[SIKKA, NTT] — Gempa M 7,7 Guncang Flores, Ribuan Warga Diungsikan
Talibura, Sikka—Getaran dahsyat yang berasal dari kedalaman laut Flores mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu petang, 15 Agustus 2026. Gempa b
Talibura, Sikka—Getaran dahsyat yang berasal dari kedalaman laut Flores mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu petang, 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut terjadi pada pukul 18.23 Wita dengan episentrum berada di laut sekitar 80 kilometer barat laut Desa Talibura, Kabupaten Sikka. Warga yang tengah menjalankan aktivitas akhir pekan langsung berhamburan ke luar rumah saat perabot mulai bergoyang dan dinding retak membentuk pola seperti jaring laba-laba.
Kepanikan dan Evakuasi di Desa Talibura
Di Desa Talibura, yang menjadi salah satu titik terdekat dengan episentrum, suasana berubah menjadi mencekam dalam hitungan detik. Langit senja yang mulai merah di ufuk barat seketika ditinggalkan warga yang lebih memilih menyelamatkan diri ke daratan tinggi. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil terlihat digendong atau didampingi oleh keluarganya menuju titik kumpul darurat yang telah ditetapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Ribuan jiwa memenuhi jalan setapak dan jalan provinsi yang menghubungkan Maumere dengan kawasan pedalaman.
"Kami baru saja akan salat maghrib ketika tiba-tiba lantai rumah naik turun seperti ombak. Lampu padam, dan terdengar suara gemuruh dari arah bukit. Semua orang berteriak minta tolong. Saya hanya bisa menggendong anak saya dan lari ke lapangan,"
tutur Markus Lena (42), warga Dusun Wairblei, Desa Talibura, dengan suara masih bergetar saat ditemui tim Apaberita di posko pengungsian Minggu pagi. Ia menceritakan bahwa guncangan kuat berlangsung hampir satu menit, waktu yang cukup lama untuk memicu trauma mendalam di kalangan warga.
Tak hanya di Talibura, getaran yang dirasakan hingga skala intensitas V hingga VI MMI ini juga menyebabkan kepanikan di Kota Maumere, ende, dan beberapa wilayah di Pulau Flores. Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pasca-gempa, namun warga pesisir tetap naik ke ketinggian secara mandiri demi berjaga-jaga. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang berpotensi merusak karena energinya tidak banyak teredam sebelum sampai ke permukaan.
Dampak Infrastruktur dan Upaya Respons Darurat
Hingga Minggu dini hari, tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sikka, TNI, Polri, dan relawan mulai menyisir lokasi terdampak untuk menilai kerusakan. Minimal 47 unit rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat, dengan lima di antaranya rusak parah dan tidak lagi layak huni. Sebuah sekolah dasar di Kecamatan Talibura juga mengalami retak pada tiang penyangga, sementara jalan akses menuju tiga dusun terisolir akibat longsor batu yang menutupi separuh badan jalan.
"Kami telah mengerahkan alat berat untuk membuka akses dan mendistribusikan logistik dasar seperti tenda, makanan instan, serta air bersih. Prioritas utama adalah memastikan tidak ada warga yang terjebak reruntuhan dan memenuhi kebutuhan para pengungsi," jelas Letkol Inf. Ahmad Rizky, Komandan Satgas Penanganan Darurat Bencana, saat memberikan keterangan pers di Posko Utama BPBD Sikka.
Kondisi medis di posko pengungsian mulai menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. Beberapa balita dan lansia mengalami demam dan hipotermia akibat menginap di tenda darurat dengan suhu udara yang turun drastis pada malam hari. Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bergerak cepat membuka layanan klinik lapangan guna mencegah penularan penyakit pada masa tanggap darurat. Kecemasan tentang adanya gempa susulan juga masih menyelimuti para pengungsi, meskipun BMKG mencatat aktivitas aftershock masih dalam batas wajar dengan magnitudo tidak lebih dari 5,0.
Catatan Sejarah dan Kesiapsiagaan
Pulau Flores memang dikenal sebagai salah satu jalur sesar aktif yang berada di pertemuan lempok Indo-Australia dan Eurasia. Gempa besar pernah melanda kawasan ini pada 1992 dengan magnitudo 7,8 yang memicu tsunami dan menelan ribuan korban di sekitar Flores dan Babi. Pengalaman pahit tersebut seolah kembali teringat saat guncangan Sabtu malam berlangsung, membuat refleksi tentang kesiapsiagaan menjadi semakin mendesak.
Aktivis lingkungan dan mitigasi bencana dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Flores Peduli, Maria Oktaviana, menekankan bahwa pembangunan infrastruktur tahan gempa harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. "Kita tidak bisa melawan kekuatan alam, tetapi kita bisa mengurangi risiko. Rumah-rumah di desa-desa masih banyak yang menggunakan struktur batu tanpa tulang pun yang memadai. Saat gempa M 7,7 datang, mereka menjadi target paling rentan," ujarnya dengan nada prihatin.
Hingga berita ini diturunkan, proses pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan. Warga Desa Talibura dan sekitarnya memilih untuk bertahan di pengungsian sambil menunggu jaminan keamanan struktur bangunan dari tim ahli. Pemerintah Kabupaten Sikka telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari ke depan dengan harapan bantuan dapat merata menjangkau setiap keluarga yang terdampak.
Gempa yang mengguncang Flores ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang duduk di Ring of Fire harus selalu waspada. Di tengah upaya pemulihan, solidaritas antarwarga dan koordinasi instansi terkait menjadi penentu utama agar trauma tidak berujung pada bencana kemanusiaan yang lebih luas.
[SOCIAL_TWEET]: Gempa M 7,7 guncang Sik
Comments (0)