JAKARTA, Apaberita.com — Gelombang kenaikan harga bahan baku kembali menghantam sektor industri pengolahan pangan mikro di ibu kota. Di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, para perajin tahu kini terdesak akibat kenaikan harga kedelai impor yang melonjak tajam di tingkat pedagang pasar tradisional pada Selasa (14/4/2026). Kenaikan ini memaksa para pelaku usaha memutar otak agar operasional produksi tetap berjalan meski margin keuntungan terus terkikis.
Berdasarkan pantauan langsung di pasar tradisional, harga kedelai yang sebelumnya berada pada kisaran Rp13.000 hingga Rp18.000 per kilogram, kini merangkak naik hingga mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Lonjakan harga sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram ini dirasakan sangat memberatkan, mengingat kedelai merupakan komponen biaya operasional utama yang menyerap lebih dari 70 persen total anggaran produksi tahu.
Analisis Kenaikan Harga Kedelai dan Beban Biaya Produksi
Kenaikan harga kedelai secara signifikan memicu ketidakseimbangan pada neraca keuangan pabrik tahu rumahan. Dampak lonjakan bahan baku utama ini memicu pembengkakan persentase biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual akhir di tingkat konsumen.
| Indikator Bahan Baku | Harga Lama (per kg) | Harga Baru (per kg) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Kedelai Pasar Tradisional (Terendah) | Rp13.000 | Rp15.000 | 15,38% |
| Kedelai Pasar Tradisional (Tertinggi) | Rp18.000 | Rp20.000 | 11,11% |
| Porsi Biaya Baku terhadap Total Produksi | ~65% | ~78% | +13,00% |
Kondisi ini menempatkan produsen pada posisi yang serba salah. "Kondisi saat ini membuat kami berada di posisi dilematis. Jika harga tahu dinaikkan secara mendadak, daya beli masyarakat yang belum pulih bisa terguncang dan pembeli berpotensi beralih. Namun jika harga ditahan, kami menanggung kerugian operasional," ujar salah seorang perwakilan perajin lokal.
Strategi Penyesuaian Para Perajin Tahu Duren Tiga
Untuk menyikapi tekanan biaya bahan baku yang terus membumbung tinggi, para perajin di sentra produksi tahu Duren Tiga menempuh beberapa langkah taktis guna mempertahankan keberlangsungan usaha mereka:
- Penyesuaian Ukuran Produk: Memotong ketebalan serta dimensi tahu beberapa milimeter tanpa mengubah nominal harga jual eceran agar tidak memicu resistensi konsumen.
- Pengurangan Volume Produksi: Membatasi pengolahan kedelai harian hingga 20 persen dari kapasitas normal guna meminimalisasi risiko penumpukan stok yang tak terjual.
- Efisiensi Operasional: Mengatur ulang jam kerja produksi guna menghemat pemakaian bahan bakar serta daya listrik harian.
"Kami tidak punya banyak pilihan selain mengurangi ukuran potongan tahu. Ini cara paling realistis dibanding menaikkan harga jual yang bisa membuat kami kehilangan pelanggan setia," ungkap seorang perajin di sentra Duren Tiga.
Desakan Intervensi Pasar dan Peran Pemerintah
Merespons dinamika tersebut, pengamat ekonomi pertanian menilai perlunya langkah taktis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan pangan skala mikro. "Pemerintah perlu segera melakukan operasi pasar dan membenahi rantai pasok impor. Tanpa adanya subsidi distribusi atau intervensi harga di tingkat distributor utama, ratusan perajin tahu dan tempe skala rumah tangga terancam gulung tikar dalam beberapa pekan ke depan," tegasnya.
Para perajin kini menggantungkan harapan pada kebijakan penstabilan harga dari Kementerian Perdagangan dan dinas terkait. Langkah konkrit ditunggu agar harga kedelai dapat kembali menembus angka wajar demi memelihara kelangsungan industri tahu tradisional yang menjadi tumpuan gizi masyarakat luas.
Comments (0)