Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Banyak korban hubungan toksik yang justru memilih untuk tetap bertahan, meskipun terus-menerus mengalami perlakuan yang merugikan secara emosional, fisik, maupun psikologis. Situasi ini kerap memicu

Jul 08, 2026 - 08:54
0 0
Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Banyak korban hubungan toksik yang justru memilih untuk tetap bertahan, meskipun terus-menerus mengalami perlakuan yang merugikan secara emosional, fisik, maupun psikologis. Situasi ini kerap memicu kebingungan dan pertanyaan dari lingkungan sekitar yang menilai bahwa meninggalkan pasangan bermasalah seharusnya menjadi keputusan yang mudah. Namun, pada kenyataannya, proses melepaskan diri dari jeratan hubungan destruktif tidak pernah sesederhana yang dibayangkan oleh pihak luar.

Fenomena ini mendapatkan penjelasan medis dari sudut pandang kesehatan jiwa. Spesialis kejiwaan, dr Erickson Arthur S, SpKJ, mengungkapkan bahwa alasan utama di balik sulitnya seorang individu keluar dari hubungan penuh kekerasan adalah mekanisme psikologis yang dikenal dengan istilah trauma bonding. Ikatan trauma ini menciptakan siklus ketergantungan yang kuat antara korban dan pelaku kekerasan.

Dalam penjelasannya, dr Erickson memaparkan bahwa kondisi trauma bonding tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui serangkaian fase berulang yang memperkuat ikatan tidak sehat tersebut. Fase pertama yang sangat krusial adalah terjadinya ketidaknyamanan atau rasa sakit akibat tindakan kekerasan itu sendiri. Bentuk kekerasan yang dialami korban sangatlah beragam, mulai dari tindakan fisik yang meninggalkan luka, serangan verbal yang merendahkan martabat, hingga eksploitasi secara seksual.

Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ,

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketidaknyamanan yang timbul dari insiden kekerasan hanyalah awal mula dari lingkaran setan yang kompleks. Setelah fase ketidaknyamanan memuncak, biasanya akan muncul fase berikutnya yang justru memberikan jeda emosional. Pelaku sering kali menunjukkan penyesalan mendalam, memberikan perhatian intens, atau menghujani korban dengan kasih sayang yang berlebihan. Momen 'bulan madu' dalam siklus kekerasan inilah yang secara keliru dipersepsikan oleh otak korban sebagai bentuk cinta sejati, sehingga memperkuat harapan bahwa pasangan akan berubah.

Lebih lanjut, trauma bonding memanipulasi sistem neurokimia otak. Lonjakan hormon stres saat terjadi konflik dan pelepasan hormon bahagia saat fase rekonsiliasi menciptakan bentuk kecanduan biologis yang setara dengan adiksi terhadap zat tertentu. Hal ini menjelaskan mengapa korban sering kali merasa tidak mampu hidup tanpa kehadiran pelaku, serta mengapa nasihat logis dari teman atau keluarga kerap diabaikan dan tidak mampu memutus rantai trauma yang telah mengakar. Informasi ini merupakan bagian dari laporan Apaberita.com mengenai dinamika kesehatan mental dalam relasi interpersonal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User