Jakarta — Hujan Bom Puluhan Tahun Silam Masih Hantui Warga Laos
Thong Phet, seorang biksu muda berusia 18 tahun di Provinsi Xiangkhouang, Laos timur laut, tidak pernah menyangka bahwa aktivitas rutinnya di ladang akan m
Thong Phet, seorang biksu muda berusia 18 tahun di Provinsi Xiangkhouang, Laos timur laut, tidak pernah menyangka bahwa aktivitas rutinnya di ladang akan mengubah hidupnya selamanya. Pada suatu hari di tahun 1973, ayunan parangnya secara tidak sengaja mengenai bom sisa perang yang terkubur di tanah. Ledakan keras langsung terjadi. “Seorang teman membawaku ke rumah sakit. Aku tetap sadar sepanjang waktu. Mereka harus mengamputasi lengan kiriku di bawah siku, dan tangan kananku juga terluka parah,” kenangnya dalam wawancara dengan DW. Hingga kini, bertahun-tahun setelah kejadian itu, petugas dari Program Nasional Laos untuk Penanganan Bahan Peledak yang Belum Meledak (UXO Lao) masih secara sistematis menyisir ladang milik Thong Phet di pinggiran desa Ban Napia, mencari bom-bom yang tetap terkubur puluhan tahun sejak konflik berakhir.
Kronologi Kecelakaan Tragis di Ban Napia
- 1973, Provinsi Xiangkhouang — Thong Phet (18) bekerja di ladangnya di desa Ban Napia, sekitar 100 kilometer barat perbatasan Vietnam. Wilayah ini sedang dicekam suasana mencekam akibat eskalasi Perang Vietnam.
- Insiden — Saat menebas dengan parang, mata parangnya membentur sebuah bom sisa perang yang terkubur di dalam tanah.
- Ledakan — Bom meledak seketika, mengakibatkan cedera parah pada tangan kanan dan lengan kiri Thong Phet.
- Evakuasi — Seorang teman segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
- Amputasi — Tim medis terpaksa mengamputasi lengan kiri Thong Phet di bawah siku. Tangan kanannya juga menderita luka serius.
- Dampak jangka panjang — Thong Phet hidup dengan disabilitas permanen akibat ledakan tersebut.
Perang Vietnam dan Bom yang Menghujani Laos
Meskipun Laos tidak secara resmi terlibat dalam Perang Vietnam—konflik antara pemberontak komunis di Vietnam utara melawan pasukan Amerika Serikat di selatan—negara pegunungan itu justru menjadi salah satu wilayah yang paling menderita. Laos digunakan sebagai jalur logistik oleh pasukan pemberontak untuk memindahkan senjata dan perbekalan dari Vietnam Utara ke Vietnam Selatan melalui Jalur Ho Chi Minh. Untuk memutus jalur suplai ini, angkatan udara Amerika Serikat melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran di Laos, yang berlangsung dari 1964 hingga 1973.
Data penting: Lebih dari 270 juta bom klaster dijatuhkan di Laos selama periode tersebut, menjadikannya negara yang paling banyak dibom per kapita dalam sejarah dunia. Sekitar 80 juta bom di antaranya gagal meledak saat benturan dan tetap aktif di dalam tanah. Sejak akhir perang, lebih dari 20.000 orang di Laos telah menjadi korban ledakan bom yang belum meledak (UXO), dengan banyak kasus mengakibatkan kematian atau cacat permanen. Hingga kini, rata-rata puluhan warga masih mengalami cedera setiap tahun akibat kecelakaan serupa dengan yang dialami Thong Phet.
Pembersihan Ladang yang Tak Kunjung Usai
Tim ahli dari UXO Lao bekerja di lapangan dengan menggunakan detektor logam dan peralatan khusus untuk mengidentifikasi dan menjinakkan bom-bom yang terkubur. Mereka menyisir ladang demi ladang, termasuk lahan milik Thong Phet yang telah menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Namun, skala kontaminasi sangat masif. Diperkirakan baru sedikit persen dari total area terkontaminasi yang berhasil dibersihkan. Dengan laju pembersihan saat ini, para ahli memprediksi bahwa diperlukan waktu puluhan hingga seratus tahun lagi untuk benar-benar membersihkan Laos dari ancaman bom sisa perang.
Korban seperti Thong Phet adalah pengingat nyata bahwa meskipun perang telah usai hampir setengah abad lalu, warisan mematikannya masih menghantui kehidupan sehari-hari warga Laos, terutama mereka yang hidup di kawasan pertanian yang menggantungkan hidup dari mengolah tanah.
Comments (0)