Sep 16, 2026
Nasional

Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Bioavtur

JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga terus mengakselerasi transisi energi bersih di Tanah Air dengan menghadirkan terobosan baru di industri penerbangan. Sub

Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Bioavtur

JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga terus mengakselerasi transisi energi bersih di Tanah Air dengan menghadirkan terobosan baru di industri penerbangan. Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) ini mengolah limbah minyak goreng bekas atau jelantah (used cooking oil/UCO), termasuk yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi bahan bakar ramah lingkungan bertajuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bioavtur.

Langkah strategis ini menjadi tonggak penting dalam penerapan ekonomi sirkular dan komitmen dekarbonisasi sektor aviasi nasional, sekaligus mengubah limbah dapur yang berpotensi mencemari lingkungan menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Transformasi Limbah Dapur Menuju Bahan Bakar Hijau

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku bioavtur dirancang melalui sistem rantai pasok terintegrasi. Pengumpulan minyak jelantah dilakukan secara terukur dari berbagai sumber konsumsi, termasuk dapur-dapur penyedia program nasional Makan Bergizi Gratis.

"Pengembangan Sustainable Aviation Fuel berbasis minyak jelantah merupakan wujud nyata kontribusi kami dalam menekan emisi karbon global, sekaligus memberdayakan rantai pasok domestik secara berkelanjutan," terang perwakilan manajemen Pertamina Patra Niaga.

Melalui inovasi ini, limbah minyak goreng yang semula dibuang kini memiliki nilai ekonomis baru dan diproses dengan teknologi tinggi agar memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional.

Tahapan Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Bioavtur

Proses konversi minyak goreng bekas menjadi bahan bakar pesawat melalui serangkaian tahapan ketat:

  1. Pengumpulan dan Standardisasi: Minyak jelantah dikumpulkan dari unit-unit dapur MBG dan rumah tangga, kemudian melalui uji kualitas awal untuk menyaring kotoran padat dan kadar air.
  2. Pemurnian dan Pengolahan Kimia (Refining): Minyak jelantah dimurnikan melalui proses hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA) di kilang Pertamina untuk mengubah asam lemak menjadi hidrokarbon murni setara avtur.
  3. Pencampuran (Blending): Hasil olahan bioavtur dicampur dengan bahan bakar fosil konvensional (Jet A-1) dengan rasio aman sesuai regulasi internasional (ASTM D7566).
  4. Uji Kelayakan dan Sertifikasi: Produk akhir diuji performanya pada mesin turbin pesawat guna memastikan performa mesin tetap optimal dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah.

Manfaat Ganda bagi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular

Inisiatif ini membawa beragam dampak positif bagi masyarakat dan ekosistem industri di Indonesia:

  • Reduksi Jejak Karbon: Penggunaan SAF terbukti mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibandingkan avtur berbasis fosil murni sepanjang siklus hidupnya.
  • Pencegahan Pencemaran Air: Menampung minyak jelantah secara sistematis mencegah pembuangan liar ke saluran air yang kerap merusak ekosistem perairan.
  • Mendukung Ekonomi Sirkular: Menciptakan ekosistem rantai pasok baru yang melibatkan komunitas, UMKM, dan pengelola dapur komersial.

Dengan kesiapan infrastruktur kilang dan jaringan distribusi yang luas, Pertamina Patra Niaga optimistis adopsi bioavtur berbahan dasar minyak jelantah ini akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci energi hijau di kawasan Asia Tenggara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User