Pemerintah Sambut Rute Perdana SalamAir Muscat-Medan Perkuat Konektivitas
Pesawat komersial maskapai SalamAir asal Oman untuk pertama kalinya mendarat di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Jumat (15/11/2024) siang, membuka layanan pener...
Pesawat komersial maskapai SalamAir asal Oman untuk pertama kalinya mendarat di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Jumat (15/11/2024) siang, membuka layanan penerbangan berjadwal langsung antara Muscat dan Medan. Kehadiran pesawat tipe Airbus A320neo dengan nomor penerbangan OV501 tersebut menandai diresmikannya rute internasional baru yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas udara Indonesia dengan kawasan Timur Tengah sekaligus mendukung target peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari negara-negara Teluk.
Dampak Rute Baru bagi Pariwisata dan Ekonomi
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pembukaan rute perdana SalamAir merupakan langkah konkret dalam menindaklanjuti komitmen perluasan akses transportasi udara internasional yang telah disahkan dalam Rapat Koordinasi Kementerian Perhubungan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada triwulan III 2024. Dalam rapat tersebut, keputusan untuk menggandeng maskapai berbiaya rendah asal Oman ditetapkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar wisman di luar tradisi wisatawan Asia Timur dan Pasifik.
Gubernur Sumatera Utara menegaskan bahwa kedatangan maskawat SalamAir membuka peluang signifikan bagi sektor pariwisata dan perdagangan provinsi tersebut. Menurut data Dinas Pariwisata Sumatera Utara, jumlah wisman yang berkunjung melalui Kualanamu pada periode Januari–Oktober 2024 mencapai 128.450 kunjungan, dengan kontribusi wisatawan Timur Tengah berada di angka 8,7 persen dari total kedatangan internasional. Pihaknya menyatakan bahwa kehadiran rute langsung Muscat-Medan diharapkan mampu menaikkan angka tersebut hingga 15 persen pada akhir tahun depan melalui skema paket wisata halal dan kunjungan keluarga besar.
"Rute perdana ini bukan sekadar penambahan jadwal penerbangan, melainkan pintu masuk bagi investasi dan pertukaran budaya antara Sumatera Utara dengan Sultanat Oman. Kami berharap frekuensi dapat ditingkatkan dari tiga kali seminggu menjadi harian dalam waktu dua tahun ke depan," ujar Gubernur Sumatera Utara.
Prosedur dan Fasilitas di Bandara Kualanamu
Direktur Utama PT Angkasa Pura II yang menaungi Bandara Kualanamu menyatakan bahwa seluruh prosedur keamanan dan kenyamanan telah disiapkan untuk menyambut operasional SalamAir. Terminal kedatangan internasional telah menjalankan penambahan petugas imigrasi sebanyak 20 personel pada shift sore guna mengantisipasi lonjakan penumpang yang diperkirakan mencapai 160–180 penumpang per kedatangan. Selain itu, fasilitas prayer room dan restoran dengan sertifikasi halal telah ditambah di area transit untuk mengakomodasi preferensi penumpang asal Timur Tengah.
Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan serta Peraturan Menteri Perhubungan terkait penanganan penerbangan internasional, operasional rute baru ini telah melalui proses koordinasi teknis antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, otoritas bandara, dan pihak maskapai selama enam bulan terakhir. Pleno verifikasi fasilitas darurat dan keselamatan penerbangan juga telah dilaksanakan pada Oktober 2024, dengan hasil menyeluruh bahwa Kualanamu memenuhi standar operasional untuk menerima pesawat berbadan sempit jarak menengah.
Target Wisman dan Kerja Sama Bilateral
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan bahwa target kunjungan wisman tahun 2025 sebesar 7,5 juta kunjungan tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan pasar konvensional. Oleh karena itu, pemerintah menindaklanjuti kerangka kerja sama bilateral dengan Oman dalam sektor pariwisata yang ditandatangani pada KTT ASEAN-GCC 2023 lalu. Melalui rute SalamAir, pemerintah optimistis alokasi anggaran promosi pariwisata senilai Rp3,2 triliun pada tahun depan akan lebih efisien karena adanya konektivitas langsung yang mengurangi hambatan logistik.
Fraksi Pariwisata dalam rapat dengar pendapat dengan Kementerian Perhubungan pekan lalu juga menegaskan perlunya insentif pendaratan dan ground handling kompetitif bagi maskapai Timur Tengah guna menarik lebih banyak operator. Data Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Tenggara menunjukkan bahwa permintaan perjalanan dari Muscat ke Medan tumbuh rata-rata 12 persen per tahun dalam lima tahun terakhir, didorong oleh minat wisatawan Oman terhadap destinasi alam Danau Toba dan kekayaan budaya Melayu.
"Konektivitas udara adalah tulang punggung diplomatik dan ekonomi. Keputusan membuka rute Muscat-Medan ini membuktikan bahwa Indonesia serius dalam memperluas jangkauan pasar wisata global, khususnya dari negara-negara dengan populasi Muslim mayoritas yang potensial," tegas anggota Komisi V DPR RI.
Dengan beroperasinya rute perdana ini, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jaringan penerbangan internasional dari bandara-bandara sekunder di luar Jawa. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya mendongkrak angka kedatangan wisman Timur Tengah, tetapi juga menciptakan keseimbangan pembangunan infrastruktur pariwisata nasional yang selama ini terpusat di wilayah barat Indonesia.
Comments (0)