Suasana cerah diiringi hembusan angin kencang mewarnai kawasan pesisir Kabupaten Pandeglang, Banten. Memasuki hari ke-10 pencarian, Tim SAR Gabungan kembali melebarkan radius penyisiran guna menemukan keberadaan seorang jurnalis dan kru kapal yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. Upaya pencarian secara masif difokuskan membentang dari garis Pesisir Carita hingga Pantai Anyer, menyisir setiap celah karang dan ceruk daratan yang berpotensi menjadi titik terdamparnya korban.
Penyisiran darat dan laut ini dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur SAR, mulai dari Basarnas, Polairud Polda Banten, TNI Angkatan Laut, BPBD, hingga relawan masyarakat lokal. Petugas tak menyerah menembus gelombang laut demi menyibak tabir misteri hilangnya jurnalis tersebut. Rasa cemas dan harapan yang membumbung tinggi dari pihak keluarga menjadi pendorong utama semangat para personel di lapangan untuk terus bekerja tanpa kenal lelah, meskipun batas waktu standar operasi pencarian kian menipis.
Perluasan Wilayah Penyisiran dan Tantangan Cuaca
Koordinator lapangan Operasi SAR menyatakan bahwa penyisiran hari ke-10 ini memprioritaskan pemantauan visual di sepanjang garis pantai. Arus laut Selat Sunda yang dikenal dinamis dan sulit diprediksi mengarahkan pergerakan material apung menuju ke arah utara dan timur laut, tepatnya mendekati kawasan wisata Anyer.
| Parameter Operasi | Detail Informasi |
|---|---|
| Hari Operasi | Hari ke-10 (Kamis) |
| Fokus Area | Pesisir Carita hingga Pantai Anyer (Pandeglang - Serang) |
| Unsur Terlibat | Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, Relawan Potensi SAR |
| Armada Utama | Rigid Inflatable Boat (RIB), Perahu Karet, Drone Thermal |
"Kami membagi tim menjadi beberapa SRU (Search and Rescue Unit). SRU darat bertugas menyisir sepanjang garis pantai Carita-Anyer secara berjalan kaki dan memanfaatkan kendaraan amfibi, sementara SRU laut tetap memantau area perairan dangkal," ujar perwakilan Basarnas di lokasi penyisiran.
Komitmen Operasi dan Harapan Keluarga
Pencarian jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas di perairan ini mendapat perhatian luas dari insan pers nasional. Keberanian korban dalam bertugas menyisakan duka sekaligus keteguhan bagi rekan-rekan sejawatnya.
"Kami tidak akan menghentikan evaluasi sebelum ada petunjuk valid. Setiap informasi dari nelayan atau warga lokal mengenai tanda-tanda atau serpihan kapal langsung kami tindak lanjuti secara cepat," tegas Komandan Tim Operasi SAR.
Meskipun menghadapi kendala berupa visibilitas bawah air yang terbatas akibat sedimentasi lumpur dan vegetasi laut, tim tetap memaksimalkan penggunaan teknologi drone udara berbasis pencitraan termal. Drone ini ditugaskan terbang rendah menyusuri tebing-tebing karang terjal di sepanjang Pantai Carita yang sulit dijangkau oleh manusia.
Evaluasi Berkelanjutan Operasi Pencarian
Sesuai dengan regulasi pencarian dan pertolongan, operasi SAR umumnya berlangsung selama tujuh hari. Namun, mengingat status korban serta adanya potensi petunjuk baru di sepanjang garis pantai, masa operasi diperpanjang berdasarkan evaluasi harian bersama pihak keluarga dan instansi terkait.
Hingga berita ini diturunkan, seluruh armada penyelamat masih bersiaga penuh di posko utama Carita. Masyarakat pesisir dan para nelayan yang berlayar di sekitar Selat Sunda juga diimbau untuk segera melaporkan ke posko SAR terdekat apabila menemukan benda-benda mencurigakan atau tanda-tanda keberadaan korban. Dukungan moral dan doa terus mengalir agar pencarian ini segera membuahkan hasil nyata dan memberikan kepastian bagi keluarga korban.
Comments (0)