintahan dan militer, tetapi juga oleh pemimpin agama serta jaringan pesantren yang berperan langsung dalam kehidupan sosial dan perjuangan rakyat.

Ulama dan Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Dalam penyampaiannya, Presiden menekankan bahwa ulama memiliki posisi strategis dalam membangun semangat persatuan. Melalui pengajaran di pesantren, masjid, dan berbagai pusat pendidikan keagamaan, ulama menanamkan kecintaan terhadap tanah air sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi kolonialisme.

Peran tersebut berlanjut setelah proklamasi kemerdekaan. Ulama memberikan dukungan kepada masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan, menjaga persatuan, dan menolak berbagai upaya yang dapat mengganggu kedaulatan negara. Sikap itu menunjukkan bahwa nilai keagamaan dan semangat kebangsaan berjalan beriringan dalam sejarah Indonesia.

Presiden menyatakan bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan perjuangan tersebut. Peringatan terhadap jasa ulama, menurut dia, harus menjadi bagian dari pendidikan kebangsaan agar masyarakat memahami bahwa kemerdekaan diperoleh melalui pengorbanan banyak unsur bangsa.

“Bangsa yang besar harus menghormati mereka yang telah berjuang dan berkorban bagi kemerdekaan,” kata Presiden Prabowo.

Pesan itu disampaikan dalam konteks pentingnya menjaga kesinambungan sejarah. Presiden menilai pemahaman yang utuh mengenai perjuangan bangsa akan memperkuat rasa tanggung jawab warga negara dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ajakan Memperkuat Persatuan Nasional

Presiden juga mengaitkan penghormatan kepada ulama dengan upaya memperkuat persatuan nasional. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan di tengah masyarakat harus dikelola melalui musyawarah, penghormatan terhadap hukum, dan kepentingan bersama. Dalam kerangka tersebut, ulama memiliki peran penting sebagai pembimbing moral serta penjaga keseimbangan sosial.

Muktamar Nahdlatul Ulama menjadi ruang bagi organisasi untuk membahas arah kebijakan, program kerja, dan keputusan kelembagaan. Forum Pleno serta pembahasan antarkomisi dalam muktamar diharapkan menghasilkan keputusan yang dapat menjawab kebutuhan umat dan memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.

Pemerintah menyatakan penghormatan terhadap organisasi keagamaan dan ulama merupakan bagian dari upaya menjaga kemitraan dengan seluruh elemen masyarakat. Kemitraan itu diperlukan untuk menindaklanjuti berbagai agenda nasional, termasuk penguatan pendidikan, peningkatan kesejahteraan, serta pembinaan karakter generasi muda.

Berdasarkan amanat konstitusi, negara berkewajiban menjamin kebebasan beragama dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan kehidupan keagamaan secara tertib. Dalam pelaksanaannya, hubungan antara pemerintah, ulama, dan organisasi kemasyarakatan harus tetap berlandaskan hukum serta menghormati peran masing-masing.

Makna “Jas Hijau” bagi Generasi Mendatang

Istilah “Jas Hijau” yang disampaikan Presiden menjadi penekanan agar penghormatan terhadap jasa ulama terus diwariskan. Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada warga Nahdlatul Ulama, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Indonesia yang menikmati hasil perjuangan para pendahulu.

Presiden menegaskan bahwa mengenang jasa ulama berarti merawat nilai pengabdian, keikhlasan, dan keberanian yang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa. Nilai tersebut dinilai relevan untuk menghadapi tantangan nasional pada masa kini, terutama dalam menjaga persatuan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi.

Melalui pesan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama, Presiden mengajak masyarakat menjadikan sejarah sebagai dasar untuk memperkuat komitmen kebangsaan. Penghormatan kepada ulama, menurut Presiden, harus diwujudkan melalui tindakan nyata berupa menjaga kerukunan, menaati hukum, serta ikut membangun Indonesia secara bertanggung jawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User