Pemerintah Dorong Industri Tekstil Nasional Tingkatkan Daya Saing
JAKARTA — Pemerintah terus mendorong industri tekstil dan fashion nasional untuk meningkatkan daya saing di tengah gempuran produk impor yang semakin marak. Kementerian Perindustrian mencatat kontribu
JAKARTA — Pemerintah terus mendorong industri tekstil dan fashion nasional untuk meningkatkan daya saing di tengah gempuran produk impor yang semakin marak. Kementerian Perindustrian mencatat kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 1,16 persen pada tahun 2024, dengan nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) lebih dari 12 miliar dolar AS. Namun, tantangan utama masih berupa praktik impor ilegal dan biaya produksi yang relatif tinggi dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Bangladesh.
Tantangan dan Peluang Industri Tekstil
Industri tekstil nasional menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan bahwa utilisasi pabrik tekstil hanya sekitar 60 persen pada awal tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh lonjakan impor kain dan pakaian jadi yang tidak terkendali, terutama dari Tiongkok. Selain itu, kenaikan harga energi dan upah minimum regional (UMR) juga membebani biaya produksi. Meski demikian, peluang masih terbuka lebar, terutama di segmen fashion lokal yang mulai diminati generasi muda. Berdasarkan data Asosiasi Fashion Indonesia (AFI), penjualan produk fesyen lokal meningkat 15 persen dalam dua tahun terakhir, didorong oleh tren “bangga buatan Indonesia” di platform e-commerce.
Langkah Strategis Pemerintah
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor ini. Pertama, program restrukturisasi mesin yang memberikan subsidi bagi produsen tekstil untuk mengganti peralatan usang dengan mesin modern dan hemat energi. Kedua, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib pada produk tekstil tertentu guna menekan peredaran barang impor berkualitas rendah. Ketiga, penguatan merek lokal melalui program “Bangga Buatan Indonesia” yang digalakkan di berbagai event fesyen nasional dan internasional. Menteri Perindustrian menyatakan bahwa target ekspor TPT pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 14 miliar dolar AS, dengan fokus utama pada pasar nontradisional seperti Afrika dan Timur Tengah.
Optimisme Pelaku Industri
Pelaku industri optimistis bahwa dengan kebijakan yang tepat dan dukungan konsumen lokal, industri tekstil dan fashion nasional dapat bangkit. Ketua API menekankan pentingnya pengawasan perbatasan yang ketat untuk mencegah impor ilegal serta percepatan implementasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk produk fesyen. Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai membatasi impor barang konsumsi melalui e-commerce lintas batas. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, sektor tekstil nasional diharapkan mampu kembali berjaya dan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.
Comments (0)