Longsor Gegerkalong Hancurkan Masjid dan Rumah Warga
Bandung, Jawa Barat — Bencana longsor menerjang kawasan Gegerkalong, Kota Bandung, pada Kamis (17/7/2025), menghancurkan empat unit bangunan, termasuk sebuah masjid, madrasah, serta dua rumah milik ...
Bandung, Jawa Barat — Bencana longsor menerjang kawasan Gegerkalong, Kota Bandung, pada Kamis (17/7/2025), menghancurkan empat unit bangunan, termasuk sebuah masjid, madrasah, serta dua rumah milik warga setempat. Kejadian tersebut diduga dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah dataran tinggi Bandung utara selama beberapa hari terakhir.
Empat Bangunan Hancur Akibat Material Tanah Longsor
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Ir. Dedi Sufriadi, M.T., membenarkan adanya insiden longsor di kawasan Gegerkalong. Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, sejumlah material tanah dan bebatuan bergerak turun menimbun bangunan-bangunan yang berada di lereng.
"Kejadian terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Empat bangunan terdampak langsung, yakni Masjid Al-Hikmah, Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas, serta dua unit rumah milik warga yang berada di sekitar lokasi," ujar Dedi saat dikonfirmasi di Kantor BPBD Kota Bandung.
Berdasarkan catatan BPBD Kota Bandung, estimasi kerugian material akibat bencana tersebut mencapai kurang lebih Rp 2,3 miliar. Angka ini belum termasuk kerugian nonmateriil berupa aktivitas ibadah dan kegiatan belajar mengajar yang terhenti di masjid serta madrasah yang hancur.
Sementara itu, Lurah Gegerkalong, H. Asep Saepudin, S.IP., menyatakan bahwa kedua rumah warga yang hancur adalah milik warga berinisial D dan RS. Keduanya merupakan penduduk asli yang telah menghuni kawasan tersebut lebih dari dua dekade.
"Kedua keluarga ini sekarang mengungsi sementara di aula kelurahan. Kami sudah mengkoordinasikan bantuan logistik bersama RT dan RW setempat," kata Asep.
Ratusan Jemaah dan Siswa Terdampak
Akibat hancurnya Masjid Al-Hikmah, sekitar 150-an jemaah yang biasa melaksanakan salat berjamaah di lokasi tersebut kini harus mencari tempat ibadah alternatif. Ketua Takmir Masjid Al-Hikmah, H. Endang Suryana, menyayangkan kerusakan parah yang dialami rumah ibadah itu.
"Selain tempat salat, di masjid juga ada perpustakaan kecil dan ruang kelas TPA anak-anak. Semua tertimbun. Ini kerugian yang tidak sedikit bagi kami," ungkap Endang.
Selain itu, Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas yang hancur merupakan lembaga pendidikan dasar dengan jumlah 87 siswa aktif. Dinas Pendidikan Kota Bandung menyatakan akan segera mengalihkan proses belajar mengajar ke gedung sekolah tetangga di Kecamatan Coblong.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, H. Eman Suryaman, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti karena bencana.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Kepala Madrasah untuk merelokasi sementara. Insya Allah minggu depan sudah bisa berjalan normal di lokasi alternatif," ucap Eman.
Gubernur Jawa Barat Minta Penanganan Cepat
Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., merespons cepat insiden longsor di Gegerkalong. Melalui akun resmi media sosialnya, Dedi Mulyadi memerintahkan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera menurunkan bantuan dan melakukan asesmen kerusakan secara menyeluruh.
"Saya sudah perintahkan Kadis SDA dan Kadis Cipta Karya untuk turun langsung ke lokasi. Prioritas utama adalah evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak," tegas Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi juga meminta Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat untuk melakukan kajian teknis terhadap kondisi lereng di kawasan Gegerkalong. Langkah ini dianggap mendesak mengingat kawasan tersebut memiliki kontur tanah yang relatif curam dan rentan terjadi pergerakan tanah.
"Berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan bagian integral dari penanganan risiko bencana. Kami akan pastikan ini berjalan," lanjutnya.
BPBD Identifikasi Zona Rawan Longsor di Bandung Utara
Data dari BPBD Kota Bandung menunjukkan bahwa kawasan Bandung utara, termasuk Gegerkalong, merupakan salah satu zona dengan risiko tanah longsor cukup tinggi. Berdasarkan peta rawan bencana tahun 2024, terdapat setidaknya 23 titik di wilayah Bandung utara yang masuk kategori rawan longsor.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Kota Bandung, Rini Kartini, S.Si., M.Si., menyatakan bahwa pihaknya telah berulang kali melakukan sosialisasi kepada warga di kawasan lereng terkait potensi bencana.
"Kami sudah pasang rambu-rambu peringatan di beberapa titik. Namun, cuaca ekstrem kali ini memang di luar prediksi. Hujan turun terus-menerus selama hampir 72 jam," jelas Rini.
Saat ini, BPBD Kota Bandung bersama TNI, Polri, serta relawan dari organisasi kemasyarakatan masih melakukan pembersihan material longsor di lokasi kejadian. Proses evakuasi dan pendirian dua tenda pengungsian untuk 12 Kepala Keluarga (KK) terdampak juga telah dilakukan.
Warga Minta Relokasi Permanen
Sejumlah warga yang rumahnya hancur menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan solusi perumahan permanen pasca-bencana. Salah satu korban, Siti Nurhaliza (42 tahun), istri dari pemilik rumah berinisial D, menyampaikan kekhawatirannya terkait nasib keluarganya ke depan.
"Kami tidak tahu harus pulang ke mana. Kalau bisa, kami mohon ada relokasi ke tempat yang lebih aman. Anak-anak kami juga perlu sekolah dan beribadah dengan tenang," tutur Siti dengan nada bergetar.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Bandung, H. Yana Mulyana, S.E., M.M., menyatakan akan mengupayakan solusi terbaik bagi warga terdampak. Dalam rapat koordinasi darurat yang digelar pada Jumat (18/7/2025) pagi, Yana Mulyana menegaskan komitmen pemerintah kota untuk memulihkan kondisi pasca-bencana secara bertahap.
"Kami sudah instruksikan Dinas Perumahan untuk melakukan pendataan seluruh warga terdampak. Apabila memenuhi kriteria, mereka akan masuk dalam program relokasi perumahan layak huni," papar Yana Mulyana.
Pemerintah Kota Bandung juga menetapkan status siaga bencana bagi seluruh wilayah Bandung utara menyusul laporan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan hujan dengan intensitas tinggi masih akan berlangsung hingga akhir pekan ini.
Seluruh camat dan lurah di kawasan utara diinstruksikan untuk melakukan pemantauan aktif terhadap kondisi tanah serta siap melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi memburuk. Sementara itu, Dinas Sumber Daya Air Kota Bandung juga telah mengerahkan alat berat untuk menormalisasi aliran sungai kecil di sekitar lokasi longsor guna mencegah terjadinya banjir susulan.
Comments (0)