Megawati Serukan Solidaritas Asia Afrika Hadapi Krisis Geopolitik

Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyerukan revitalisasi Gerakan Asia Afrika sebagai strategi kolektif menghada...

Megawati Serukan Solidaritas Asia Afrika Hadapi Krisis Geopolitik

Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyerukan revitalisasi Gerakan Asia Afrika sebagai strategi kolektif menghadapi krisis geopolitik yang terus memburuk. Seruan itu disampaikan dalam seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di hadapan ratusan kader, akademisi, dan praktisi diplomasi, Megawati menegaskan bahwa fondasi solidaritas Asia Afrika yang digagas pada Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung harus dihidupkan kembali.

“Kita menyaksikan negara-negara besar saling berkonfrontasi, membawa risiko konflik yang dapat melibatkan kita. Gerakan Asia Afrika adalah kompas moral dan politik untuk melindungi kepentingan nasional negara-negara berkembang,” tegas Megawati dalam pidato kuncinya. Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak lebih damai dibandingkan era Perang Dingin, sehingga prinsip dasar Dasasila Bandung justru semakin mendesak untuk diimplementasikan.

Relevansi Dasasila Bandung dalam Pusaran Konflik Global

Megawati memaparkan bagaimana prinsip Dasasila Bandung—yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian konflik secara damai—masih menjadi acuan yang sangat relevan. Ia menyoroti ancaman intervensi asing, sanksi sepihak, dan fragmentasi global yang dinilai menggerus kemandirian negara-negara berkembang. “Dunia sekarang tidak lebih damai dari tahun 1955. Kita harus kembali ke semangat anti-kolonialisme dan penentuan nasib sendiri. Jangan biarkan negara kita menjadi arena pertempuran ideologi kekuatan besar,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana ketegangan di Laut China Selatan, perang berkepanjangan di Ukraina, serta persaingan sengit blok Barat dan Timur kembali menempatkan negara Asia Afrika dalam posisi rentan. Menurut Megawati, tanpa solidaritas yang kuat, negara-negara Selatan hanya akan menjadi korban dari rivalitas kutub-kutub kekuatan mayor. “Kita tidak boleh terjebak dalam permainan kekuatan besar yang selalu ingin memecah belah negara-negara berkembang,” kata Megawati.

PDIP Tanamkan Ajaran Bung Karno Melalui Sekolah Partai

Seminar yang digagas oleh Sekolah Partai PDIP ini merupakan bagian dari program pendidikan kader untuk memperkuat pemahaman geopolitik sekaligus menanamkan ajaran Bung Karno tentang kemandirian bangsa. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam sambutannya menyatakan bahwa partai berkomitmen melestarikan warisan politik Bung Karno, terutama mengenai pentingnya solidaritas Asia Afrika. “Kami ingin kader-kader partai memahami dinamika global dan bersikap tegas terhadap segala bentuk dominasi asing. Gerakan Asia Afrika adalah DNA perjuangan partai ini,” kata Hasto.

Hadir pula Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah dan Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang turut mengikuti jalannya seminar. Basarah menegaskan bahwa PDIP akan terus mendorong pemerintah untuk memprioritaskan kerja sama Selatan-Selatan, termasuk memperkuat peran Indonesia dalam forum-forum multilateral seperti BRICS. “Keterlibatan Indonesia dalam gerakan non-blok harus diperkuat karena itu adalah warisan dari Presiden Soekarno dan Ibu Megawati,” ujar Basarah.

Seruan Kolektif untuk Negara Selatan

Megawati secara khusus mengajak negara-negara Asia Afrika untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan politik di tengah upaya negara maju mempertahankan hegemoni. Ia menyoroti perlunya reformasi arsitektur keuangan global dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar lebih mencerminkan kepentingan negara berkembang. “Kita tidak bisa terus bergantung pada lembaga-lembaga yang tidak adil. Negara Selatan harus memiliki suara yang setara dalam menentukan arah tata kelola dunia,” tegasnya.

Lebih jauh, Megawati mendorong negara-negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan pada mata rantai pasok negara maju dan memanfaatkan potensi kerja sama intra-Asia Afrika di bidang pangan, energi, dan teknologi. Ia menilai Gerakan Asia Afrika bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan platform strategis yang dapat mentransformasi tatanan dunia menjadi lebih inklusif dan berkeadilan.

Pandangan Akademisi dan Mantan Diplomat

Seminar ini juga menghadirkan perspektif dari sejumlah akademisi dan mantan diplomat senior. Mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Marty Muliana Natalegawa memberikan analisis tentang dampak perang Ukraina terhadap stabilitas kawasan dan rantai pasok global. “Ketidakpastian global membuat negara-negara berkembang sangat rentan. Solidaritas intra-Asia Afrika dapat menjadi penyangga terhadap guncangan eksternal,” kata Natalegawa.

Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menekankan pentingnya membangun narasi tandingan terhadap dominasi media Barat dalam membingkai konflik global. “Kita perlu mengembangkan sudut pandang sendiri dalam melihat isu-isu dunia. Gerakan Asia Afrika harus diperkuat melalui diplomasi publik yang masif dan terstruktur,” ujar Djalal. Para pembicara sepakat bahwa warisan Bandung harus diarusutamakan kembali dalam kebijakan luar negeri Indonesia dan negara-negara sekawasan.

Acara yang berlangsung seharian penuh ini diikuti oleh sekitar 400 peserta yang terdiri dari kader PDIP dari berbagai daerah, mahasiswa, dan komunitas pemerhati hubungan internasional. Megawati menutup seminar dengan harapan agar semangat Asia Afrika terus menyala dalam setiap kebijakan politik luar negeri Indonesia. “Jangan pernah lelah memperjuangkan dunia yang lebih adil. Itulah tugas sejarah kita sebagai bangsa yang merdeka,” pungkas Megawati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User