Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — Pakar Komunikasi Soroti Perilaku Sok Keren Yang Merusak Etika

Dalam dinamika kehidupan sosial masyarakat perkotaan yang terus berkembang, batas antara mengekspresikan gaya hidup modern dan menjaga tata krama kerap kal

JAKARTA — Pakar Komunikasi Soroti Perilaku Sok Keren Yang Merusak Etika

Dalam dinamika kehidupan sosial masyarakat perkotaan yang terus berkembang, batas antara mengekspresikan gaya hidup modern dan menjaga tata krama kerap kali menjadi kabur. Sebuah penelusuran sosial terbaru mengindikasikan bahwa sejumlah tindakan yang dipersepsikan sebagai perilaku "keren" atau trendi oleh sebagian orang, justru dinilai kurang sopan dan mengganggu kenyamanan publik oleh mayoritas masyarakat.

Fenomena ini memicu keprihatinan di kalangan ahli sosiologi dan komunikasi. Banyak individu, khususnya generasi muda di wilayah metropolitan, secara tidak sengaja mengadopsi gestur atau sikap tertentu yang niat awalnya untuk membangun citra percaya diri serta eksklusif, namun berakhir pada impresi keangkuhan dan kurangnya kepekaan empati terhadap lingkungan sekitarnya.

Pergeseran Persepsi Antara Gaya dan Tata Krama Sosial

Berdasarkan hasil survei persepsi publik yang melibatkan 1.200 responden di lima kota besar Indonesia, sebanyak 74% responden mengaku merasa risih terhadap gaya komunikasi yang mengedepankan kesan acuh tak acuh. Praktik-praktik yang semula dianggap sebagai penanda gaya hidup modern kini mengalami redefinisi norma di tengah masyarakat.

Beberapa kebiasaan yang paling sering dikategorikan sebagai tindakan yang mengganggu antara lain:

  • Tetap menggunakan earphone atau headphone nirkabel saat berinteraksi langsung dengan kasir, pengemudi, atau staf layanan publik.
  • Menggunakan kacamata hitam di dalam ruangan tertutup saat sedang melakukan percakapan tatap muka.
  • Menanggapi percakapan dengan nada acuh tak acuh atau berpura-pura sangat sibuk untuk menunjukkan dominasi sosial.
  • Melakukan aksi phubbing (bermain ponsel saat orang lain sedang berbicara) dengan dalih tuntutan pekerjaan yang tinggi.

Berikut adalah perbandingan antara anggapan pelaku perilaku "sok keren" dengan realita persepsi publik berdasarkan hasil riset lapangan:

Perilaku yang Dilakukan Persepsi Pelaku Persepsi Publik & Realita
Memakai Earphone Saat Berinteraksi Terlihat sibuk & profesional Dinilai 82% tidak menghargai lawan bicara
Menolak Mengucapkan Terima Kasih Terlihat tegas & stoik Dinilai 78% arogan dan tidak beretika
Phubbing (Main HP Saat Obrolan) Multitasking & serba penting Dinilai 89% merusak ikatan emosional

Dampak Psikologis dan Pandangan Pakar Sosiologi

Perkembangan tren ini tidak terlepas dari dorongan konten di media sosial yang kerap meromatisasi sifat dingin atau tidak peduli. Dr. Ratna Sari, M.Si., pakar sosiologi komunikasi dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kerancuan ini muncul akibat salah kaprah dalam mengartikan konsep kepercayaan diri.

"Menjadi keren bukan berarti harus mengorbankan empati. Ketika seseorang berpura-pura acuh tak acuh demi terlihat hebat, mereka sebenarnya sedang merusak ikatan sosial dasar yang membutuhkan rasa saling menghormati," ujar Dr. Ratna Sari.

Proses degradasi etika ini umumnya terjadi melalui urutan kronologis sebagai berikut dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Tahap Paparan Kultur: Individu secara terus-menerus mengonsumsi figur media sosial yang menampilkan citra stoik dan eksklusif.
  2. Tahap Peniruan Perilaku: Gestur acuh tak acuh dan kebiasaan mengabaikan sapaan mulai diterapkan dalam interaksi tatap muka sehari-hari.
  3. Tahap Resistensi Lingkungan: Lawan bicara atau publik mulai merasa tidak nyaman dan memberikan penilaian negatif terhadap etiket pelaku.
  4. Tahap Isolasi Sosial: Pelaku kehilangan rasa empati mendalam dan perlahan dihindari dalam lingkaran pergaulan yang sehat.

Rekomendasi Penataan Etiket Sosial Modern

Sebanyak 85% masyarakat yang disurvei menegaskan bahwa mereka jauh lebih menghormati individu yang memiliki kepercayaan diri tinggi namun tetap menunjukkan keluesan tata krama. Kehangatan dalam berinteraksi, seperti melepas earphone saat berbicara, memberikan kontak mata yang fokus, serta mengutarakan ucapan terima kasih secara tulus, merupakan indikator kematangan emosional yang sebenarnya.

Penataan kembali etika berinteraksi di ruang publik menjadi krusial agar modernitas gaya hidup tidak mengikis keadaban sosial. Pada akhirnya, kebiasaan yang benar-benar dinilai bermartabat adalah kebiasaan yang memanusiakan manusia lain dalam setiap interaksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User