Longsor Gegerkalong Bandung Hancurkan Masjid dan Dua Rumah Warga
Bandung — Bencana tanah longsor menerjang kawasan permukiman di Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis malam (18/7/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Peristiwa i...
Bandung — Bencana tanah longsor menerjang kawasan permukiman di Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis malam (18/7/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Peristiwa ini mengakibatkan empat bangunan rusak berat, terdiri dari satu masjid, satu madrasah, dan dua rumah tinggal milik warga. Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Kronologi Peristiwa
Longsor dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 16.00 WIB. Material tanah dari tebing setinggi kurang lebih 15 meter di belakang permukiman warga bergerak secara tiba-tiba setelah kondisi tanah menjadi jenuh air. Tebing yang berada di RT 04 RW 08 tersebut longsor dan langsung menerjang bagian belakang bangunan-bangunan yang berada tepat di bawahnya.
Saksi mata, Dedi Wahyudi (42), yang rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari lokasi menjelaskan, “Saya mendengar suara gemuruh keras, lalu langsung melihat material tanah dan batu besar turun menghantam dinding belakang masjid. Warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.”
Proses evakuasi dini dilakukan secara swadaya oleh warga dengan dibantu perangkat RT/RW. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung tiba di lokasi sekitar pukul 23.00 WIB dan segera melakukan penilaian cepat serta memastikan tidak ada warga yang terjebak di dalam bangunan yang ambruk.
Dampak dan Bangunan yang Rusak
Keempat bangunan yang terdampak longsor mengalami kerusakan berat pada bagian struktur utama. Masjid Al-Hidayah yang berfungsi sebagai pusat ibadah warga sekitar mengalami roboh pada bagian belakang hingga ke dalam ruang salat. Material tanah masuk hingga hampir sepertiga bagian bangunan, merusak mimbar, sajadah, dan peralatan ibadah lainnya.
Madrasah Diniyah Al-Ikhlas yang berada di sebelah masjid turut ambrol pada dua ruang kelas. Kondisi ini memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara. Sementara itu, dua rumah warga milik Ahmad Fauzi (45) dan Suryana (50) hancur seluruhnya pada bagian dapur dan dua kamar tidur. Beruntung, seluruh penghuni kedua rumah tersebut telah mengungsi lebih awal saat hujan deras mulai melampaui batas normal.
Camat Sukasari, Heri Kusnadi, dalam keterangannya Jumat pagi (19/7/2026) menyampaikan, “Kami telah mendata total empat bangunan terdampak berat dan saat ini masih melakukan asesmen lanjutan bersama tim teknis. Prioritas kami adalah memastikan keselamatan warga dan mempercepat penanganan darurat.”
Respons Pemerintah dan Bantuan Darurat
BPBD Kota Bandung bersama Dinas Sosial dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman segera mendirikan tenda pengungsian sementara di area terbuka yang aman dari potensi longsor susulan. Sebanyak 23 jiwa dari lima keluarga yang terdampak langsung telah direlokasi ke lokasi pengungsian dengan bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, serta layanan kesehatan dasar dari Puskesmas Sukasari.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Dani Ramdan, menegaskan bahwa tim geologi telah diterjunkan untuk memetakan zona rawan di sekitar permukiman tersebut. “Kami sedang melakukan survei geoteknik untuk memastikan tingkat stabilitas lereng dan potensi longsor susulan. Warga di radius 100 meter dari pusat longsor kami imbau untuk sementara mengungsi sampai kondisi benar-benar aman,” jelasnya.
Pemerintah Kota Bandung juga menyatakan akan memberikan bantuan perbaikan bagi bangunan ibadah dan rumah warga yang rusak melalui skema tanggap darurat dan dana tak terduga. Proses pembersihan material longsor dimulai Jumat pagi dengan melibatkan alat berat jenis ekskavator mini yang dikirim dari Dinas Pekerjaan Umum.
Imbauan Kewaspadaan
Plt. Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, melalui video conference pagi ini mengimbau seluruh warga di kawasan berlereng dan perbukitan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan berlangsung. “Kami meminta warga untuk segera melapor apabila melihat retakan tanah, muncul rembesan air baru, atau tanda-tanda awal longsor lainnya. Keselamatan jiwa adalah yang utama,” katanya.
Berdasarkan data sementara BPBD, sepanjang tahun 2026, Kota Bandung telah mencatat 12 kejadian tanah longsor dengan lima di antaranya menimbulkan kerusakan bangunan. Kejadian di Gegerkalong menjadi salah satu yang terparah dari segi jumlah bangunan yang ambrol sekaligus. Pihak berwenang berkomitmen untuk mempercepat rekontruksi dan memberikan dukungan psikososial bagi warga yang terdampak, terutama anak-anak yang kehilangan tempat bermain dan ruang belajar mereka.
Comments (0)