Menlu RI Sugiono Temui Menlu Iran di Mashdad
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Mashdad, Iran, pada Jumat (10/7/2026)
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Mashdad, Iran, pada Jumat (10/7/2026) waktu setempat. Pertemuan yang berlangsung hangat ini menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral kedua negara di tengah situasi geopolitik kawasan yang semakin kompleks.
Mashdad, kota suci kedua bagi umat Syiah setelah Karbala, dipilih sebagai lokasi pertemuan guna menunjukkan kedekatan kultural dan historis antara kedua negara. Kunjungan Sugiono ke Iran ini merupakan bagian dari rangkaian lawatan diplomatiknya di Timur Tengah, yang juga mencakup Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Diplomasi langsung ini menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memainkan peran aktif sebagai jembatan perdamaian dan kerja sama di kawasan.
Latar Belakang Hubungan Indonesia-Iran
Hubungan diplomatik Indonesia dan Iran telah memasuki usia 77 tahun, ditandai dengan beragam kesepahaman di bidang energi, perdagangan, pendidikan, dan budaya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama ekonomi belum sepenuhnya optimal akibat kendala sanksi internasional terhadap Iran dan fluktuasi harga minyak global. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa total perdagangan bilateral Indonesia-Iran mencapai USD 1,2 miliar pada 2025, meningkat 8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Indonesia mengekspor minyak sawit mentah (CPO), kertas, dan produk otomotif ke Iran, sementara dari Iran Indonesia mengimpor petrokimia, kurma, dan bitumen. Namun, ekspor langsung energi dari Iran ke Indonesia masih terhambat oleh mekanisme pembayaran dan tekanan regulasi keuangan global. Pertemuan di Mashdad dinilai sebagai upaya konkret untuk membuka jalur baru kerja sama strategis, terutama di sektor energi terbarukan dan ketahanan pangan.
Kronologi Pertemuan di Mashdad
Pertemuan berlangsung di kompleks peristirahatan resmi delegasi Iran di dekat Makam Imam Reza, sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Berikut urutan kejadian berdasarkan informasi yang dihimpun dari Kementerian Luar Negeri RI dan media setempat:
- Pukul 10.00 – 10.30 waktu setempat: Menteri Luar Negeri Sugiono dan delegasi disambut oleh Menlu Abbas Araghchi dengan upacara resmi. Keduanya kemudian melakukan foto bersama dan berbincang singkat di lobi utama.
- Pukul 10.30 – 12.00: Pertemuan tatap muka tertutup (one-on-one meeting) yang membahas isu-isu bilateral pokok: energi, perdagangan, visa haji dan umrah, serta kerja sama antiterorisme.
- Pukul 12.00 – 13.30: Pertemuan pleno yang dihadiri oleh delegasi dari kedua negara, termasuk pejabat dari Kementerian Perdagangan RI dan perwakilan badan energi Iran.
- Pukul 13.30 – 14.00: Konferensi pers bersama yang disiarkan secara langsung oleh televisi nasional Iran, Press TV.
- Pukul 14.15: Jamuan makan siang resmi kenegaraan, sekaligus perpisahan delegasi.
Pembahasan Utama: Energi hingga Palestina
Dalam keterangan pers usai pertemuan, Menlu Sugiono menyatakan bahwa Indonesia melihat Iran sebagai mitra strategis di kawasan Teluk. “Kami mengeksplorasi kemungkinan pembelian langsung minyak mentah ringan Iran sebesar 200.000 barel per hari untuk kebutuhan kilang Pertamina yang telah dimodernisasi,” ujar Sugiono. Jika terwujud, volume ini akan menutup sekitar 12 persen kebutuhan impor harian Indonesia.
Sementara itu, Menlu Araghchi menekankan pentingnya membangun rute transportasi dan logistik langsung dari pelabuhan Chabahar ke pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia, guna memangkas biaya dan waktu pengiriman. Chabahar merupakan pelabuhan bebas yang dikembangkan Iran dan India, dan menjadi simpul penting perdagangan tanpa hambatan sanksi tertentu.
