Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengerahkan sistem pemantauan spektrum frekuensi radio dan berkolaborasi erat dengan seluruh operator seluler nasional guna melacak keberadaan perangkat telekomunikasi milik jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Langkah penelusuran digital ini menjadi bagian krusial dari operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terpadu. Data sinyal dan koordinat transmisi terakhir diharapkan mampu mempersempit radius area pencarian di tengah luasnya perairan laut yang memiliki arus kencang tersebut.
Kronologi dan Langkah Penelusuran Digital
Operasi pemantauan sinyal dijalankan secara simultan bersamaan dengan pengerahan armada penyelamat di laut. Tim teknis melakukan tahapan investigasi digital melalui beberapa langkah taktis:
- Identifikasi Nomor dan IMEI: Kemkomdigi menghimpun identitas digital nomor ponsel serta International Mobile Equipment Identity (IMEI) seluruh awak media yang berada di kapal nahas tersebut.
- Pelacakan Log BTS Terakhir: Operator seluler menelusuri riwayat koneksi data dan transmisi sinyal pada menara Base Transceiver Station (BTS) di pesisir Banten dan Lampung yang sempat menangkap aktivitas ponsel korban.
- Triangulasi dan Analisis Pergerakan: Tim gabungan menganalisis data pancaran sinyal terakhir (last known position) untuk memperkirakan arah hanyutnya kapal berdasarkan arah arus laut dan angin.
- Penyisiran Spektrum Frekuensi Maritim: Balai Monitoring (Balmon) Spektrum Frekuensi Radio menyiagakan perangkat bergerak (mobile monitoring unit) guna memindai potensi transmisi darurat atau radio komunikasi maritim.
"Kami berupaya memaksimalkan seluruh infrastruktur digital yang ada untuk mendukung tim SAR. Data pancaran sinyal seluler dan rekaman log BTS dari operator menjadi petunjuk penting dalam memetakan posisi terakhir korban sebelum hilang kontak," tegas perwakilan Kemkomdigi dalam keterangannya.
Kolaborasi Antarlembaga dalam Operasi SAR
Pencarian jurnalis yang sedang menjalankan tugas liputan maritim ini melibatkan sinergi lintas instansi. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Laut, Polairud, serta potensi SAR daerah bergerak cepat mengandalkan data koordinat yang disuplai oleh tim teknis Kemkomdigi.
Kondisi cuaca ekstrem serta ombak tinggi di kawasan Selat Sunda menjadi tantangan berat bagi armada pencari di lapangan. Oleh karena itu, akurasi data titik koordinat komunikasi sangat menentukan efektivitas penyisiran kapal-kapal patroli di perairan terbuka.
- Dukungan Sektor Telekomunikasi: Penyediaan bandwidth khusus dan penguatan sinyal darurat di posko SAR utama.
- Monitoring Frekuensi Radio Maritim: Pengawasan ketat pada frekuensi darurat internasional (VHF Channel 16) untuk menangkap sinyal marabahaya.
- Sinergi Logistik dan Tim Lapangan: Penempatan personel teknis di posko komando operasi SAR guna memberikan update data telekomunikasi secara realtime.
Hingga saat ini, tim gabungan terus bersiaga penuh selama 24 jam. Kemkomdigi memastikan seluruh instrumen pemantauan frekuensi dan dukungan operator telekomunikasi tetap beroperasi aktif hingga keberadaan seluruh jurnalis dan awak kapal berhasil ditemukan.
Comments (0)