Sep 16, 2026
Nasional

Pengusaha Otomotif Keluhkan Ketergantungan Impor Bahan Baku Kendaraan Listrik

JAKARTA — Pelaku industri komponen otomotif nasional menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait tingginya ketergantungan bahan baku impor di tengah masifnya

Pengusaha Otomotif Keluhkan Ketergantungan Impor Bahan Baku Kendaraan Listrik

JAKARTA — Pelaku industri komponen otomotif nasional menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait tingginya ketergantungan bahan baku impor di tengah masifnya dorongan adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Ketidakpastian geopolitik global dinilai menjadi ancaman nyata yang dapat melumpuhkan stabilitas rantai pasok industri manufaktur domestik jika tidak segera diantisipasi.

Keresahan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Direktur Utama PT Selamat Sempurna Tbk, Ang Andri Pribadi, dalam forum diskusi industri otomotif bertajuk "Beyond EV: Building a Resilient Ecosystem" di Jakarta. Menurutnya, percepatan transisi energi menuju kendaraan listrik menghadirkan tantangan ganda, yakni tuntutan inovasi teknologi sekaligus kerentanan suplai material inti.

"Dinamika geopolitik global saat ini memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan dan harga bahan baku impor. Industri EV membutuhkan ketahanan rantai pasok yang tidak hanya bertumpu pada pasar luar negeri," ujar Ang Andri Pribadi.

Kronologi dan Eskalasi Tekanan Rantai Pasok Industri EV

Ketergantungan terhadap material impor telah memicu serangkaian disrupsi operasional bagi produsen komponen lokal dalam beberapa tahun terakhir:

  1. Periode Awal Transisi (2022–2023): Lonjakan permintaan global terhadap baterai dan komponen kelistrikan memicu persaingan ketat dalam perburuan bahan baku semikonduktor serta logam tanah jarang (rare earth elements).
  2. Peningkatan Ketegangan Geopolitik (2024–2025): Konflik regional dan kebijakan proteksionisme perdagangan dari sejumlah negara produsen utama mengakibatkan kenaikan tarif logistik serta pembatasan kuota ekspor material kritis.
  3. Dampak Riil ke Manufaktur Lokal (2026): Produsen komponen dalam negeri menghadapi volatilitas nilai tukar mata uang asing dan ketidakpastian jadwal pengapalan bahan baku, yang berpotensi menaikkan biaya pokok produksi hingga 15–25 persen.

Tantangan Geopolitik Menekan Daya Saing Komponen Lokal

Meskipun Indonesia memiliki kekayaan sumber daya nikel yang melimpah, proses hilirisasi untuk menghasilkan material siap pakai tingkat lanjut bagi komponen non-baterai dinilai masih terbatas. Akibatnya, banyak pabrikan lokal terpaksa mengimpor material khusus seperti baja mutu tinggi, resin sintetis khusus, hingga modul sirkuit terpadu.

Kondisi ini diperparah oleh fragmentasi perdagangan global. Fluktuasi harga komoditas primer dan hambatan rute logistik internasional membuat estimasi biaya produksi menjadi semakin sulit diprediksi secara presisi.

Strategi Penguatan Ekosistem dan Kemandirian Industri

Untuk memitigasi risiko disrupsi pasokan jangka panjang, para pelaku usaha mendorong langkah strategis bersama antara sektor swasta dan regulator:

  • Akselerasi Hilirisasi Terintegrasi: Mendorong industri hulu agar mampu memproduksi material spesifikasi tinggi di dalam negeri guna menekan porsi impor.
  • Peningkatan Nilai TKDN: Memperluas cakupan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada sektor komponen pendukung non-baterai secara bertahap dan realistis.
  • Diversifikasi Mitra Dagang: Membuka jalur pasokan alternatif dari negara-negara non-tradisional guna menghindari konsentrasi risiko pasokan.

Pemerintah diharapkan terus memberikan insentif fiskal dan kepastian regulasi agar industri komponen lokal mampu beradaptasi, mempertahankan daya saing, serta mewujudkan ekosistem kendaraan listrik yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User