Oct 08, 2026
Hukum

Larangan Buku di AS Cetak Rekor, Texas dan Florida Jadi Episentrum

Gelombang pelarangan buku di Amerika Serikat kembali mencatat rekor kelam. Sepanjang periode 2025 hingga 2026, hampir 12.000 judul buku ditarik dari rak pe

Larangan Buku di AS Cetak Rekor, Texas dan Florida Jadi Episentrum

Gelombang pelarangan buku di Amerika Serikat kembali mencatat rekor kelam. Sepanjang periode 2025 hingga 2026, hampir 12.000 judul buku ditarik dari rak perpustakaan sekolah dan umum—melonjak sekitar 5.000 judul dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah pencatatan yang dilakukan PEN America, organisasi kebebasan berekspresi yang rutin memantau fenomena tersebut.

Laporan yang dirilis Senin itu menyebut tekanan politik lokal dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai dua pendorong utama lonjakan. Texas dan Florida kembali memimpin sebagai penyumbang terbesar kasus pelarangan, memperkuat pola yang sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Yang membedakan tahun ini adalah skala dan kecepatannya—proses penyisiran judul kini berlangsung otomatis, bukan lagi lewat pengaduan manual satu per satu.

AI Jadi Alat Baru Penyisiran Judul

Menurut laporan PEN America, sejumlah distrik sekolah mulai mengadopsi perangkat lunak berbasis AI untuk memindai katalog perpustakaan secara massal. Algoritma ini menandai buku berdasarkan kata kunci yang dianggap sensitif—mulai dari isu ras, identitas gender, hingga kekerasan—lalu menyerahkannya ke komite peninjau untuk diputuskan.

"Apa yang dulu butuh berbulan-bulan negosiasi di rapat komite sekolah, kini bisa selesai dalam hitungan jam. Mesin menyaring, manusia tinggal mengesahkan," ujar seorang peneliti PEN America dalam laporannya.

Efeknya terasa pada komposisi buku yang dilarang. Mayoritas judul yang dicabut adalah karya penulis kulit berwarna, buku bertema LGBTQ+, serta novel grafis yang menyentuh isu sosial. Ironisnya, banyak di antaranya justru masuk daftar bacaan rekomendasi nasional beberapa tahun sebelumnya.

Texas dan Florida di Pusat Tekanan

Data lapangan menunjukkan kedua negara bagian bagian selatan itu menyumbang porsi terbesar kasus. Kebijakan tingkat distrik di Texas memberi orang tua hak luas untuk menantang buku apa pun, sementara Florida memperkuat aturan yang mewajibkan penyaringan materi "tidak pantas" di perpustakaan sekolah.

WilayahPeran dalam Lonjakan
TexasPenyumbang kasus terbesar, kebijakan tantangan buku luas
FloridaAturan penyaringan materi sekolah diperketat
Distrik lainMengadopsi pola serupa, sebagian berbasis AI

Dampaknya tidak berhenti pada buku yang hilang. Pustakawan melaporkan meningkatnya beban administratif, tekanan psikologis, hingga kasus pengunduran diri. Sebagian memilih pensiun dini ketimbang menghadapi ancaman hukum atau intimidasi politik.

Ketika Rak Kosong, Siapa yang Dirugikan?

Kelompok literasi dan guru memperingatkan bahwa penghapusan massal ini mempersempit akses siswa terhadap beragam perspektif—padahal kemampuan berpikir kritis justru dibangun dari paparan terhadap sudut pandang berbeda. Buku yang hilang bukan sekadar kertas, melainkan jendela yang ditutup bagi generasi muda.

"Kami tidak menentang keterlibatan orang tua. Yang kami tolak adalah sistem yang menyaring buku seperti memfilter spam, tanpa membaca, tanpa konteks," kata seorang koordinator perpustakaan sekolah.

Hingga kini, belum ada indikasi gelombang ini akan surut. Sebaliknya, pola adopsi teknologi AI untuk penyaringan konten berpotensi menyebar ke distrik lain di negara bagian berbeda. Pertanyaannya bukan lagi apakah buku akan dilarang, melainkan seberapa cepat mesin memutuskan judul mana yang layak tinggal di rak.

Hampir 12.000 judul dilarang sepanjang 2025-2026 (+5.000 dari tahun lalu). 📍 Texas & Florida jadi pusat tekanan. 🤖 AI kini dipakai memindai katalog perpustakaan. Detail: Apaberita.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User