Di luar isu ekonomi, kedua menteri juga membahas perkembangan konflik di Palestina. Indonesia dan Iran sepakat bahwa solusi dua negara adalah kerangka yang paling realistis, namun Iran mendorong sikap yang lebih tegas terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat. Sugiono menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap hak rakyat Palestina sembari tetap mengedepankan dialog multilateral melalui OKI dan PBB. “Indonesia tidak akan lelah mendorong gencatan senjata permanen di Gaza dan bantuan kemanusiaan tanpa hambatan,” kata Sugiono.
Kerja Sama Pendidikan dan People-to-People Contact
Aspek lain yang menjadi pembahasan serius adalah peningkatan volume beasiswa pendidikan tinggi. Saat ini, lebih dari 400 mahasiswa Indonesia tengah menempuh studi di universitas-universitas Iran, terutama di Qom, Teheran, dan Mashdad, dengan fokus pada studi Islam, sains, dan teknik. Pertemuan di Mashdad menghasilkan nota kesepahaman baru untuk menambah kuota beasiswa hingga 30 persen pada tahun akademik 2027/2028. Disepakati pula program pertukaran dosen dan peneliti antara Universitas Indonesia dan University of Tehran yang akan dimulai pada semester depan.
Kedekatan budaya dan keagamaan menjadi fondasi yang memperkuat people-to-people contact. Mashdad sebagai kota ziarah menarik ribuan warga Indonesia setiap tahunnya. Menlu Sugiono juga mengapresiasi fasilitas yang diberikan pemerintah Iran bagi jemaah Indonesia, serta berharap jalur penerbangan langsung Jakarta-Mashdad bisa segera dibuka oleh maskapai nasional kedua negara.
Respons Atas Isu Keamanan Regional
Tak bisa dihindari, isu keamanan regional menjadi bagian dari dialog tertutup. Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel serta dinamika baru di Suriah dan Yaman menjadi perhatian serius. Indonesia meminta agar semua pihak menahan diri dan menjunjung hukum internasional. “Stabilitas kawasan Teluk adalah kepentingan dunia, termasuk Indonesia. Kami mendorong semua pihak untuk kembali ke meja perundingan dan meninggalkan aksi militer unilateral,” tegas Sugiono.
Pernyataan ini mendapat apresiasi dari Menlu Araghchi, yang menyebut Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan demokrasi ketiga terbesar di dunia memiliki suara moral yang kuat. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan koordinasi dalam forum-forum multilateral seperti Gerakan Non-Blok dan D-8, guna memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil.
Secara terpisah, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Lina Mulyani, menilai pertemuan ini menunjukkan kebangkitan diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia di bawah Menlu Sugiono. “Di tengah polarisasi global, Indonesia cerdik memelihara hubungan dengan semua kutub kekuatan, dan kunjungan ke Iran adalah bukti bahwa Indonesia tidak mengisolasi pihak manapun,” ujarnya.
Tindak Lanjut dan Rencana Kunjungan Presiden
Sebagai tindak lanjut konkret, kedua belah pihak sepakat membentuk Kelompok Kerja Bersama (Joint Working Group) di bidang energi yang akan menggelar pertemuan teknis pertama di Jakarta pada September 2026. Kelompok kerja ini akan merumuskan opsi pembayaran non-dolar, skema barter komoditas, dan jaminan asuransi pengiriman yang sesuai dengan regulasi internasional.
Pertemuan di Mashdad juga membuka jalan bagi rencana kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Teheran pada awal 2027. Jika terealisasi, ini akan menjadi kunjungan kepala negara Indonesia pertama ke Iran dalam lebih dari satu dekade, yang diharapkan mampu mewujudkan lompatan signifikan dalam volume perdagangan dan investasi bilateral.
Dengan selesainya lawatan ini, Indonesia memperlihatkan konsistensinya menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Tidak hanya mengunci kemitraan tradisional dengan Barat dan negara tetangga, tetapi juga merangkul kekuatan-kekuatan yang kerap dianggap berada di luar arus utama. Dalam dinamika dunia yang terus bergerak, langkah Sugiono di tanah para Imam ini bisa menjadi kartu penting bagi posisi tawar Indonesia di panggung global.
Comments (0)